Solusi Instan Kedelai

Kompas.com - 26/07/2012, 05:32 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah memfasilitasi impor kedelai dan membebaskan bea masuk komoditas itu hingga akhir tahun. Untuk itu, harga kedelai seharusnya segera turun. Namun, cara ini dikritik karena merupakan solusi instan. Produksi kedelai dalam negeri harus ditingkatkan.

Pemerintah mengambil kebijakan memfasilitasi dan memberikan keleluasaan kepada koperasi serta perajin tahu dan tempe untuk melakukan impor langsung. Pemerintah juga menerapkan pembebasan bea masuk impor kedelai hingga akhir tahun ini. Kebijakan itu diharapkan bisa mengatasi kelangkaan dan kenaikan harga kedelai saat ini.

Keputusan pemerintah itu diambil dalam Rapat Koordinasi Pangan yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Rabu (25/7).

Kelangkaan dan harga kedelai yang melonjak mendorong aksi protes dan mogok produksi perajin tahu dan tempe di sejumlah kota kemarin. Sejumlah perajin yang tak ikut mogok bahkan dipaksa menutup kegiatan produksi mereka.

Mogok produksi tempe dan tahu secara serentak di Indonesia merupakan bentuk penyampaian aspirasi terkait melambungnya harga kedelai di pasaran. Menurut beberapa perajin tahu Cibuntu, Kota Bandung, Jawa Barat, baik pemerintah maupun masyarakat harus tahu, selama ini usaha tempe dan tahu berjalan kembang kempis dengan hasil yang tidak sebanding dengan usaha yang dilakukan.

Melihat kondisi tersebut, pemerintah mencoba memberikan solusi. ”Kami memutuskan memfasilitasi dan memberikan keleluasaan kepada koperasi, perajin tahu dan tempe, untuk melakukan impor langsung, serta akan difasilitasi Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, serta Kementerian Perindustrian,” kata Hatta sesaat sebelum rapat kabinet terbatas di Kejaksaan Agung.

”Kedua, kami membebaskan bea masuk kedelai yang 5 persen sampai akhir tahun. Hal itu dilakukan dengan pengawasan ketat oleh Kementerian Perdagangan serta Bea dan Cukai,” lanjutnya.

Dengan kebijakan itu, menurut Hatta, diharapkan harga kedelai dapat turun, sedikitnya sama dengan persentase pengurangan bea masuk 5 persen.

”Kita mengharapkan harga kedelai dapat lebih turun lagi. Kementerian Perdagangan sudah berbicara kepada para pengimpor kedelai untuk tidak terlalu mengambil keuntungan yang tinggi dalam situasi kedelai dunia sedang mengalami persoalan karena kekeringan,” katanya.

Di sejumlah pasar wilayah Jakarta, perajin tahu dan tempe melakukan mogok produksi. Mereka tak berproduksi untuk menarik perhatian pemerintah. Mereka melakukan razia terhadap perajin dan juga pedagang tempe dan tahu.

Akibatnya, tahu dan tempe menjadi langka. Di beberapa pasar di Jakarta terjadi keributan karena pedagang tak dapat menerima tindakan perajin yang melarang mereka berjualan tempe dan tahu.

Hanya sementara

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan, penghapusan bea masuk kedelai tersebut diusulkan untuk dilaksanakan per 1 Agustus mendatang sampai akhir Desember 2012. ”Jadi, sifatnya hanya sementara untuk mengantisipasi kenaikan harga internasional agar tidak berdampak serius bagi perajin tempe dan tahu,” katanya.

Kementerian Perdagangan akan berkoordinasi dengan importir dan Koperasi Perajin Tahu Tempe Indonesia (Kopti) agar tujuan penghapusan bea masuk tercapai.

Seusai rapat, Menteri Pertanian Suswono mengatakan, persoalan kedelai cenderung akan berulang selagi Indonesia tidak melakukan swasembada. Saat ini ada sekitar 600.000 hektar lahan kedelai. Itu pun pola tanamnya diselang-seling dengan jagung. Acuan petani, komoditas yang lebih menguntungkan adalah yang ditanam. Untuk musim tanam kali ini yang menguntungkan adalah jagung.

Guna swasembada, Suswono menyatakan, butuh tambahan lahan minimal 500.000 hektar. Namun, dengan produktivitas 1,5 ton per hektar, idealnya dibutuhkan lahan 1,5 juta hektar untuk kedelai.

”Di Badan Pertanahan Nasional sebetulnya ada potensi lahan 7,2 juta hektar, tetapi faktanya untuk diambil 500.000 hektar saja sulit. Yang baru clean and clear hanya 13.000 hektar. Bayangkan, 13.000 hektar dari 7,2 juta hektar,” kata Suswono.

Sekretaris Paguyuban Sumber Rejeki penghasil tempe di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Suradi Cokro Ismoyo berharap, pemerintah mau mendorong petani agar bersemangat tanam kedelai, misalnya dengan bantuan atau subsidi sehingga kebutuhan kedelai dapat dipenuhi dari produksi lokal.

Solusi intan

Menurut pengamat ekonomi Universitas Gadjah Mada, Revrisond Baswir, persoalan pasokan kedelai sudah sering terjadi dan pemerintah selalu menempuh solusi instan. ”Solusinya selalu instan. Pemerintah tidak mengantisipasi dengan baik. Seharusnya bisa lebih fokus pada upaya menggenjot produksi kedelai dalam negeri,” katanya.

Membebaskan bea masuk, lanjutnya, hanyalah upaya mempermudah pasokan. Namun, Indonesia tetap bergantung pada kedelai impor. Dampak pembebasan bea masuk terhadap harga kedelai impor juga relatif kecil.

Ketua Komisi IV DPR M Romahurmuziy menuturkan, DPR telah beberapa kali meminta pemerintah memperlakukan kedelai sebagai produk yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Dengan demikian, produksi dan perdagangan kedelai tidak diserahkan ke mekanisme pasar, tetapi dengan tata niaga yang dibuat pemerintah.

”Dengan adanya tata niaga, pemerintah tidak hanya dapat mengatur dari negara mana kedelai diimpor, tetapi juga dapat memberikan perlindungan lebih maksimal kepada petani nasional sehingga mereka lebih bersemangat menanam kedelai. Selama ini, petani enggan menanam kedelai karena harga kedelai impor lebih murah,” kata Romahurmuziy di Jakarta.

(WHO/HEN/UTI/EGI/WIE/SIR/PRA/MKN/EKI/ETA/ACI/CHE/HEI/NIT/ELD/JOS/ART/NDY/BRO/win/NWO/APO/WHY/ATO/LAS/ENY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau