Perajin Minta Bulog Tangani Kedelai

Kompas.com - 26/07/2012, 13:14 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com — Perajin yang juga pengurus Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia meminta pemerintah jangan hanya berwacana soal swasembada kedelai. Sebaiknya kedelai dikelola tata niaganya dan diserahkan kepada Bulog.

"Sebaiknya Bulog yang menangani perdagangan kedelai supaya perajin juga ikut merasakan subsidi serta jaminan ketersediaan kedelai dengan harga terkendali, " kata Rifai, Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Kabupaten Kendal, dalam pertemuan dengan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dikoordinasi Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah Ihwan Sudrajat, Kamis (26/7/2012), di Semarang, Jateng.

Rifai mengatakan, kenaikan harga kedelai ini hanya dinikmati importir. Kenaikan harga kedelai yang mencapai Rp 8.000 per kilogram hanya menyebabkan perajin tahu dan tempe dengan kapasitas produksi di bawah 50 kilogram per hari gulung tikar.

Ihwan Sudrajat mengatakan, kedelai masih bergantung pada impor dari AS. Jateng yang memiliki potensi pertanian kedelai sulit memenuhi kebutuhan kedelai dalam waktu dekat ini. Solusinya, tata niaga kedelai bisa diatur. Hanya saja, apakah Bulog diberi kewenangan untuk melakukan impor kedelai bersama Primkopti.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau