BANDUNG, KOMPAS.com — Melonjaknya harga kedelai yang memicu mogok produksi perajin tempe dan tahu seluruh Indonesia diyakini tidak berimbas ke sektor perunggasan. Pasalnya, salah satu komponen pakan unggas adalah bungkil kedelai yang merupakan sisa produksi dari minyak kedelai.
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Koesmayadie Tatang Padmadinata menjelaskan, bungkil kedelai saat ini didatangkan ke Indonesia melalui impor karena belum ada perusahaan pengolah kedelai yang menghasilkan produk sampingan berupa bungkil kedelai.
"Dengan kenaikan harga kedelai, saya yakin tidak terlalu berimbas pada harga pakan mengingat penggunaan bungkil kedelai tidak sampai 5 persen," ujar Koesmayadie, Kamis (26/7/2012), di Bandung, Jawa Barat.
Harga kedelai dalam beberapa hari terakhir menembus angka Rp 7.800 per kg dan bisa lebih di daerah di luar Bandung.
Kondisi itu memicu mogok produksi yang dilancarkan perajin tahu yang tergabung dalam Pusat Koperasi Perajin Tempe Tahu Indonesia selama tiga hari. Pada hari pertama mogok, disepakati penghilangan bea masuk impor kedelai untuk menekan harga jual kedelai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang