Banjir selama sepekan yang disebabkan oleh angin topan dan hujan terus-menerus telah menyebabkan kehilangan nyawa manusia dan kerugian dalam jumlah besar. Demikian tulis kantor berita resmi Pemerintah Korut, KCNA, Sabtu (28/7).
Jumlah korban tewas ini meningkat dramatis hingga 11 kali lipat dari dari jumlah yang disampaikan pada Rabu pekan lalu, yakni delapan orang.
Sebanyak 134 orang lain mengalami cedera akibat banjir yang dimulai pada 18 Juli lalu. Ribuan rumah hanyut atau rusak diterjang banjir. Lebih dari 63.000 orang kehilangan tempat tinggal.
Menurut KCNA, korban terbanyak berasal dari dua kabupaten di provinsi South Pyongan. Kedua kabupaten itu dilanda hujan deras selama dua hari pada awal pekan lalu.
Lebih dari 30.000 hektar ladang yang telah ditanami diberitakan terkubur lumpur, terendam, atau tersapu banjir. Hal ini menjadi pukulan baru bagi Korut yang terus-menerus dilanda krisis kekurangan pangan.
KCNA menambahkan, banjir juga merusak sekitar 300 bangunan pemerintah dan 60 pabrik. Jalan menuju wilayah tersebut juga rusak karena terendam dalam waktu lama.
Sebelumnya, yang dilaporkan media pemerintah dari banjir itu adalah penyelamatan 60 orang yang terjebak banjir oleh helikopter. Helikopter itu disebut dikirim oleh pemimpin Korut Kim Jong Un. Warga yang terjebak banjir, termasuk perempuan dan anak-anak, tinggal di perbukitan barat daya negeri itu.
Banjir menjadi ancaman rutin bagi Korut setelah penebangan hutan besar-besaran yang tidak dikendalikan selama puluhan tahun. Puluhan orang diberitakan tewas saat angin kencang dan hujan deras melanda wilayah itu pada Juni-Juli 2011. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan puluhan ribu hektar ladang terendam banjir.
Dengan kondisi tanah berbatu dan praktik bertanam yang masih tradisional, Korut menghadapi kesulitan besar untuk menyediakan kebutuhan pangan bagi penduduk yang berjumlah sekitar 24 juta jiwa. Saat terjadi bencana kelaparan di pertengahan dekade 1990-an, diperkirakan ratusan ribu orang tewas di negeri yang tertutup rapat bagi dunia luar itu.
Tanpa perlu dilanda banjir pun, Korut sudah mengalami krisis pangan. Sistem distribusi pangan yang tidak berfungsi, inflasi yang melambung tinggi, dan sanksi internasional akibat program pengembangan nuklir dan rudal Korut menjadi penyebab utama.
Perwakilan badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengunjungi negeri itu pada November 2011 memperkirakan, sekitar tiga juta penduduk Korut membutuhkan bantuan pangan pada tahun ini.
Krisis pangan ini sebenarnya mendapat jalan keluar ketika Pemerintah Korut pada 29 Februari lalu bersepakat dengan Amerika Serikat (AS) yang akan memberikan bantuan pangan sebanyak 240.000 ton.
Namun, AS menunda bantuan itu setelah Korut ngotot menggelar uji coba roket pada April lalu. Uji coba itu gagal dan Korut kemudian membatalkan kesepakatan dengan AS. Sikap keras Korut meneruskan program pengembangan nuklir membuat mereka terus mendapat sanksi. Mereka telah dua kali mengadakan uji coba nuklir pada 2006 dan 2009.