Krisis Pangan Korut Memburuk

Kompas.com - 30/07/2012, 02:32 WIB

Pyongyang, Minggu - Krisis pangan di Korea Utara terancam memburuk setelah badai yang menyebabkan banjir menghantam wilayah miskin di negeri itu. Pemerintah Korut akhir pekan lalu mengumumkan, banjir itu menyebabkan sedikitnya 88 orang tewas dan ribuan hektar ladang hancur.

Banjir selama sepekan yang disebabkan oleh angin topan dan hujan terus-menerus telah menyebabkan kehilangan nyawa manusia dan kerugian dalam jumlah besar. Demikian tulis kantor berita resmi Pemerintah Korut, KCNA, Sabtu (28/7).

Jumlah korban tewas ini meningkat dramatis hingga 11 kali lipat dari dari jumlah yang disampaikan pada Rabu pekan lalu, yakni delapan orang.

Sebanyak 134 orang lain mengalami cedera akibat banjir yang dimulai pada 18 Juli lalu. Ribuan rumah hanyut atau rusak diterjang banjir. Lebih dari 63.000 orang kehilangan tempat tinggal.

Menurut KCNA, korban terbanyak berasal dari dua kabupaten di provinsi South Pyongan. Kedua kabupaten itu dilanda hujan deras selama dua hari pada awal pekan lalu.

Lebih dari 30.000 hektar ladang yang telah ditanami diberitakan terkubur lumpur, terendam, atau tersapu banjir. Hal ini menjadi pukulan baru bagi Korut yang terus-menerus dilanda krisis kekurangan pangan.

KCNA menambahkan, banjir juga merusak sekitar 300 bangunan pemerintah dan 60 pabrik. Jalan menuju wilayah tersebut juga rusak karena terendam dalam waktu lama.

Sebelumnya, yang dilaporkan media pemerintah dari banjir itu adalah penyelamatan 60 orang yang terjebak banjir oleh helikopter. Helikopter itu disebut dikirim oleh pemimpin Korut Kim Jong Un. Warga yang terjebak banjir, termasuk perempuan dan anak-anak, tinggal di perbukitan barat daya negeri itu.

Banjir menjadi ancaman rutin bagi Korut setelah penebangan hutan besar-besaran yang tidak dikendalikan selama puluhan tahun. Puluhan orang diberitakan tewas saat angin kencang dan hujan deras melanda wilayah itu pada Juni-Juli 2011. Ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan puluhan ribu hektar ladang terendam banjir.

Kesulitan

Dengan kondisi tanah berbatu dan praktik bertanam yang masih tradisional, Korut menghadapi kesulitan besar untuk menyediakan kebutuhan pangan bagi penduduk yang berjumlah sekitar 24 juta jiwa. Saat terjadi bencana kelaparan di pertengahan dekade 1990-an, diperkirakan ratusan ribu orang tewas di negeri yang tertutup rapat bagi dunia luar itu.

Tanpa perlu dilanda banjir pun, Korut sudah mengalami krisis pangan. Sistem distribusi pangan yang tidak berfungsi, inflasi yang melambung tinggi, dan sanksi internasional akibat program pengembangan nuklir dan rudal Korut menjadi penyebab utama.

Perwakilan badan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengunjungi negeri itu pada November 2011 memperkirakan, sekitar tiga juta penduduk Korut membutuhkan bantuan pangan pada tahun ini.

Krisis pangan ini sebenarnya mendapat jalan keluar ketika Pemerintah Korut pada 29 Februari lalu bersepakat dengan Amerika Serikat (AS) yang akan memberikan bantuan pangan sebanyak 240.000 ton.

Namun, AS menunda bantuan itu setelah Korut ngotot menggelar uji coba roket pada April lalu. Uji coba itu gagal dan Korut kemudian membatalkan kesepakatan dengan AS. Sikap keras Korut meneruskan program pengembangan nuklir membuat mereka terus mendapat sanksi. Mereka telah dua kali mengadakan uji coba nuklir pada 2006 dan 2009. (Reuters/afp/was)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau