Eko yuli irawan

Gantungkanlah Target Setinggi-tingginya

Kompas.com - 03/08/2012, 02:28 WIB

Oleh Yunas Santhani Aziz

Di Olimpiade Beijing 2008, Eko Yuli Irawan hadir sebagai peraih medali pertama kontingen Indonesia. Dia merebut perunggu angkat besi kelas 56 kilogram. Itu medali olimpiade pertama yang diraih lifter putra Indonesia sejak Thio Ging Hwie tampil sebagai satu dari tiga olimpian Indonesia perdana di Helsinki 1952.

Eko juga meneruskan tradisi medali olimpiade Indonesia di cabang angkat besi, sejak lifter putri Raema Lisa Rumbewas mengantongi perak di Olimpiade Sydney 2000.

Sehari kemudian, rekan masa kecilnya yang hingga kini tetap menjadi sahabat satu sasana, Triyatno, menambah sekeping perunggu kelas 62 kg putra bagi Merah Putih.

Empat tahun setelah Beijing, di Olimpiade London 2012, awal pekan ini, kembali duo lifter kelahiran Metro, Lampung, yang kini warga Kalimantan Timur tersebut menjadi pilar utama angkat besi Indonesia. Eko lagi-lagi sebagai pembuka medali kontingen Indonesia dengan meraih perunggu, sementara Triyatno perak. Bedanya, keduanya naik kelas. Eko di 62 kg dan Triyatno di kelas 69 kg.

”Dua medali itu sama perunggunya, tetapi perebutan di Olimpiade London jauh lebih berat ketimbang di Beijing,” ujar Eko di London.

Terlebih lagi persiapan ke London terbilang singkat. Dia hanya dua bulan berlatih intensif, yakni saat di Beijing dan di Seoul sebagai persiapan ke London. Itu sebabnya Eko deg-degan karena persiapan lawan sangat bagus, lama, dan konsisten.

Jantungnya berdegup kencang dan wajahnya memucat menjelang akhir perebutan babak clean and jerk, terutama ketika Zhang Jie (China) dan Oscar Alberiro Figueroa Mosquera (Kolombia) naik ke panggung dan berupaya mengangkat barbel dalam kesempatan terakhir.

Ada kebanggaan tersendiri menyaksikan Eko Yuli Irawan. Bahkan, kebanggaan itu meluap sebelum kompetisi angkat besi kelas 62 kilogram di ExCeL Center, London, Senin lalu. Pada cabang yang mengusung moto ketiga olimpiade, fortius (lebih kuat), itu, ada tradisi memperkenalkan semu kontestan kepada penonton sebelum mereka berlaga. Berjalan ke atas panggung bersama semua lifter yang menjadi seterunya, Eko tampil tegap, dagu tegak, senyum mengembang, sorot mata menatap ke depan.

Eko yang sama seperti itu juga hadir ketika tidak sedang berlomba, di luar arena. Ketika diwawancarai wartawan, ketika para penonton menarik-narik mengajak foto bersama, atau tatkala sukarelawan London 2012 mengajaknya berbincang, Eko tetaplah Eko yang tersenyum. Matanya selalu menatap, menyimak ekspresi lawan bicaranya.

Dia orang yang sangat ramah, sekaligus memiliki kepercayaan diri yang besar. Banyak atlet Indonesia ramah, tetapi sulit mengungkapkan buah pikiran mereka secara runtut. Eko sebaliknya, piawai bergaul dan cekatan menjawab pertanyaan. Semua dengan iringan senyum dan dengan sorot mata bersahabat.

Betapa Eko yang kelahiran Desa Tejosari, Lampung, 23 tahun silam itu telah bermetamorfosis dari anak yang sederhana menjadi manusia unggul. Dia bukan berasal dari keluarga berada. Ayahnya, Saman, adalah seorang pengayuh becak. Ibunya membantu penghasilan keluarga dengan menjual sayuran. Saat latar belakang keluarganya itu dikonfirmasi, tiada kesan malu pada diri Eko.

”Ya, betul itu,” jawabnya mantap.

Eko kerap menghabiskan masa kecilnya dengan mengangon kambing. Atas jasanya, pemilik kambing mengupah Eko Rp 7.000 per pekan.

Kebersahajaan hidup membangun ketekunan. Dia menuturkan, menjadi pengangon kambing membuat dia belajar bertanggung jawab. ”Jika ada kambing yang hilang, saya harus membayarnya. Kami keluarga miskin, jadi kami harus tekun dan cermat dalam bekerja,” katanya.

Ketika usianya belum lagi 11 tahun, pada tahun yang sama dengan Lisa meraih perak Olimpiade Sydney 2000, Eko diajak teman-teman sepermainannya menonton atlet angkat besi berlatih di sasana milik Yon Paryono, mantan lifter nasional. Dasar anak-anak, Eko tidak sekadar menonton, tetapi berlari ke sana-sini, karena ingin melihat peralatan latihan lebih dekat hingga menyentuhnya. Alhasil, dia pun diusir.

Beberapa waktu kemudian, sejumlah temannya kembali mengajak Eko ke sasana itu. Tidak untuk sekadar menonton, tetapi juga berlatih. ”Modalnya hanya sepatu keds dan celana pendek,” kata Eko mengenang.

Enam bulan berlatih di Metro, Yon dan Lukman memindahkan Eko dan Triyatno berlatih ke Parung Panjang, Bogor, yang memiliki fasilitas latihan lebih lengkap.

Singkat cerita, memotong kisah perjalanan Eko yang panjang, Eko pun memanen prestasi demi prestasi. Pada 2006, kala berusia 17 tahun, pertama kali Eko mencicipi kompetisi internasional. Eko pun menyapu emas setiap kali berlaga di SEA Games, yaitu pada 2007, 2009, dan 2011.

Gelar juara dunia yunior dia sandang pada 2009. Pada tahun yang sama pula Eko menjadi runner-up kelas 56 kg Kejuaraan Dunia senior. Prestasi di Kejuaraan Dunia relatif naik turun bagi Eko, tetapi pencapaiannya tidak buruk.

Tahun 2010 dia bercokol di urutan keempat dan setahun kemudian di urutan ketiga. Eko memanfaatkan banyak hadiah dan bonus kejuaraan untuk membantu orangtuanya. Dia membelikan mereka sawah, tanah, dan warung.

”Apa yang saya capai sekarang ini tidak mudah. Saya merasakan betapa berat dan panjang latihan yang harus saya jalani,” kata Eko. Saat bertanding di London pun, Eko masih menyisakan cedera retak tulang kaki yang dia derita dalam latihan, pengujung tahun silam.

Namun, perunggu olimpiade keduanya menjadi oleh-oleh manis bagi sang istri tercinta, Masitah, yang menunggunya di kediaman mereka di Kalimantan Timur. Masitah sedang mengandung. ”Kira-kira dua pekan lagi istri saya akan melahirkan,” kata Eko yang juga bekerja sebagai pegawai negeri di Pemprov Kaltim.

Membahagiakan orangtua, menanti anak yang lahir, berprestasi dunia. Betapa lengkap hidup Eko. Apalagi, namanya pun terukir sebagai olimpian berprestasi. Dia bersyukur, dalam kondisi kaki sakit pun mampu mempersembahkan medali.

”Jangan setengah-setengah. Dari dulu saya selalu mematok target. Saya menetapkan target prestasi yang lebih tinggi dari waktu ke waktu. Kalau melakukan sesuatu untuk coba-coba, sayang. Itu membuang waktu,” ujar Eko membuka rahasia suksesnya.

Gantungkan target setinggi-tingginya dan gapailah. Agaknya, itu bukan hanya berlaku di angkat besi. (HLN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau