Di luar lapangan

Pameran Olimpiade 2012, Memperkaya Batin

Kompas.com - 03/08/2012, 03:10 WIB

Festival London 2012 makin lengkap dengan gelaran ekshibisi tentang olimpiade di dua landmark besar dan masyhur di London, British Museum dan Royal Opera House. Ekshibisi di dua museum ini mengajak pengunjung berpetualang menyusuri waktu, sejak olimpiade pertama di Yunani, 3.000 tahun lalu, hingga 2012.

Ekshibisi juga diadakan di Tate Britain, museum di sisi Sungai Thames. Direktur Tate Britain Nicholas Serota menggandeng 12 seniman Inggris untuk mendesain poster dan dipamerkan di sini. Pameran lain dihelat di National Portrait Gallery, yang memajang foto-foto para tokoh yang berada di balik layar olimpiade dan para atlet.

Ekshibisi di Royal Opera House mulai 28 Juli hingga 12 Agustus 2012 menyuguhkan diorama sejarah olimpiade melalui layar di guci raksasa. Pengunjung berdiri melingkari guci, menonton film siluet sederhana soal bagaimana orang Yunani kuno mempersiapkan perlombaan dengan doa-doa dan sesajian.

Kendati sederhana, film di layar guci itu memudahkan pengunjung memahami prosesi olimpiade kuno.

Pengunjung dilarang memotret di dalam arena pameran, dengan telepon seluler sekalipun. Seorang pengunjung langsung ditegur karena nekat memotret. ”Maaf, ini karena semua yang dipamerkan di sini kami pinjam dari Museum Olimpiade di Swiss. Semua yang di sini asli, termasuk obor olimpiade dari masa ke masa. Jadi, kami minta jangan memotret,” kata Hannah Gill, pemandu pameran.

Royal Opera House juga memamerkan medali-medali sejak Olimpiade Athena 1896 hingga London 2012. Semua medali ini koleksi Museum Olimpiade di Lausanne, Swiss. Medali-medali ini, yang juga dipamerkan di British Museum, menarik minat pengunjung. Orang berkerumun mencermati medali-medali itu.

Kisah olimpian

Di sudut lain dipamerkan rekaman video mengenai kisah hidup para olimpian, plus ketika mereka bertanding di olimpiade. Beberapa peralatan olahraga yang dipakai juga dipajang.

Pengunjung terkesima menyaksikan rekaman petenis putri dari Inggris, Charlotte Cooper, pada Olimpiade Paris 1900. Film hitam-putih itu memperlihatkan betapa anggunnya permainan tenis, karena para petenis putri masih mengenakan rok panjang dengan rambut disanggul. Cooper meraih dua emas untuk nomor perseorangan dan ganda campuran. Ia menjadi petenis putri pertama peraih emas. Raket kayu lucu itu juga dipajang.

Dipamerkan pula jaket dan sepatu yang dipakai pelari Nawal El Moutawakel dari Maroko, peraih emas 400 meter lari gawang di Los Angeles 1984. Ada juga sepatu pelari asal Australia Cathy Freeman, peraih emas nomor 400 meter di Sidney 2004.

Kisah hidup para olimpian besar ini sangat menyentuh.

Kisah persahabatan pelari AS, Jesse Owens, dengan karibnya asal Jerman, Luz Long, juga digambarkan dengan indah, plus musik yang menyentuh. Pada Olimpiade Berlin 1936, Owens meraih emas loncat jauh dengan lompatan 8,06 meter, Long meraih perak. Hasil gemilang Owens ini tak luput dari nasihat dan dukungan Long, rival sekaligus karib yang pertama menjabat tangannya.

Sebelum meninggal, Long menulis surat untuk Owens, ”Saya merasa ini surat terakhirku. Tolong pergilah ke Jerman, tengok anak lelakiku, katakan padanya, siapa bapaknya... Katakan padanya, betapa segala sesuatu bisa terjadi antara sesama manusia di atas bumi ini”.

Menonton pameran tentang olimpian dan olimpiade tidak hanya melengkapi pengetahuan, tapi juga memperkaya batin. Maka, jangan heran kalau melihat pengunjung menitikkan air mata saat keluar dari museum.

(SUSI IVVATY, dari London, Inggris)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau