Festival London 2012 makin lengkap dengan gelaran ekshibisi tentang olimpiade di dua landmark
Ekshibisi juga diadakan di Tate Britain, museum di sisi Sungai Thames. Direktur Tate Britain Nicholas Serota menggandeng 12 seniman Inggris untuk mendesain poster dan dipamerkan di sini. Pameran lain dihelat di National Portrait Gallery, yang memajang foto-foto para tokoh yang berada di balik layar olimpiade dan para atlet.
Ekshibisi di Royal Opera House mulai 28 Juli hingga 12 Agustus 2012 menyuguhkan diorama sejarah olimpiade melalui layar di guci raksasa. Pengunjung berdiri melingkari guci, menonton film siluet sederhana soal bagaimana orang Yunani kuno mempersiapkan perlombaan dengan doa-doa dan sesajian.
Kendati sederhana, film di layar guci itu memudahkan pengunjung memahami prosesi olimpiade kuno.
Pengunjung dilarang memotret di dalam arena pameran, dengan telepon seluler sekalipun. Seorang pengunjung langsung ditegur karena nekat memotret. ”Maaf, ini karena semua yang dipamerkan di sini kami pinjam dari Museum Olimpiade di Swiss. Semua yang di sini asli, termasuk obor olimpiade dari masa ke masa. Jadi, kami minta jangan memotret,” kata Hannah Gill, pemandu pameran.
Royal Opera House juga memamerkan medali-medali sejak Olimpiade Athena 1896 hingga London 2012. Semua medali ini koleksi Museum Olimpiade di Lausanne, Swiss. Medali-medali ini, yang juga dipamerkan di British Museum, menarik
Di sudut lain dipamerkan rekaman video mengenai kisah hidup para olimpian, plus ketika mereka bertanding di olimpiade. Beberapa peralatan olahraga yang dipakai juga dipajang.
Pengunjung terkesima menyaksikan rekaman petenis putri dari Inggris, Charlotte Cooper, pada Olimpiade Paris 1900. Film hitam-putih itu memperlihatkan betapa anggunnya permainan tenis, karena para petenis putri masih mengenakan rok panjang dengan rambut disanggul. Cooper meraih dua emas untuk nomor perseorangan dan ganda campuran. Ia menjadi petenis putri pertama peraih emas. Raket kayu lucu itu juga dipajang.
Dipamerkan pula jaket dan sepatu yang dipakai pelari Nawal El Moutawakel dari Maroko, peraih emas 400 meter lari gawang di Los Angeles 1984. Ada juga sepatu pelari asal Australia Cathy Freeman, peraih emas nomor 400 meter di Sidney 2004.
Kisah hidup para olimpian besar ini sangat menyentuh.
Kisah persahabatan pelari AS, Jesse Owens, dengan karibnya asal Jerman, Luz Long, juga digambarkan dengan indah, plus musik yang menyentuh. Pada Olimpiade Berlin 1936, Owens meraih emas loncat jauh dengan lompatan 8,06 meter, Long meraih perak. Hasil gemilang Owens ini tak luput dari nasihat dan dukungan Long, rival sekaligus karib yang pertama menjabat tangannya.
Sebelum meninggal, Long menulis surat untuk Owens, ”Saya merasa ini surat terakhirku. Tolong pergilah ke Jerman, tengok anak lelakiku, katakan padanya, siapa bapaknya... Katakan padanya, betapa segala sesuatu bisa terjadi antara sesama manusia di atas bumi ini”.
Menonton pameran tentang olimpian dan olimpiade tidak hanya melengkapi pengetahuan, tapi juga memperkaya batin. Maka, jangan heran kalau melihat pengunjung menitikkan air mata saat keluar dari museum.