Korban meninggal adalah Lusiana (51), Vini (34), Gabriel (9 bulan), Gio (2), serta tiga perawat anak bernama Tari, Desi, serta Rafiah. Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang menemukan lima korban di kamar mandi di belakang rumah dalam posisi berangkulan. Dua korban lainnya ditemukan tak jauh dari kamar mandi.
Tragedi di Semarang ini menambah panjang deretan peristiwa kebakaran yang menelan jiwa di negeri ini. Pada periode Januari-Juli 2012 saja Litbang Kompas mencatat terjadi 32 kebakaran relatif besar yang menimpa pasar, pertokoan, perumahan, dan tempat usaha. Sebanyak 41 orang tewas dalam berbagai kejadian itu.
Korban di Semarang hari Sabtu itu tercatat merupakan yang terbanyak. Tujuh orang tewas juga tercatat dalam kebakaran rumah toko di Jalan Putri Hijau, Medan, Sumatera Utara, 7 April.
Menurut Ny Hadi Tunggono (60), yang tinggal di dekat lokasi kejadian, rumah yang terbakar adalah milik Andriyanto Susetyo (60) dan Lusiana. Rumah itu selama ini menjadi tempat merangkai bunga bagi Yayasan Kematian Budi Kasih.
Saat kejadian, Lusiana berada di rumah bersama anaknya, Vini; dua cucunya, Gabriel dan Gio; serta tiga perawat anak. Sekitar pukul 11.00, lampu padam dan seorang perawat anak keluarga itu menyalakan genset yang berada di depan rumah.
”Sekitar pukul 13.45, kami terkejut karena ada api yang berkobar dan membesar dari ruang genset. Warga segera keluar untuk memadamkan api, tetapi tidak kunjung padam. Apinya cukup besar,” papar Ny Hadi.
Ny Hadi menuturkan, sekitar 30 menit kemudian petugas pemadam kebakaran datang. Mereka, dibantu warga, berusaha memadamkan api selama satu jam.
Sekitar pukul 15.30, petugas pemadam kebakaran dan BPBD Kota Semarang bisa memasuki rumah yang ludes terbakar itu. Mereka juga memindahkan jenazah korban. Jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit Citarum Panti Wilasa, Semarang.
Beberapa menit setelah pemindahan, Tim Olah Tempat Kejadian Perkara Polrestabes Semarang mendatangi lokasi. Tim mengumpulkan sejumlah barang bukti selain juga masih menemukan sisa jenazah korban.
Kepala Polrestabes Semarang Komisaris Besar Elan Subilan mengatakan, kebakaran itu masih dalam penyelidikan polisi. Penyebabnya masih dalam penanganan untuk memastikan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, genset yang diduga menjadi pemicu kebakaran berada di sebuah kamar berukuran kecil di depan rumah. Rumah yang terbakar itu juga tidak mempunyai pintu belakang sehingga satu-satunya pintu keluar adalah di bagian depan, yang saat kejadian hangus dilalap api.
Dari data Dinas Kebakaran Kota Semarang, selama Januari hingga awal Agustus 2012 terjadi 113 kebakaran di Kota Semarang. Kebanyakan kebakaran terjadi akibat hubungan pendek arus listrik (korsleting) serta kelalaian manusia.
Kepala Bidang Operasional dan Pengendalian Dinas Kebakaran Kota Semarang Marsono mengakui, dinas kebakaran selalu mengimbau warga agar waspada dan menjauhkan barang yang mudah terbakar dari api. Petugas juga selalu siap 24 jam dengan enam mobil pemadam kebakaran untuk membantu warga. ”Dalam peristiwa di Rejosari, mobil pemadam kebakaran sulit masuk lokasi sebab gang yang sempit,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi langsung mengunjungi lokasi kejadian. Ia menyatakan belasungkawa kepada keluarga korban. Pemerintah juga akan memberikan tali asih kepada keluarga korban.
”Saya mengimbau warga agar selalu mengecek instalasi listrik dan gensetnya. Pada musim kemarau ini, sedikit percikan api saja bisa menyebabkan kebakaran,” lanjutnya.
Terkait terus terjadinya kebakaran rumah dan bangunan, pengamat properti Panangian Simanungkalit, Sabtu di Bali, menyarankan pemerintah daerah segera membenahi regulasi terkait perumahan. Aturan yang lebih terperinci dapat saja disusun untuk mendorong keselamatan warga yang lebih tinggi.
”Sebenarnya kejadian di Semarang itu langka. Kebakaran rumah yang diawali genset yang terbakar atau meledak. Namun, kasus ini dapat dijadikan pembelajaran,” katanya. Dalam berbagai kasus kebakaran yang dicatat Kompas, memang baru kejadian di Semarang yang diduga berawal dari genset terbakar.
Menurut Panangian, selama ini tak ada keharusan membangun akses pintu kedua saat rumah dibangun. ”Pemda bisa saja mengatur, jika lahan dan lokasinya memungkinkan, harus dibuat pintu kedua,” katanya.
Menurut Panangian, pembuatan jalur evakuasi seperti di gedung bertingkat layak dipertimbangkan. ”Lebih masuk akal daripada mengganti seluruh bahan bangunan dengan bahan antiapi. Sulit mencegah kerusakan hebat di rumah sebagai akibat ledakan genset,” ujarnya.
Sebaliknya, Kepala Subbidang Peringatan Dini Iklim Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Erwin Eka Syahputra Makmur, di Jakarta, Sabtu, mengakui, kebakaran rumah tak terlalu relevan dikaitkan dengan musim. Musim kemarau saat ini lebih berpotensi memicu bahaya kebakaran di hutan dan lahan. Ada faktor lain, selain cuaca, yang memicu kebakaran permukiman atau bangunan.
Erwin mengingatkan, kebakaran hutan atau lahan bisa saja terjadi pada masa-masa ini. Apalagi, cuaca sudah terasa sangat kering dan panas. Namun, puncak kemarau masih terjadi pada Agustus-September.
Atmosfer terasa kering karena pada musim kemarau seperti saat ini keberadaan awan sangat minim. Ini menyebabkan energi radiasi Matahari langsung menerpa Bumi, tak terhalang awan.
”Radiasi Matahari yang langsung mengenai Bumi kita membuat cuaca terasa kering. Kalau di hutan, ini bisa membuat pepohonan kering dan menimbulkan kebakaran,” ujar Erwin.
Radiasi Matahari menyebabkan penguapan air meningkat, tetapi tak disertai turun hujan. Kondisi ini membuat titik api mulai marak di areal hutan, terutama di Provinsi Riau, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
”Kalau di Australia, kebakaran permukiman terjadi karena api yang menjalar dari kebakaran hutan,” ujarnya. Di Indonesia selama ini belum tercatat adanya kebakaran permukiman yang diawali dengan kebakaran hutan.
Sesuai catatan Kompas, selama tahun 2012, kebakaran di permukiman atau bangunan lebih karena korsleting, ledakan kompor gas, dan kelalaian manusia.