Ramadhan 2012

Paket Ngabuburit, Dari Resto Sampai Bioskop

Kompas.com - 06/08/2012, 11:27 WIB

Oleh Yulia Sapthiani

Kesenangan orang Jakarta menikmati buka bersama membuka lebar peluang bisnis. Pengelola tempat makan, bioskop, tempat karaoke, hingga salon punya cara promosi yang dinamai serupa: Paket Ramadhan.

Menjelang pukul 17.00, semua meja di restoran Nanini, Plaza Senayan, Jakarta, yang bisa menampung hingga 200 orang sudah ditandai reserved. Pukul 17.30, kursi pun terisi penuh meski waktu buka puasa baru setengah jam kemudian.

Mereka yang datang langsung tanpa memesan tempat hanya bisa pasrah, menunggu yang datang lebih dulu selesai menikmati santapan. Mencari tempat lain, apalagi menjelang detik-detik berbuka, bukan solusi.

Perhatikan saja tempat makan model foodcourt yang ada di setiap pusat perbelanjaan, termasuk di Food Louver, Grand Indonesia. Dengan sistem siapa cepat dia dapat, orang berkompetisi datang lebih dulu demi mendapat tempat. Tak jarang, satu orang ”dikorbankan” datang lebih dulu untuk mengamankan tempat.

Pertengahan pekan lalu, misalnya, menjelang waktu beduk maghrib, semua kursi sudah diduduki. Padahal, antrean pembeli di setiap kios masih ramai. Akibatnya, banyak yang harus berkeliling mencari kursi sambil membawa makanan dalam baki.

”Kamu jalan duluan deh, cari kursi. Aku diem di sini dulu, berat bawa makanan,” kata Siska kepada temannya. Karena tiba di Food Louver menjelang detik-detik berbuka, mereka pun repot mencari tempat sambil membawa makanan.

Gagal mendapat meja yang benar-benar kosong, mereka akhirnya memutuskan menyelip di antara pengunjung lain dalam satu meja. ”Yang penting dapat tempat,” kata Siska.

Di Holycow! Steakhouse by Chef Afit, perjuangan untuk mendapat tempat tak kalah heroik. Banyak di antara mereka yang harus menunggu dua jam demi bisa buka bersama (bukber) dengan steak wagyu.

Lewat pukul 17.00 ketika semua kursi telah terisi penuh, pelanggan yang datang belakangan diberi nomor antrean. ”Ada yang antre sejak pukul 17.30, baru dapat tempat sekitar pukul 19.30. Mereka tetap menunggu daripada sulit mencari tempat lain,” kata Afit D Purwanto, pemilik restoran. Untuk mereka yang terpaksa antre berjam-jam, Afit pun menyediakan minum untuk berbuka.

Sebenarnya, menurut Afit, jumlah mereka yang datang sore hingga malam hari ketika bulan puasa tak berbeda jauh dengan waktu di luar bulan puasa. Namun, antrean saat puasa lebih terlihat ramai karena pengunjung datang berombongan.

”Rata-rata 2-5 orang. Namun, banyak juga yang datang sampai belasan orang,” kata Afit, yang tak pernah menerapkan sistem pesan tempat di restorannya.

Beberapa tempat makan, seperti Nanini, masih memperbolehkan pelanggannya memesan tempat. Namun, besarnya minat pelanggan untuk buka puasa di tempat ini membuat pihak restoran harus memberikan batas waktu 20 menit dari jadwal kedatangan.

”Kalau melewati batas waktu, tempatnya kami alihkan kepada yang lain. Soalnya pernah ada yang memesan tempat, tetapi tidak jadi datang. Kami jadi tidak enak sama orang yang menunggu,” kata Terry Wijaya Supit, salah satu pemilik Nanini.

Hal serupa dilakukan restoran Din Tai Fung, Plaza Arcadia. Karyawan di bagian reservasi memberi tahu waktu tenggang 15 menit kepada setiap pelanggan yang memesan tempat di sekitar waktu buka puasa.

Promosi Ramadhan

Kesenangan orang Jakarta untuk bukber juga dipandang sebagai peluang oleh tempat hiburan, seperti bioskop dan karaoke. Tak kalah dengan restoran, mereka membuat paket Ramadhan.

Bioskop Blitz Megaplex, misalnya, punya paket tersebut untuk mereka yang hobi nonton. Paket berisi lengkap berupa tiket nonton (dengan potongan harga tertentu untuk film yang diputar pukul 16.00-19.00), pilihan makanan, minuman, serta voucer diskon untuk pembelian cendera mata dan bermain di Blitz Game Sphere.

Menurut Trisiska Putri Hapsari, Marketing Promo Manager Blitz Megaplex, paket tersebut dibuat sebagai pilihan ngabuburit untuk masyarakat. ”Selama ini, orang bingung kalau mau ngabuburit dengan nonton film. Takut enggak bisa keluar saat buka puasa. Dengan paket ini, mereka bisa buka puasa sambil nonton film,” tutur Trisiska.

Di tempat karaoke Inul Vizta FX Senayan, paket Ramadhan menyatukan harga setiap tipe ruang karaoke dengan paket sajian makanan dan minuman. Paket ini juga menawarkan ekstrakaraoke dua jam tanpa dikenai tambahan biaya. Tentu, tak ketinggalan makanan untuk buka puasa gratis.

Berkat promosi yang digenjot, waktu menjelang berbuka hingga sekitar 22.00 menjadi ”jam padat” pengunjung bagi karaoke ini. ”Setiap hari selalu ada rombongan yang buka bersama di sini. Biasanya mereka ambil paket buffet karena kapasitasnya 20 sampai 30 orang,” ujar Manajer Operasional Inul Vizta FX Iskandar Zulkarnaen.

Ngabuburit dan bukber ternyata bisa juga dilakukan di klinik kecantikan. Momentum buka puasa, bagi pemilik klinik kecantikan Olivia Ong, merupakan waktu paling pas untuk bersilaturahim dengan klien, pasien, dan wartawan yang ia undang ke kliniknya. Olivia menggunakan kesempatan ngabuburit itu untuk memperkenalkan teknik injeksi terbaru dari Swiss dan Hongkong.

Sembari menunggu waktu berbuka, tamu disuguhi demonstrasi suntikan botoks, disambung presentasi rahasia kecantikan dengan suntik tersebut di pusat wajah tanpa bedah. Presentasi dibuat padat sehingga selesai sesaat sebelum waktu berbuka puasa.

Idi Subandy, pengamat komunikasi dan gaya hidup, berpendapat, orang Jakarta sekarang memang sedang gandrung untuk berkumpul, terutama di mal. Itu terjadi karena ikatan sosial kian tergerus oleh kesibukan dan persaingan hidup. ”Ketika mal memfasilitasi orang untuk bertemu, tersedotlah orang ke mal,” ujar Idi.

Fenomena acara bukber juga bisa dilihat sebagai gejala meningkatnya kegandrungan manusia urban terhadap keberagamaan di bulan puasa. Tempat-tempat yang tadinya dianggap sekuler pun diberi sentuhan simbol keagamaan agar bisa dijadikan sebagai arena bukber.

Yang terjadi saat ini, kegandrungan itu berlangsung dalam konteks konsumsi. Momen ritual seperti buka puasa pun berjalan beriringan dengan momen konsumsi. (DAY/WKM/BSW)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau