Menteri Luar Negeri Jerman Guido Westerwelle di Berlin, Senin (6/8), menolak mengabaikan kekuatan parlemen dalam mengambil keputusan. Menurut Westerwelle, parlemen memiliki peran penting dalam pemerintahan dan tidak boleh diremehkan ketika sedang terjadi kesulitan.
”Keseimbangan dari parlemen terhadap kebijakan Eropa tidak dapat diperdebatkan lagi. Kita memerlukan persatuan, bukan pelemahan proses demokrasi dan legitimasi Eropa,” ujarnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Italia Mario Monti mendesak agar para pemimpin di zona euro mengambil keputusan dengan cepat dan menjaga jarak untuk bermanuver dengan parlemen.
”Jika pemerintahan membiarkan diri terbelenggu sepenuhnya dengan parlemen mereka tanpa memiliki kesempatan bernegosiasi, Eropa tampaknya akan terbelah, bukan terintegrasi lebih erat,” katanya dalam sebuah wawancara dengan Der Spiegel.
Walaupun para pemimpin Eropa sepakat dalam konferensi tingkat tinggi, kesepakatan itu masih harus mendapatkan ratifikasi dari parlemen di negara masing-masing. Proses ini terkadang memerlukan waktu panjang, bahkan parlemen dapat mementahkan kesepakatan para kepala pemerintahan tersebut.
Parlemen juga dapat membuat mosi tidak percaya yang dapat menurunkan pemerintahan sehingga pemilihan umum harus digelar.
Pemimpin kelompok konservatif di parlemen Jerman, Volker Kauder, mengatakan, reformasi Eropa memang banyak mengarah ke Brussels, tetapi Brussels tetap harus menghormati legislasi nasional di masing-masing negara.
”Hak parlemen tidak boleh dihilangkan dengan memperkuat institusi legislatif di Eropa,” katanya.
Jerman, yang merupakan penyumbang terbesar dana talangan, sering menentang usulan agar zona euro dapat keluar dari krisis. Parlemen Jerman sangat kuat kedudukannya.
Pengadilan Konstitusi Jerman berulang kali menegaskan bahwa parlemen memiliki hak suara yang harus didengar dalam mengatasi krisis. Pada 12 September mendatang, Pengadilan Konstitusi akan memutuskan apakah dana permanen untuk talangan zona euro, Mekanisme Stabilitas Eropa (ESM), tidak bertentangan dengan perundangan Jerman. Para pelaku pasar finansial menantikan keputusan ini.
Monti juga mengungkapkan keprihatinannya atas pertentangan yang terjadi di antara negara Eropa sendiri. Ketika ditanya tentang kekesalan Italia terhadap Jerman yang dianggap arogan mengatasi krisis, Monti mengatakan sangat prihatin.
Dia mengatakan telah berbicara dengan Kanselir Angela Merkel tentang kekesalan di Italia, tidak hanya terhadap Jerman, tetapi juga terhadap Uni Eropa dan euro. Monti buru-buru mengatakan bahwa masalahnya bukan terletak pada hubungan Italia dan Jerman semata-mata.
”Tekanan yang terjadi di zona euro dalam beberapa tahun ini telah menjadi bibit perpecahan di Eropa. Kita harus berupaya keras mencegahnya,” ujar Monti.(Reuters/AFP/joe)