Krisis kedelai

Gubernur Jabar Sambut Rencana Penerapan HPP Kedelai

Kompas.com - 07/08/2012, 09:47 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com- Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyambut positif rencana pemerintah menyusun Harga Patokan Petani untuk komoditas kedelai. Baginya, HPP bisa menjadi jaminan bagi petani untuk menggarap komoditas tersebut tanpa khawatir harga yang anjlok yang tidak diprediksi.

Hal itu dikemukakan Heryawan usai mendampingi Menteri Perdagangan Gita Wirjawan ke Pasar Kosambi, Selasa (7/8/2012) pagi tadi. Dalam kunjungan itu, Gita mengutarakan rencana pemerintah untuk menyusun HPP kedelai.

"Dengan HPP, petani akan lebih bergairah dalam menanam kedelai tanpa khawatir harga anjlok saat panen," kata Heryawan.

Menurut data pemerintah, produksi kedelai lokal Indonesia sebanyak 800.000 ton per tahun belum mampu mengimbangi konsumsi tahunan yang mencapai 2,6 juta ton. Untuk menutupi kekurangannya, pemerintah pun terpaksa mengimpor, salah satunya dari Amerika Serikat.

Disinggung mengenai daerah yang layak dikembangkan sebagai sentra kedelai, Heryawan mengaku belum punya calon. Dia beralasan, kondisi tanah di Jabar relatif sama suburnya sehingga seluruh daerah juga potensial, dia juga tidak bisa memaksakan petani untuk beralih komoditas. Dengan penetapan HPP, diharapkan bisa menjadi salah satu pertimbangan petani dalam menjajal komoditas kedelai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau