Uji kompetensi guru

Meski Akan Pensiun, Antonius Tetap Ingin Nilai Tinggi...

Kompas.com - 07/08/2012, 10:03 WIB

KOMPAS.com — Antonius Ngatiran (59) meminta bantuan operator untuk segera memperbesar butir-butir soal yang tertera di layar komputer di depannya. Setelah itu, dia mulai membaca satu per satu soal yang disajikan dalam tes Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diikutinya dan menjawabnya.

"Saya mau nilai terbaik," katanya sebelum mengerjakan soal UKG yang diikutinya di SMA Negeri 68 Jakarta, Senin (6/8/2012) sore, kepada Kompas.com.

Antonius adalah seorang guru SD yang tidak lama lagi akan genap berusia 60 dan akan segera pensiun. Mengikuti UKG menurutnya bagus untuk mengukur batas kemampuannya menjadi guru selama ini.

"Saya ikut ujian ini untuk mengukur kualitas. Sebelum pensiun, kan, bangga kalau nilai saya tinggi, nanti sertifikatnya bagus," ujarnya.

Pada awalnya, UKG memang ditujukan untuk mengukur kualitas dan kemampuan para guru. Namun, tidak sedikit pula yang justru menjadikan persiapan UKG sebagai ajang belajar hal yang baru. Belajar komputer, maksudnya. Dan, Antonius adalah salah satunya.

Dia mengaku jarang menggunakan komputer selama ini dan kini dia dengan rela belajar untuk bisa menggunakan komputer dan menjawab soal-soal UKG dengan baik. Target yang ingin dicapainya adalah nilai sempurna. Setiap butir soal hitungan yang dihadapinya akan dihitungnya dengan cekatan dalam sebuah kertas kosong yang disediakan.

"Saya penginnya dapat nilai bagus. Kalau pada kenyataannya tidak bagus, saya sudah mencobanya," ujarnya sambil membenarkan letak kacamatanya.

Peserta jelang pensiun

Pada gelombang tiga penyelenggaraan UKG hari ini, pengawas dari dinas pendidikan, Gun Supriyanto, menyatakan, pihaknya sudah lebih tidak repot membantu peserta UKG. Meski banyak guru yang belum menguasai teknologi, para peserta dapat menangkap keterangan dengan cepat.

"Sesi yang ini pesertanya bagus, baru diajari sebentar langsung bisa. Kecuali jelang akhir pengerjaan soal, atau saat ingin mengecek nilai, biasanya banyak yang bertanya," tuturnya.

"Terkadang jenuh, pertanyaannya itu-itu lagi. Namun, kita paham, pesertanya sudah pada mau pensiun," kelakarnya kemudian.

Meski mengakui banyak kesalahan soal yang menyulitkan pesertanya, Gun sependapat bahwa UKG bisa menjadi ruang belajar bagi para guru di era digital sekarang. Pasalnya, kemampuan mengoperasikan komputer juga wajib dikuasai guru.

"Ini merupakan tuntutan profesional bagi guru di zaman globalisasi. Minimal mereka kenal dan tahu penggunaannya. Ambil positive thinking-nya saja," tuturnya.

Sementara itu, Antonius masih menyelisik soal di depannya. Dia tidak terganggu dengan kondisi sekitar yang mulai ramai karena teman-temannya sudah terlebih dulu menyelesaikan tes.

"Masih ada waktu, masih saya baca dulu," katanya santai.

Hingga waktu berakhir, Antonius menyisakan sepuluh soal yang belum sempat dikerjakannya, dia pun melihat skor yang berhasil diraihnya. Alhasil, lelaki baya ini memperoleh skor 53. Nilainya memang di bawah standar nilai pemerintah, yaitu 70, tetapi nilai tersebut malah lebih baik dari rekan-rekan seprofesinya.

"Wajar, dia pakarnya!" celetuk rekannya. Antonius hanya tersenyum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau