JAKARTA, KOMPAS.com — Jenazah almarhum Amir (51), guru SDN 17 Manggarai, yang meninggal setelah pingsan saat mengikuti uji kompetensi guru (UKG), sudah langsung dibawa pulang ke daerah asalnya di Ciamis, Bandung, Jawa Barat, Selasa (7/8/2012) sore. Rekan sesama guru, Pudji Astuti, tak ikut mengantarkan, namun dia menjadi salah satu rekan kerja yang bersama Amir di detik-detik terakhir kehidupannya.
Di ruang kerjanya, Rabu (8/8/2012) pagi, Pudji bertutur kepada Kompas.com bahwa pada Selasa pagi, dia, Amir, dan 19 guru lainnya mengikuti UKG di SMAN 26 Jakarta. Wanita berusia 57 tahun itu duduk di sebelah Amir.
"Pak Amir itu guru kelas di SDN 17 Manggarai, Jakarta Selatan. Waktu tes, dia tahunya masuk gelombang kedua, tetapi saya ingatkan kalau Pak Amir ikut gelombang satu yang jam 7 pagi, bareng sama saya," kata Pudji mencoba mereka ulang peristiwa Amir sebelum mengikuti tes UKG online.
"Waktu mengerjakan soal UKG, Amir biasa-biasa aja. Latihan sepuluh sampel soal juga masih normal saja," ungkapnya kemudian.
Pudji mengatakan bahkan dirinya yang sempat bertanya cara menghitung besar energi listrik yang ada pada soal yang dikerjakannya kepada Amir. Namun, Amir tak bisa menjawabnya. Dia juga mengaku lupa.
"Dia bilang 'bagaimana ya cara menghitungnya, saya juga lupa, bu, haduh!'" ungkap Pudji mengulang pernyataan Amir waktu itu.
Gusar dan kedinginan
Pudji tak mengira setelah dia bertanya, Amir mulai gusar. Saat mengikuti tes, Amir memang sempat berbisik kepada rekan lainnya bahwa dirinya tidak kuat menahan hawa dingin dari pendingin di ruangan tersebut.
"Dia bilang 'AC-nya dingin sekali, bu. Saya gak kuat!'" tutur Pudji.
"Mungkin kondisi Amir yang sedang puasa, duduknya juga pas di bawah AC, dia bilang kedinginan. Akhirnya dia teriak-teriak minta tolong. Dia juga bilang 'saya budek, saya nggak denger, nggak denger!'" tambahnya kemudian.
Amir, lanjut Pudji, lalu berteriak "Allahuakbar" sambil menahan sakit. Dia dan sejumlah rekan memilih tidak lanjut mengerjakan soal dan segera membawa Amir ke luar kelas.
"Saya bingung, pak Amir sudah pingsan. Jadi saya bawa aja ke udara terbuka, biar sadar lagi. Padahal, saya ngerjain soal baru sampai nomor 87 masih ada waktu 51 menit lagi. Tetapi, karena saya pikir ada yang lebih penting, ya saya kerjain asal aja tanpa membaca teks," terang Pudji yang mengaku tak sempat melihat perolehan nilainya.
"Biarlah, saya sudah mau membawa Amir ke rumah sakit. Saya keluar, karena kondisi Amir sudah kejang-kejang, dibantu siswa SMA 26 Tebet," katanya.
Bukan nervous
Pudji mengisahkan, Amir kemudian dibawa ke rumah sakit Tebet, Jakarta Selatan. Menurut informasi yang diterima dari dokter, kondisi Amir sudah koma, pihak rumah sakit sudah memacu jantung Amir, namun hasilnya tidak baik.
"Pihak dokter Tebet, kemudian menerangkan kondisi jantung Amir memang kurang baik, sempat juga dokter bilang kalau sudah kembali normal baiknya dimasukan ke ICU saja. Saya pun setuju, namun kondisi Amir sudah down, sehingga nyawanya sudah tidak tertolong lagi," ulasnya.
"Tahu kabar begitu, saya coba kabarin keluarga dan rekan-rekan lainnya. Alhasil, kemarin jam 4 sore, almarhum sudah dibawa ke Ciamis," jelasnya.
Dalam ujiannya, Amir sudah berhasil menyelesaikan soal sampai dengan nomor 42. Namun, hasilnya belum dikabarkan pihak pengawas di SMAN 26. Meski demikian, Amir termasuk guru yang tenang dalam menghadapi masalah.
"Jadi penyakit jantungnya bukan karena dia nervous, tetapi karena perut kosong, dan belakangan kurang fit aja kondisinya, apalgi kebagian duduknya di bawah AC laboratorium komputer itu," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang