Clinton Bahas Krisis Suriah di Turki

Kompas.com - 11/08/2012, 14:45 WIB

ISTANBUL, KOMPAS.com - Menlu AS Hillary Clinton telah tiba di Turki untuk membicarakan krisis politik di Suriah yang makin memburuk. Clinton dijadwalkan akan bertemu pemimpin Turki serta para aktivis oposisi Suriah. Mereka diperkirakan akan membahas persiapan peralihan kekuasaan politik di Suriah apabila rezim Bashar al-Assad runtuh.

Wartawan BBC di Istanbul, Bethany Bell mengatakan, salah-satu materi penting yang akan dibicarakan Clinton adalah melakukan koordinasi terbaik untuk mendukung kelompok oposisi Suriah yang sejauh ini belum solid.

Pejabat AS mengatakan, Clinton juga ingin memahami sikap dan kepedulian Turki terhadap kondisi aktual di Suriah yang makin memburuk. Dalam kunjungannya ke Turki ini, Clinton juga akan mengumumkan bantuan kemanusiaan bagi warga sipil Suriah yang mengungsi di Turki.

Turki saat ini menampung lebih dari 50.000 orang pengungsi Suriah yang tiap hari melintasi perbatasan dan membanjiri lokasi penampungan. Laporan PBB terakhir menyebutkan, telah terjadi lonjakan jumlah warga sipil Suriah yang meninggalkan kota-kota yang diamuk perang, terutama Aleppo.

Al Qaeda

Materi penting yang menjadi fokus pembicaraan Clinton ke Turki adalah tentang "masa depan Suriah setelah Assad tak lagi berkuasa", kata wartawan BBC di Istanbul. Washington, masih kata wartawan BBC, berharap masa depan Suriah akan lebih mengedepankan demokrasi dan penghormatan terhadap pluralisme.

Persoalan ini ditekankan, karena sejumlah laporan menyebutkan, AS mengkhawatirkan kehadiran kelompok militan Al Qaeda diantara kelompok pemberontak dalam melawan rezim Assad.

Pejabat intelijen AS, yang dikutip kantor berita AP mengatakan, sedikitnya ada 200 orang militan yang terkait Al Qaeda yang selama ini sudah beroperasi di Suriah. Dan yang membuat mereka khewatir, jumlah militan itu terus tumbuh selama proses perlawanan.

Para pejabat AS mengkhawatirkan kondisi ini bakal mirip dengan yang terjadi di Irak, yaitu ketika mereka kesulitan mengendalikan kelompok pemberontak jika akhirnya Presiden Assad terguling dari kursi kekuasaan.

Para analis mengatakan, karena alasan inilah, Washington enggan menawarkan bantuan militer kepada kelompok pemberontak Suriah.

Kekerasan meningkat

Sementara itu, kekerasan sporadis dilaporkan terjadi pada Jumat (10/08) waktu setempat di Suriah. Wartawan kantor berita Reuters melaporkan, warga Aleppo terlihat berduyun-duyun meninggalkan Aleppo dengan membawa barang-barang, ketika pertempuran agak meredah.

Dan menurut Kantor berita AFP, sebuah toko roti di kota Tariq al-Bab terkena serangan bom, yang menewaskan sedikitnya 12 orang dan melukai puluhan orang lainnya.

Pasukan Suriah, menurut kantor berita Sana yang pro Assad, telah memukul mundur pasukan pemberontak yang hendak menguasai bandar udara internasional Aleppo.

Secara terpisah, Dewan nasional kelompok oposisi Suriah mengatakan, sebagian bangunan benteng peninggalan abad ke-13 di Aleppo rusak akibat serangan artileri dan tembakan senapan. Para aktivis anti Assad juga melaporkan pertempuran pecah di pinggiran ibukota Damaskus.

Presiden Assad sejauh ini memilih tetap bertahan, walaupun diwarnai pembelotan para pejabatnya, tekanan dunia internasional serta perlawanan kelompok pemberontak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau