KABUL, MINGGU
Menurut Shakila Hakimi, anggota parlemen di Nimroz, si pelaku terbunuh dalam tembak- menembak setelah menjalankan aksinya.
”Tempat kejadian berada di wilayah terpencil. Telekomunikasi di sana sangat buruk sehingga kami belum bisa mendapat kronologi kejadian secara rinci,” ujar Shakila.
Peristiwa serupa semakin sering terjadi, nyaris dengan modus serupa. Sasarannya adalah aparat keamanan, baik petugas keamanan lokal maupun asing. Sehari sebelumnya, enam tentara Amerika Serikat ditembak mati oleh dua prajurit Afganistan di Provinsi Helmand.
Kejadian itu semakin membuat banyak pihak bingung dan frustrasi terkait siapa teman siapa lawan. Insiden serangan yang dilakukan ”orang dalam” seperti itu juga menghambat proses peralihan penanganan keamanan dari pasukan keamanan asing ke polisi Afganistan.
Selain itu, banyak kalangan juga mempertanyakan akan seperti apa kualitas aparat keamanan Afganistan di masa datang jika kejadian seperti itu terus berulang.
Militer AS tengah melatih aparat keamanan lokal, baik militer maupun polisi, menjelang penarikan mundur semua pasukan AS dan NATO dari Afganistan pada akhir 2014. Sekitar 352.000 polisi dan tentara lokal bergabung dalam pelatihan itu hingga beberapa bulan mendatang.
Walau muncul kekhawatiran, pasukan koalisi tetap optimistis. Mereka yakin ulah segelintir oknum tersebut tidak akan sampai merusak atau menodai integritas semua personel pasukan keamanan Afganistan.
Namun, diakui muncul rasa curiga akibat insiden tersebut, terutama antara aparat lokal dan pasukan asing. Kondisi itu memang diharapkan oleh pihak pemberontak Taliban.
Presiden Afganistan Hamid Karzai mengutuk aksi pembunuhan tersebut, termasuk yang baru saja terjadi. Ia juga memerintahkan penyelidikan atas kasus terbaru itu.
Karzai juga memerintahkan bawahannya berupaya keras untuk bisa memberikan jaminan keamanan.
”Musuh tidak ingin melihat Afganistan punya pasukan keamanan yang kuat. Itu sebabnya mereka mengincar para pelatih militer,” ujar Karzai dalam pernyataan tertulisnya.