KOMPAS.com - Zikir adalah salah satu tuntunan Nabi Muhammad SAW untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sufi asal Turki, Jalaluddin Rumi, kemudian mengembangkan metode zikir dengan gerakan berputar yang dikenal sebagai ”Dervish Dance”.
Metode ini menyebar hingga ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang dibawa oleh Syekh Nazim melalui tarikat Naqsabandiyah. Salah satunya di Pekalongan, Jawa Tengah. Komunitas Dzikir Kraton Pekalongan di bawah pimpinan Habib Muhammad Shahab mempraktikkan tari adaptasi ”Dervish Dance” yang lantas dinamakan ”Tari Darwis”.
”’Tari Darwis’ meningkatkan kesadaran spiritual seseorang. Bagi kami, tari ini adalah pendukung proses spiritual, bukan inti atau tujuan. Masih ada zikir, shalat, membaca Al Quran, dan wirid-wirid lain yang merupakan alat menuju kepada Tuhan,” tutur Habib Muhammad.
Uniknya, oleh Habib Muhammad, tari ini dipadukan dengan budaya lokal, yakni iringan musik gending Jawa marawis, calung Banyumasan, dan ”Tari Zapin” khas Melayu.
Lagu ”Gambang Suling” atau ”Lir Ilir” yang dimainkan dengan gamelan adalah sebagian contoh pengiring ”Tari Darwis”. Kostumnya pun beskap putih pada bagian atas, kain putih yang dibentuk semacam rok lebar, dan topi sike yang bentuknya mirip batu nisan.
”Kami berusaha mengembangkan ’Tari Darwis’ sesuai kultur Indonesia. Musik yang kami gunakan gending Jawa, marawis,” kata Habib Muhammad yang akrab disapa Bib Muh.
Tari sufi multikultur ini cukup menarik perhatian. Kelompok kesenian sufi multikultur dari Pekalongan ini kerap mendapat undangan pentas di berbagai kota. Bagi Habib Muhammad, ini dianggap sebagai dakwah melalui kesenian.
Inti gerakan
Teknik menarikan ”Tari Darwis” sangat mudah. Inti gerakan tari ini adalah berputar yang dilakukan searah jarum jam dan dilakukan terus-menerus. Gerakan ini simbol alam semesta yang selalu berputar mengelilingi garis edar masing-masing.
Tangan kanan menghadap ke atas sebagai simbol menerima karunia Allah dan tangan kiri menghadap ke bawah yang bermakna hendaknya manusia memberikan cinta kasih kepada sesama.
”Terkadang masyarakat awam mengira orang yang menari Darwis kesurupan karena bisa berputar-putar begitu lama. Tidak, mereka bukan kesurupan. Mereka justru tengah berada dalam kesadaran yang tinggi, mampu mengidentifikasi keadaan di sekitarnya dengan lebih baik. Ini berujung pada kesadaran siapa diri kita sebenarnya,” papar Habib Muhammad.
Salah satu penari ”Tari Darwis”, Abdulrahman, mengatakan, menarikan ”Tari Darwis” meningkatkan kesadarannya terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Pria pengusaha batik ini mengaku mendapat banyak manfaat dari tari ini.
”Pengalaman saya, setelah menarikan ’Tari Darwis’ merasa lebih tenang dan konsentrasi. Saya juga merasakan manfaat menari ini untuk keluarga. Jadi, lebih mudah memberi tahu dan mengontrol anak,” ungkap Abdulrahman.
”Tari Darwis” ibarat vitamin bagi komunitas yang berasal dari Kecamatan Kraton, Kota Pekalongan, ini. Tari ini dikembangkan sejak dua tahun lalu oleh Habib Muhammad yang dimaksudkan sebagai olah spiritual, fisik, dan seni. Acara menari akan diawali dengan berzikir. (EKI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang