MAKASSAR, KOMPAS — Kurang dari sepekan menjelang Lebaran, sejumlah perbaikan di jalur lintas barat Sulawesi, terutama di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, belum rampung. Pemudik harus berhati-hati karena tebing curam yang bersisian dengan jalan di kawasan itu rawan longsor.
Staf Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI Wilayah Sulawesi Barat, Muhammad Romul, Senin (13/8), mengemukakan, pelebaran jalan di Kecamatan Sendana molor akibat tingginya intensitas hujan. Proyek pengikisan dan penggalian tanah perbukitan mengurangi lebar jalan hingga tersisa 3 meter.
Pengemudi harus menepikan kendaraannya jika berpapasan dengan kendaraan lain, terutama truk atau bus kota. Pelebaran jalan yang belum tuntas itu menyebabkan jalan sepanjang 5 kilometer di Sendana menyempit.
Jalur lintas barat Sulawesi mulai dari Kabupaten Majene hingga Mamuju umumnya rawan longsor karena bersisian dengan tebing dengan kemiringan sekitar 60 derajat. Jalan tersebut merupakan poros utama yang menghubungkan Sulawesi Selatan menuju Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.
Yang menggembirakan, kondisi jalan poros Maros-Parepare, yang menghubungkan Makassar dengan sejumlah daerah di sebelah utara Sulawesi Selatan, siap dilalui pemudik. Pelebaran jalan sepanjang 125 km itu tinggal 4 km di Kecamatan Bungoro dan Ma’rang, Kabupaten Pangkajene Kepulauan. Selebihnya, permukaan jalan selebar 16 meter itu telah selesai dibeton.
Bukitinggi- Padang
Adapun ruas Bukittinggi-Padang dan sebaliknya membahayakan keselamatan pengguna jalan pada malam hari. Pengguna jalan harus berhati-hati karena ketiadaan markah jalan, penerangan jalan, dan rambu lalu lintas di sejumlah titik.
Hal itu terlihat pada Minggu malam saat Kompas melintasi ruas tersebut. Kondisi yang cenderung rawan itu, terutama selepas Padang Panjang, air terjun Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, hingga kawasan Malibo Anai di Kabupaten Padang Pariaman.
Permukaan jalan yang licin setelah diguyur hujan juga menambah risiko. Di sisi kiri dan kanan jalan terdapat sungai beraliran deras dan deretan bukit yang kadang kala longsor.
Namun, yang membuat kondisi berkendara lebih berisiko adalah ketiadaan markah jalan. Ini menyusul pelapisan aspal di beberapa titik yang belum diikuti pemberian markah jalan.
Batas paras jalan tidak dapat diketahui karena tidak adanya markah jalan. Hal itu terutama terdapat di sepanjang jalur berkelok, tanjakan, dan turunan tajam.
Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika Sumbar Mudrika, Senin (13/8), mengatakan, pihaknya akan segera memasang rambu-rambu peringatan di lokasi tersebut. Hal yang sama akan dilakukan untuk penerangan jalan.
Sementara itu, Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi, Jawa Timur, dan Pelabuhan Gilimanuk di Jembrana, Bali, dipadati pemudik sejak dua hari lalu. Kemarin volume kendaraan meningkat 20 persen dibandingkan hari-hari biasa.
Waspada Heruwanto, Kepala PT ASDP Indonesia Ferry Pelabuhan Ketapang mengatakan, jumlah pemudik akan mencapai puncaknya pada H-2 atau Jumat (17/8). Pada saat itu jumlah pemudik dalam sehari diperkirakan mencapai lebih dari 6.000 orang. (RIZ/INK/NIT/HEI/UTI)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang