Bertualang Bersama Gajah

Kompas.com - 20/08/2012, 08:45 WIB

Oleh Antony Lee

DELAPAN gajah berjalan dalam satu barisan panjang, melintasi trek berbukit di kawasan hutan Taman Safari Indonesia di Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (15/8/2012) siang.

Di atas punggung tiap gajah terlihat beberapa pengunjung yang sibuk melempar pandangan ke segala arah, menikmati lanskap Gunung Gede. Tubuh para penumpang gajah yang ditemani seorang mahut atau pelatih gajah itu berayun mengikuti langkah kaki gajah.

Terkadang berayun ke kiri, ke kanan, kadang merosot ke belakang tatkala sang gajah menapaki tanjakan. Langkah gajah-gajah itu begitu perlahan, memberi kesempatan bagi penumpang untuk menikmati pemandangan dengan lebih santai.

Apalagi di sepanjang jalur itu selain melihat pohon menjulang tinggi, juga ada beberapa hewan liar koleksi Taman Safari Indonesia (TSI). Seperti beruang siberia, orangutan, harimau, dan macan putih. Kadang-kadang, pengunjung yang menunggangi gajah itu tertawa melihat tingkah gajah yang ”iseng” kerap berhenti mendadak, menyantap rumput.

”Asyik seru sekali. Bisa bertualang sama gajah. Cuma setelah selesai, kaki jadi gemetaran. Ha-ha-ha,” tutur Winda (22), salah seorang pengunjung yang ikut menunggangi gajah.

Siang itu, manajemen TSI di Cisarua meluncurkan paket wisata khusus untuk menyambut HUT Ke-67 Kemerdekaan RI, sekaligus menyambut libur hari raya Lebaran.

Para pengunjung TSI bisa menikmati perjalanan yang dinamai ”Jumbo Jungle Elephant Adventure” dengan membayar Rp 350.000 per orang. Mereka akan menikmati sensasi menunggangi gajah selama lebih kurang 30 menit.

Atraksi wisata ini ingin mengembangkan imajinasi pengunjung, seolah merasakan ”kemewahan” para maharaja di India dan Sumatera yang di masa lalu kerap berburu satwa liar dengan menunggang gajah. Namun, kali ini yang diburu bukan satwa, melainkan pemandangan alam.

Apalagi posisi TSI di Cisarua strategis, berada di lahan seluas 165 hektar di Gunung Gede. Kawasan TSI juga bisa ditempuh sekitar tiga jam perjalanan dari Jakarta, dalam kondisi normal.

”Ini momentum luar biasa. Kami menyiapkan paket yang belum pernah ada sebelumnya. Kami mengajak pengunjung naik gajah, lalu bertualang masuk hutan,” tutur Direktur TSI Jansen Manansang di Cisarua.

Menurut Jansen, pada titik finis, selain menikmati pemandangan yang jarang bisa disaksikan pengunjung Kawasan Wisata Puncak, peserta paket ini juga bisa bercengkerama dengan para pelatih gajah. Para pengunjung bisa bertanya seputar seluk beluk dan kehidupan gajah. Setelah melepas lelah, mereka akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bus.

Dijamin aman

Jansen optimistis paket petualangan dengan gajah yang baru pertama kali diluncurkan ini bisa menarik minat pengunjung pada musim liburan. Namun, karena jumlah gajah yang dilibatkan hanya 14 ekor, pengunjung sangat dibatasi. Setiap gajah hanya ditumpangi seorang pengunjung. Selain itu, pengunjung juga dibatasi dari sisi tinggi badan. Hal ini dilakukan untuk menghindari kecelakaan bagi para penunggang.

”Kami sudah berbulan-bulan sebelumnya menjajal trek ini dan kami meyakini aman. Selain itu, kami juga sudah menyiapkan rute-rute evakuasi jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Sebelumnya, TSI di Cisarua juga sudah meluncurkan paket menunggang gajah, tetapi tidak melintasi hutan. Menurut Kepala Bagian Humas TSI di Cisarua Yulius H Suprihardo, paket menunggangi gajah yang biasa ditawarkan kepada pengunjung hanya menggunakan rute jalan beraspal dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dan tarif sebesar Rp 250.000.

”Jadi dengan adanya atraksi baru ini tersedia dua pilihan. Mereka yang ingin bertualang bisa memilih rute hutan, sedangkan bagi pengunjung yang hanya ingin bersantai bisa dengan rute aspal itu. Tinggal pilih saja,” tuturnya.

Para pengunjung kini ting- gal menentukan pilihannya, mau tantangan, menguji adrenalin, dan pengalaman yang atraktif, susuri reli gajah. Akan tetapi, apabila sekadar menikmati indahnya alam di jalan yang santai, ya bisa yang menyusuri aspal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau