Lumpuhnya Sendi-sendi Kehidupan di Suriah

Kompas.com - 22/08/2012, 09:11 WIB
Oleh: MUSTHAFA ABD RAHMAN


BEGITU menginjakkan kaki di kota Atma, Provinsi Idlib, Suriah, Kamis pekan lalu, keinginan besar untuk melihat kondisi riil negeri yang tercabik-cabik perang saudara itu tercapai sudah.

Atma, kota yang terletak sekitar 7 kilometer dari perbatasan Turki, memang terlihat masih utuh tanpa ada bangunan yang hancur. Sejauh ini, kota itu masih selamat dari gempuran serangan helikopter atau pesawat tempur pemerintah.

Aktivitas manusia di jalan raya dan arus lalu lintas kendaraan sangat jarang di kota ini. Hanya satu-dua toko yang buka dengan jualan apa adanya. Kendaraan hanya sesekali melintas di jalan kota.

Penduduk sepertinya memilih berdiam di rumah karena memang tidak ada yang bisa dilakukan di luar rumah. Di beberapa sudut kota terlihat puluhan pengungsi yang duduk di teras gedung sekolah atau gedung fasilitas umum lainnya merenungi nasib yang tak menentu.

Aliran listrik pun kerap tiba-tiba mati. Jika malam tiba, suasana gelap gulita menjadi hal yang biasa karena aliran listrik terputus-putus.

Revolusi rakyat selama satu setengah tahun terakhir yang berubah menjadi perang saudara tampaknya telah melumpuhkan semua sektor kehidupan di negeri itu. Mobilitas warga pun sangat terganggu.

Mahmud (29), warga Suriah asal Idlib, mengungkapkan, ia terpaksa transit di Atma dalam perjalanan dari Idlib menuju Aleppo yang hanya berjarak sekitar 110 kilometer karena tidak ada angkutan umum dan situasi keamanan tidak menentu.

”Dalam situasi normal, perjalanan antara Idlib dan Aleppo bisa ditempuh hanya dalam satu jam perjalanan. Sekarang bisa mencapai tiga hari karena tidak ada lagi angkutan umum antarkota. Kami harus berpindah dari satu kota ke kota lain. Kerap kami harus bermalam di suatu kota karena pertimbangan keamanan, seperti kini singgah di Atma,” kata Mahmud yang ditemui di depan kantor Dewan Revolusi Atma.

Hal serupa dialami Abdul Hakim yang bersama Kompas menyeberang dari Turki ke Atma. Abdul Hakim juga harus transit di Atma sebelum meneruskan perjalanan ke kota kelahirannya, Hama.

”Saya tidak tahu kapan bisa pulang ke Hama karena tak ada kendaraan yang mau menuju ke sana sekarang,” ujar Abdul.

Kesulitan perjalanan antarkota di Suriah dituturkan kepala pusat media kota Atma, Ahmed Mustafa (25). Menurut Mustafa, agar bisa bepergian dari satu kota ke kota lain dengan aman, warga harus melewati jalan yang dikendalikan oleh Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Sebagian wilayah dan jalan di negeri itu dikontrol FSA, selebihnya masih dikuasai tentara pemerintah.

”Jika pergi lewat jalan yang dikuasai FSA, kita harus punya referensi dari tokoh FSA atau oposisi karena pasukan FSA yang menguasai jalan-jalan itu mempunyai komandan masing- masing. Maka, komandan satu sama lain harus saling tahu,” lanjutnya.

Bahan pangan juga terasa langka. Saat hendak berbuka puasa, Kompas tidak menemukan warung yang menjual makanan layak untuk buka puasa. Hanya ada roti seadanya yang dijual di beberapa warung.

Harga melambung

Kebutuhan pokok lain yang langka adalah bahan bakar. ”Harga bahan bakar sangat mahal. Satu liter bensin semula hanya 15 lira Suriah (sekitar Rp 2.100), kini naik menjadi 100 lira Suriah (Rp 14.000). Kehidupan penduduk sangat berat memikul beban kenaikan harga. Banyak yang sekarang memasak pakai kayu bakar karena tidak mampu membeli minyak,” ungkap Ketua Dewan Revolusi Atma Abu Mustafa (45).

Ahmed menambahkan, harga semua barang di Suriah kini naik menggila. Harga satu tabung elpiji untuk memasak kini 50 dollar AS atau sekitar Rp 475.000.

”Warga sekarang makan sisa simpanan bahan pokok yang mereka punya. Dalam 15 hari lagi, kota ini menghadapi krisis pangan serius. Atma sangat butuh bahkan bergantung pada bantuan dari luar, khususnya Turki,” kata Ahmed.

Menurut dia, kondisi mental penduduk Atma dan mungkin juga kota-kota lain pun merosot karena banyak yang kehilangan pekerjaan. ”Sebagian besar penduduk Atma bekerja sebagai tentara dan pegawai pemerintah. Namun, banyak dari mereka membelot sehingga menganggur dan akhirnya tidak ada pemasukan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pekerjaan sehari-hari penduduk Atma sekarang adalah menonton televisi untuk mengikuti perkembangan jalannya pertempuran di kota lain saat listrik tidak terputus.

Meski kondisinya memburuk, Atma masih terbilang aman dibandingkan dengan kota-kota di sekitarnya yang menjadi ajang pertempuran antara tentara pemerintah dan oposisi. Atma pun serta-merta menjadi tempat penampungan sementara pengungsi dari kota tetangga yang kurang aman. Kota ini pun menjadi tempat persinggahan mereka yang lalu-lalang antara Suriah dan Turki.

”Saya baru saja tiba di Atma untuk mencari perlindungan karena kota saya sudah hancur digempur pesawat MIG-23,” tutur Hassan Haji (70), warga kota Maarit Misrin yang bertetangga dengan Atma.

”Banyak penduduk dari kota tetangga Atma, seperti Dana, Taftanas, Bab al-Hawa, dan Maarit Misrin, berlindung ke Atma ketika desa-desa itu digempur helikopter atau pesawat tempur rezim Presiden Bashar al-Assad. Mereka lari ke sini karena Atma masih dianggap kota aman,” ujar Ahmed.

Abu menambahkan, banyaknya pendatang menyebabkan beban warga kota Atma sangat berat. Mereka kini harus menampung satu atau dua keluarga lagi dari kota lain.

”Jumlah penduduk Atma yang semula hanya sekitar 5.000 jiwa kini menjadi lebih dari 15.000 jiwa,” ujarnya.

Ahmed lebih jauh mengungkapkan, Atma kini juga menjadi tempat transit bagi simpatisan kelompok oposisi dari luar negeri.

”Banyak sukarelawan dari luar negeri, seperti Libya, Turki, Mesir, Yaman, atau Tunisia, datang ke Atma. Mereka kemudian menyebar ke kota lain untuk membantu FSA bertempur melawan tentara pemerintah. Setelah selesai, mereka kembali ke Atma dan pulang ke negara mereka masing-masing,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau