Kemenangan di Stadion La Rosaleda ini menjadi awal bagus bagi Malaga yang nyaris dicoret dari Liga Champions karena telat membayar gaji para pemainnya. Tim yang musim lalu membelanjakan 60 juta euro, sekitar Rp 714 miliar, untuk membeli pemain itu kesulitan keuangan pada awal musim ini.
Sejumlah pemain pilar meninggalkan Malaga. Pengatur permainan Santi Cazorla ke Arsenal, bomber Salomon Rondon ke Rubin Kazan, dan bek tengah Joris Mathijsen ke Feyenoord.
”Saya sangat senang karena kami menghadapi lawan yang sulit dan melalui putaran pertama dengan hasil bagus,” ujar Pelatih Malaga Manuel Pellegrini.
”Dengan segala kesulitan yang kami hadapi, saya puas,” kata Pellegrini.
Malaga, yang tidak lagi memiliki penyerang andal setelah Rondon pergi, mengandalkan pemain berusia 16 tahun, Fabrice Olinga. Pilihan Pellegrini memasukkan pemain minim pengalaman itu dalam laga krusial melawan Panathinaikos sangat mengejutkan. Pengalaman yang masih sangat minim membuat Fabrice tampil kurang maksimal.
Dua gol Malaga berasal dari bek veteran Argentina, Martin Demichelis, dan gelandang asal Portugal, Eliseu. Kedua gol di babak pertama itu merupakan buah permainan kolektif Malaga. Beruntung klub ini masih memiliki Jeremy Toulalan, Joaquin Sanchez, dan Isco yang mampu mendikte alur permainan.
Mereka bertiga menjadi motor permainan Malaga saat mengandaskan Panathinaikos. Pertandingan ini milik Malaga. Mereka bisa menambah gol jika peluang dari Demichelis, Isco, dan Fabrice tidak terbuang.
Kemenangan 2-0 ini menjadi modal penting sebelum tandang ke Athena, Rabu pekan depan. Malaga akan lolos untuk pertama kali ke fase grup Liga Champions walau kalah 0-1 di Athena.
”Play off belum berakhir. Saya pikir kemenangan 1-0 sudah bagus, tetapi gol kedua memberi kami ruang untuk bernapas,” ujar Demichelis.
Kesuksesan di Athena pekan depan akan menjadi jawaban atas harapan pendukung Malaga. Di Stadion La Rosaleda, mereka memasang spanduk bertuliskan, ”Apa yang tidak pernah disaksikan kakek-kakek kami akan disaksikan anak-anak kami.” Hari bersejarah itu sudah di depan mata.
Di pertandingan lain, Udinese, yang akan menjadi wakil ketiga Italia jika lolos, memaksa tuan rumah FC Braga berbagi poin. Udinese unggul lebih dulu melalui sundulan Dusan Basta memanfaatkan umpan silang bomber veteran Antonio Di Natale pada menit ke-23.
Braga mendominasi penguasaan bola, tetapi kurang efisien begitu memasuki lini pertahanan Udinese. Perjuangan tim Portugal ini berujung gol penyama kedudukan pada menit ke-68. Ismaily melepaskan tendangan keras dari jarak 25 meter yang tidak bisa diantisipasi kiper Brkic.
Hasil 1-1 ini tidak terlalu buruk bagi Udinese. Mereka diuntungkan gol tandang saat menjamu Braga pekan depan. Namun, posisi Udinese sangat tidak aman. Braga adalah tim yang sering tampil di level Eropa dan memiliki mental kuat saat tandang.
Pelatih Udinese Francesco Guidolin mengingatkan, Udinese tidak akan lolos ke Liga Champions jika mengulangi kesalahan di putaran pertama.
”Kami sangat sadar, penampilan seperti ini tidak cukup untuk meloloskan kami,” ujar Guidolin.