Polisi Buru Pengunggah Video "Koboy China"

Kompas.com - 24/08/2012, 18:03 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Polda Metro Jaya memburu penggunggah video bertajuk "Koboy China" yang beredar di situs jejaring sosial Youtube beberapa waktu lalu. Meski masih dalam proses penyelidikan, aparat menduga pihak yang mengunggah video berdurasi dua menit itu sengaja ingin memperkeruh suasana di Jakarta.

"Sedang diadakan pendalaman, kapan di-upload dan apa maksud dan tujuannya. Kita telusuri dulu siapa pengunggahnya, sehingga dalam waktu dekat bisa diungkap," ujar Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya, Kombes Rikwanto kepada wartawan, Jumat (24/8/2012) siang.

Menurut Rikwanto, video tersebut dapat dikategorikan dalam kasus penyebaran isu SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Untuk itu, pihaknya, dalam hal ini Direktorat Kriminal Khusus bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi tengah menelusuri kasus tersebut.

Lebih jauh, ia tidak dapat mengira-ngira siapa pengunggah video tersebut. Ia juga tak mengatakan video tersebut berasal dari salah satu pasangan calon. Namun, polisi tetap menganggap, pihak yang menyebarkan isu sensitif tersebut dapat dikenakan pasal dengan mengacu pada undang-undang yang berlaku.

"Ini pihak yang memperkeruh suasana. Kita selidiki jika ini memenuhi Pasal 27 dan 28 Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE) ancaman hukuman enam tahun," lanjutnya.

Tayangan video berbau SARA itu juga mengundang tanggapan dari Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Djoko Suyanto. Secara khusus ia menggelar jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Kamis (23/8/2012). Djoko menyesalkan beredarnya video tersebut.

"Ini sangat kita sayangkan, proses demokrasi kita menjadi tidak baik dengan tayangan video ini. Peristiwa 1998 adalah kejadian yang kelam, menyedihkan. Dan kita sudah berjanji ini tidak boleh terulang lagi," kata Djoko.

Video berdurasi dua menit itu meminta kelompok masyarakat etnis Tionghoa untuk tidak ikut serta pada Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta 2012. Seseorang yang menutup wajahnya mengancam akan membuat kerusuhan seperti 1998 jika mereka ikut serta dalam pilkada. Video tersebut kini sudah diblokir di youtube.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau