Kontroversi Juventus

Kompas.com - 27/08/2012, 05:42 WIB

turin, Sabtu - Juventus tak pernah lepas dari kontroversi. Belum usai ketegangan FIGC, badan sepak bola Italia, dan manajemen klub terkait status sang manajer, Antonio Conte, kini muncul kontroversi baru. Satu penalti dan satu gol hasil tendangan bebas bagi Juventus memicu kontroversi laga hari pembuka Liga Seri A Italia 2012-2013.

Keputusan wasit Romeo memberikan penalti bagi Juventus di Turin, Sabtu (25/8), itu sempat memercikkan sejumlah protes dari para pemain Parma. Mereka membela sang penjaga gawang Antonio Mirante yang dinilai tak mengganjal Stephan Lichtsteiner di kotak terlarang. Gelandang Juventus asal Swiss itulah yang dianggap justru melakukan diving. Namun, Romeo bergeming.

Mirante yang tampil memukau sejak menit pertama tetap tegar. Dia menjalani hukuman dengan menahan tendangan penalti Arturo Vidal.

Kontroversi kedua

Memasuki babak kedua, tuan rumah unggul melalui Lichtsteiner yang menerima umpan silang mendatar di depan gawang Mirante dari Kwadwo Asamoah, gelandang asal Ghana. Lichtsteiner, yang berlari di antara dua garda Parma, menyapu umpan ke dalam gawang Mirante.

Empat menit kemudian, kontroversi kedua terjadi setelah kapten tim Parma, Alessandro Lucarelli, menjatuhkan Sebastian Giovinco di sisi kiri depan kotak terlarang. Andrea Pirlo, pemain veteran ”Si Nyonya Besar”, pun menunaikan tugasnya.

Bola tendangan datar ke pojok kiri gawang Parma mampu ditangkap Mirante yang tinggi badannya hampir 2 meter. Sebagian badan bola, dalam beberapa kali tayangan ulang, pun terlihat masih menyentuh garis putih gawang. Namun, wasit keempat, Marzalloni, memutuskan bola telah masuk ke gawang.

Sontak keputusan itu kembali menyulut protes dari Mirante dan kawan-kawannya. Wasit kembali bergeming. Tuan rumah mengunci kemenangan menjadi 2-0 hingga babak kedua usai.

Manajer Parma Roberto Donadoni menolak berkomentar lebih lanjut mengenai kontroversi ini. ”Wasit melaksanakan tugasnya dengan baik. Juga melakukan beberapa kesalahan. Anda bisa melihat penalti yang diberikan, itu bisa saja salah. Kesalahan bisa terjadi dan kita semua tak bisa mengubahnya,” kata mantan pemain AC Milan itu.

Dia menambahkan, kian banyak wasit yang bertugas di lapangan, kualitas hasil pertandingan seharusnya semakin baik. ”Tapi, kesalahan juga bisa saja terjadi,” ujarnya.

Meski demikian, dia mengakui, para pemain Parma yang kini diasuhnya terlalu takut menusuk jantung pertahanan lawan. Parma yang sebagian besar dihuni para pemain muda dinilai mantan manajer tim nasional Italia 2006-2008 tersebut tidak menunjukkan karakter permainan yang sebenarnya.

Kemenangan Juve atas Parma menguatkan keyakinan Manajer AC Milan Massimiliano Allegri bahwa Juventus masihlah menjadi favorit meski tidak akan didampingi Conte hingga akhir musim. ”Sangat jelas mereka adalah favorit juara,” katanya.

Kemenangan Montella

Di stadion yang lain, Vincenzo Montella, mantan penyerang AS Roma, kembali ke lapangan. Bukan sebagai pemain, melainkan sebagai Manajer Fiorentina musim ini. Pada pentas perdananya, dia memetik kemenangan atas Udinese dengan skor 2-1.

Adalah penyerang Fiorentina asal Yugoslavia, Stevan Jovetic, yang memastikan kemenangan klub ini atas Udinese dengan dua golnya, yaitu pada menit ke-67 dan menit ke-90. Satu-satunya gol Udinese dicetak Maicosuel pada menit ke-28.

”Memenangi pertandingan pada menit-menit akhir jelang pertandingan usai sangat melegakan. Apalagi para pemain melakukan tekanan terus-menerus terhadap pertahanan Udinese,” katanya.

Meski demikian, dia menambahkan, para pemain tidak boleh lengah dengan hasil laga perdana ini. Beberapa kelemahan, terutama dalam penyelesaian akhir, menjadi fokus utama perbaikan pada laga mendatang.

(AFP/Reuers/MHD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau