Infrastruktur

Pembangunan Jalan Tol Terus Molor

Kompas.com - 27/08/2012, 18:45 WIB

PALEMBANG, KOMPAS.com - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan Kayuagung dengan Palembang di Sumatera Selatan, terus molor dari rencana.

Kendala pembangunan jalan tersebut, di antaranya lambatnya pembebasan lahan dan pemenuhan syarat Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan).

Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), Eddy Hermanto, di Palembang, Senin (27/8/2012), mengatakan, pemprov awalnya menargetkan peletakan batu pertama pada November 2011. Namun, rencana ini diundur beberapa kali, hingga akhirnya direncanakan dilaksanakan pada Desember 2012 mendatang.

"Saat ini kami masih menunggu persyaratan Amdal. Amdal harus diubah dari Amdal jalan umum menjadi jalan tol," katanya.

Setelah Amdal disetujui, proses yang harus dilalui adalah pengajuan ke Menteri PU dan proses tender. Diharapkan, sebelum Desember pembangunan sudah dapat dimulai.

Jalan tol sepanjang 37 kilometer itu diharapkan dapat dioperasikan pada 2013. Pembangunan dan pengelolaan dilaksanakan oleh investor dari Malaysia.

Untuk pembebasan lahan, ujar Eddy, masalah pembebasan lahan sudah teratasi. Untuk Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kota Palembang, sudah disepakati diselesaikan oleh masing-masing pemerintah kota dan kabupaten.

Di lapangan, penimbunan telah mulai dilakukan di Kabupaten OKI, dengan biaya dari anggaran pendapatan dan belanja nasional. Adapun pembebasan di Kabupaten Banyuasin akan dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi Sumsel.

"Kami yakin pembebasan lahan akan selesai pada waktunya, karena pembangunan jalan juga akan dilakukan secara bertahap. Jadi tak ada masalah," ujar Eddy.

Jalan tol Kayuagung-Palembang sepanjang 37 kilometer (km) dengan lebar 50 meter. Jalan tol ini akan menjadi jalan tol pertama di Sumsel, dan merupakan bagian pertama dari tiga tahap pembangunan jalan tol dengan total panjang 137 Km.

Dua jalan tol yang akan dibangun selanjutnya adalah jalan tol Alang-alang Lebar hingga Betung sepanjang 58 kilometer, dan Jakabaring hingga Alang-alang Lebar sepanjang 42 kilometer.

Jalan tol ituberada di jalur Sumsel, Lampung, dan Jambi. Jalan tol diharap dapat mengurangi kemacetan di jalur lintas timur di Indralaya, yang merupakan jalur utama pengangkutan barang dari Pulau Jawa ke Sumatera.

Kemacetan di jalur ini dinilai merugikan masyarakat, salah satunya karena meningkatkan biaya transportasi dan harga barang.

Kepala Tim Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Herry Irman, mengatakan, banyaknya pembangunan infrastruktur di Palembang menjelang SEA Games pada 2011 lalu, telah meningkatkan geliat ekonomi di daerah tersebut. Salah satunya tercermin dari peningkatan uang yang beredar di bulan puasa lalu sebanyak sekitar 10 persen dibanding tahun lalu.

Menurut Herry, pembangunan jalan yang memadai mendesak dilakukan guna lebih mendongkrak geliat ekonomi. "Saat ini penyediaan jalan yang memadai merupakan faktor utama untuk meningkatkan geliat ekonomi di Sumsel," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau