Luka Modric, Korban Perang yang Terluka

Kompas.com - 28/08/2012, 02:58 WIB

KOMPAS.com — Uang. Ya, banyak yang mengklaim kepindahan Luka Modric dari Tottenham Hotspur ke Real Madrid lantaran soal duit.

Seorang fans "Spurs" berkomentar pedas menyusul kepindahan pemain Kroasia itu ke Santiago Bernabeu.

"Modric meninggalkan Dinamo Zagreb (ke Tottenham) karena melulu soal uang. Jadi, dia juga melakukan hal yang sama sekarang," sebut The Spurs, panggilan penggemar Tottenham.

Jika melihat gaji yang didapat Modric, jumlahnya memang bisa dibilang besar meski jauh di bawah pendapatan Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, ataupun Didier Drogba. Kabarnya, Modric dibayar 4,5 juta euro per musim (sekitar Rp 53 miliar), setara dengan yang diterima Angel Di Maria, Xabi Alonso, dan Gonzalo Higuain.

Jika dihitung per pekan, gaji Modric kira-kira 93.750 euro (sekitar Rp 1,1 miliar). Masih lebih besar dari yang diterimanya di Tottenham, yaitu 75.000 euro atau setara Rp 892 juta. Bersama Gareth Bale, Modric menjadi pemain bergaji tertinggi di White Hart Lane.

Belum puaskah Modric?

Modric langsung membantah keputusannya hijrah ke Santiago Bernabeu karena uang. Dengan tegas, pemain berusia 26 tahun itu memiliki alasan lain. Trofi!

"Aku ingin memenangi banyak trofi bersama Madrid. Aku bangga menjadi bagian dari klub terbesar dunia," ucap Modric saat jumpa pers, Senin (27/8/2012).

Modric yang terluka

Sebuah alasan tepat dari Modric mengenai alibinya pergi dari Tottenham. Meski demikian, Modric mungkin saja memikirkan masalah fulus karena memiliki kenangan buruk semasa kecil yang dijalaninya di kota kelahirannya, Zadar.

Modric cilik tak memiliki tempat tinggal permanen. Pada usia 6 tahun, Modric harus berpindah-pindah tempat tinggal karena perang yang terjadi di Kroasia. Saat itu, serangan tentara-tentara Serbia ke Zadar membuat Modric dan keluarganya ketakutan dan hidup tak tenang berkubang kemiskinan.

Batin Modric terluka. Kakek kesayangannya meninggal di medan perang. Setelah itu, dia sempat harus mengungsi ke sebuah pulau bernama Iz, dekat Zadar.

Hidup sulit dalam ketakutan tak membuat Modric tumbuh menjadi sosok yang lemah. Hidupnya mulai berubah kala Stipe, ayah Modric, pulang dari medan perang. Dengan dana secukupnya, Stipe mendirikan akademi sepak bola. Modric adalah salah satu muridnya.

Beberapa tahun menimba ilmu di akademi milik sang ayah, klub besar Kroasia, Dinamo Zagreb, kepincut bakat Modric. Pada 2002, saat berusia 17 tahun, Modric resmi direkrut Dinamo.

Sempat dipinjamkan ke Zrinjski (2003-04) dan Inter Zapresic (2004-05), Modric lantas menjadi andalan lini tengah Dinamo sampai 2008. Tahun tersebut menjadi tahun terakhir Modric bersama Dinamo. Tottenham datang dengan tawaran 16,5 juta pounds kepada Dinamo agar melepas Modric.

Petualangan Modric di luar Kroasia pun dimulai. Banyak orang boleh mengatakan Modric sebagai pemain matre. Namun, etos kerja dan statistik penampilannya di lapangan selama berbaju "Spurs" mematahkan stigma itu.

Awal musim lalu, Modric sempat marah karena gagal hengkang ke Chelsea. Namun, pria berpostur 171 sentimeter itu tetap bersikap profesional dan bermain sepenuh hati. Kecemerlangan kontribusinya direkam dengan lima gol dalam 40 pertandingan.

So, dengan sikap profesional yang dimilikinya, wajar jika Modric ingin berpendapatan besar. Seperti ujar-ujar yang dikatakan miliarder Amerika Serikat, Warren Buffet, "Price is what you pay. Value is what you get".

Ya, Modric pantas mendapat "porsi" lebih. Bukan cuma dalam hal gaji, melainkan juga trofi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau