KOMPAS.com — Uang. Ya, banyak yang mengklaim kepindahan Luka Modric dari Tottenham Hotspur ke Real Madrid lantaran soal duit.
Seorang fans "Spurs" berkomentar pedas menyusul kepindahan pemain Kroasia itu ke Santiago Bernabeu.
"Modric meninggalkan Dinamo Zagreb (ke Tottenham) karena melulu soal uang. Jadi, dia juga melakukan hal yang sama sekarang," sebut The Spurs, panggilan penggemar Tottenham.
Jika melihat gaji yang didapat Modric, jumlahnya memang bisa dibilang besar meski jauh di bawah pendapatan Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, ataupun Didier Drogba. Kabarnya, Modric dibayar 4,5 juta euro per musim (sekitar Rp 53 miliar), setara dengan yang diterima Angel Di Maria, Xabi Alonso, dan Gonzalo Higuain.
Jika dihitung per pekan, gaji Modric kira-kira 93.750 euro (sekitar Rp 1,1 miliar). Masih lebih besar dari yang diterimanya di Tottenham, yaitu 75.000 euro atau setara Rp 892 juta. Bersama Gareth Bale, Modric menjadi pemain bergaji tertinggi di White Hart Lane.
Belum puaskah Modric?
Modric langsung membantah keputusannya hijrah ke Santiago Bernabeu karena uang. Dengan tegas, pemain berusia 26 tahun itu memiliki alasan lain. Trofi!
"Aku ingin memenangi banyak trofi bersama Madrid. Aku bangga menjadi bagian dari klub terbesar dunia," ucap Modric saat jumpa pers, Senin (27/8/2012).
Modric yang terluka
Sebuah alasan tepat dari Modric mengenai alibinya pergi dari Tottenham. Meski demikian, Modric mungkin saja memikirkan masalah fulus karena memiliki kenangan buruk semasa kecil yang dijalaninya di kota kelahirannya, Zadar.
Modric cilik tak memiliki tempat tinggal permanen. Pada usia 6 tahun, Modric harus berpindah-pindah tempat tinggal karena perang yang terjadi di Kroasia. Saat itu, serangan tentara-tentara Serbia ke Zadar membuat Modric dan keluarganya ketakutan dan hidup tak tenang berkubang kemiskinan.
Batin Modric terluka. Kakek kesayangannya meninggal di medan perang. Setelah itu, dia sempat harus mengungsi ke sebuah pulau bernama Iz, dekat Zadar.
Hidup sulit dalam ketakutan tak membuat Modric tumbuh menjadi sosok yang lemah. Hidupnya mulai berubah kala Stipe, ayah Modric, pulang dari medan perang. Dengan dana secukupnya, Stipe mendirikan akademi sepak bola. Modric adalah salah satu muridnya.
Beberapa tahun menimba ilmu di akademi milik sang ayah, klub besar Kroasia, Dinamo Zagreb, kepincut bakat Modric. Pada 2002, saat berusia 17 tahun, Modric resmi direkrut Dinamo.
Sempat dipinjamkan ke Zrinjski (2003-04) dan Inter Zapresic (2004-05), Modric lantas menjadi andalan lini tengah Dinamo sampai 2008. Tahun tersebut menjadi tahun terakhir Modric bersama Dinamo. Tottenham datang dengan tawaran 16,5 juta pounds kepada Dinamo agar melepas Modric.
Petualangan Modric di luar Kroasia pun dimulai. Banyak orang boleh mengatakan Modric sebagai pemain matre. Namun, etos kerja dan statistik penampilannya di lapangan selama berbaju "Spurs" mematahkan stigma itu.
Awal musim lalu, Modric sempat marah karena gagal hengkang ke Chelsea. Namun, pria berpostur 171 sentimeter itu tetap bersikap profesional dan bermain sepenuh hati. Kecemerlangan kontribusinya direkam dengan lima gol dalam 40 pertandingan.
So, dengan sikap profesional yang dimilikinya, wajar jika Modric ingin berpendapatan besar. Seperti ujar-ujar yang dikatakan miliarder Amerika Serikat, Warren Buffet, "Price is what you pay. Value is what you get".
Ya, Modric pantas mendapat "porsi" lebih. Bukan cuma dalam hal gaji, melainkan juga trofi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang