Kawasan Gaza Tak Layak Huni pada 2020

Kompas.com - 28/08/2012, 10:07 WIB

GAZA, KOMPAS.com - Gaza tidak lagi layak dihuni pada 2020 nanti, kecuali diambil langkah drastis untuk memperbaiki pasokan air, listrik, kesehatan, dan pendidikan. Demikian kesimpulan laporan PBB atas kondisi kawasan Palestina tersebut yang diumumkan hari Senin (27/08).

"Saat ini kondisinya sudah sulit, apalagi pada 2020 nanti. Harus diambil langkah-langkah segera agar Gaza tetap bisa ditempati," kata Maxwell Gaylard, koodinator bantuan kemanusian PBB.  "Harus ada tindakan untuk meningkatkan kebutuhan pokok seperti air bersih, listrik, pendidikan, kesehatan, dan beberapa aspek lain," tambah Gaylard.

Warga yang tinggal di kawasan Gaza mencapai 1,6 juta jiwa dan diperkirakan akan bertambah 500.000 dalam delapan tahun ke depan, 51 persen di antaranya berusia di bawah 18 tahun.

Perekonomian tak bergerak

Dalam lima tahun terakhir Gaza mengalami blokade Israel. Gaza dikuasai Hamas, kelompok Palestina yang menolak perjanjian damai permanen dengan Israel, sejak 2007.

Hamas dan Israel terlibat perang selama tiga pekan pada Januari 2009 dan Israel sejauh ini menolak desakan internasional untuk mencabut blokade atas Gaza.

Kawasan ini tidak memiliki bandar udara maupun pelabuhan laut dan sering terlibat kontak senjata dengan militer Israel.

Laporan PBB menyebutkan blokade Israel membuat perekonomian Gaza nyaris tak bergerak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau