Kapal Pengungsi Hilang

Kompas.com - 31/08/2012, 05:30 WIB

Sydney, Kamis - Sebanyak 45 pencari suaka yang terombang-ambing di laut diselamatkan sebuah kapal dagang dan awak Angkatan Laut Australia, Kamis (30/8), sehari setelah kapal yang mereka tumpangi ke Australia hilang di lepas pantai Indonesia. Kapal itu dimuati 150 penumpang, termasuk anak-anak.

Pihak berwenang Indonesia mengoordinasikan pencarian kapal yang pertama kali dilaporkan dalam bahaya di Selat Sunda, Rabu. Beberapa kapal dagang dan helikopter penyelamat dikirim ke lokasi yang diduga menjadi tempat hilangnya kapal itu, sekitar 42 mil laut lepas pantai Jawa.

Badan SAR Nasional menerima kabar dari Otoritas Keamanan Maritim Australia (AMSA), Rabu dini hari, bahwa sebuah kapal berada dalam bahaya di perairan Selat Sunda antara Jawa dan Sumatera, 220 mil laut dari Pulau Christmas yang termasuk wilayah Australia.

Menurut kantor berita AFP, Basarnas mengirim dua kapal penyelamat polisi dan sebuah helikopter, tetapi tak menemukan apa pun dan kembali ke pangkalan. Setelah Indonesia menghentikan pencarian, AMSA meminta kapal dagang APL Bahrain yang berbendera Liberia—yang merespons permintaan bantuan sebelumnya pada kapal-kapal dagang—untuk ikut mencari di daerah pencarian yang lebih luas.

Enam orang diselamatkan Kamis dini hari oleh kapal dagang itu, dan 39 lainnya ditarik dari laut oleh awak AL Australia setelah diketahui lokasinya oleh pesawat pencari, Kamis malam.

”Kapal-kapal yang terlibat dalam operasi SAR di Indonesia telah menemukan 45 orang selamat,” kata AMSA.

”Tiga orang dari penumpang yang selamat mengalami cedera parah, tetapi dalam kondisi stabil,” ujar AMSA. Australian Broadcasting Corporation mengatakan, salah seorang korban menderita gigitan ikan hiu.

Kapten kapal APL Bahrain, Manuel Nistorescu, mengatakan, teriakan dan bunyi peluit menarik perhatian awak kapalnya saat mereka melayari Selat Sunda dalam kegelapan.

”Kami melakukan pencarian terjadwal. Pada saat terakhir, ketika saya berpikir untuk menghentikan pencarian, saya mendengar suara-suara, dan kami melihat mereka di perairan,” kata Nistorescu pada situs harian Sydney Morning Herald.

”Saya mengirim awak kapal untuk mengambil mereka. Hal itu tidak mudah karena gelap.”

Kepada Fairfax Media, Nistorescu mengatakan, keenam pria yang diselamatkan itu, semuanya pria Afganistan, telah berada di air selama hampir 24 jam. Kondisi mereka tampak baik.

Menteri Dalam Negeri Australia Jason Clare mengkhawatirkan nasib penumpang yang belum ditemukan, termasuk perempuan dan anak-anak. ”Kami mengkhawatirkan korban lebih banyak lagi. Jangan anggap remeh kesulitan menemukan orang di tengah laut,” katanya.

AMSA mengatakan, mereka yang selamat akan dibawa ke Pelabuhan Merak untuk pemeriksaan medis. Sebuah kapal penyelamat Indonesia yang membawa dokter berlayar ke area tempat kapal itu tenggelam bersama kapal polisi.

Empat kapal dagang meneruskan pencarian bersama HMAS Maitland dan dua pesawat P3 Orion Australia.

Pencari suaka

Australia menghadapi gelombang pencari suaka yang datang dengan perahu. Banyak di antaranya menggunakan Indonesia sebagai tempat transit, dan membayar penyelundup manusia untuk naik perahu kayu setelah lari dari negara asal mereka.

Canberra mengatakan, sekitar 300 manusia perahu tewas tahun ini dalam perjalanan ke Australia. Perahu-perahu mereka dicegat oleh AL Australia hampir setiap hari. Dua pekan lalu, Canberra mengumumkan niat memindahkan para pencari suaka ke Nauru dan Papua Niugini di Pasifik, sebagai bagian dari sebuah kebijakan yang lebih keras untuk mencegah mereka melakukan perjalanan laut yang berbahaya.

(AFP/AP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau