Saling Kecam di KTT

Kompas.com - 01/09/2012, 05:07 WIB

TEHERAN, KOMPAS - Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kembali mengecam musuh bebuyutannya, Amerika Serikat, yang dia sebut sebagai pelaku kekerasan di dunia. Namun, Iran juga mendapat kejutan dari Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, yang mengecam negara itu soal Israel.

Khamenei menyampaikan kecamannya terhadap AS dalam pidatonya di depan para peserta Konferensi Tingkat Tinggi Gerakan Nonblok (KTT GNB) di Teheran, Kamis (30/8).

”Mereka (AS) bicara soal hak asasi manusia ketika yang mereka maksudkan adalah kepentingan negara-negara Barat. Mereka bicara soal demokrasi ketika yang mereka maksudkan adalah intervensi militer ke negara lain,” ujar Khamenei.

Dalam forum yang sama, Sekjen PBB mengeluarkan pernyataan mengejutkan yang sekaligus mengecam tuan rumah Iran.

Dalam pidato, yang ”terpaksa” juga harus didengarkan tuan rumah itu, Ban mengecam seruan Iran yang ingin menghancurkan Israel dan penyangkalan negara itu atas peristiwa Holocaust.

Seperti diwartakan sebelumnya, rencana kehadiran Ban di Teheran mendapat tentangan keras AS dan Israel.

Sementara Iran diketahui ingin menjadikan momen KTT GNB sebagai kampanyenya menentang dominasi negara Barat, terutama AS.

”Saya sangat menentang ancaman yang dilakukan negara mana pun yang akan menghancurkan negara lain. Saya juga sangat menentang penyangkalan terhadap fakta-fakta sejarah, termasuk peristiwa Holocaust,” ujar Ban dalam pidatonya tanpa spesifik menyebut nama Iran.

Menurut Ban, klaim Iran yang menyebut Israel tak punya hak untuk ada atau pernyataan rasis lainnya tidak hanya salah, tetapi juga merendahkan prinsip-prinsip dasar yang selama ini dijunjung anggota PBB.

Pernyataan Ban diapresiasi pakar Iran-Israel, Meir Javedanfar, yang menyebut Israel harus berterima kasih kepada Ban walau pernyataan itu masih terkesan ”menggantung”.

”Dalam sejarah, tak seorang pun berani menentang Pemimpin Besar Iran (Ayatollah Ali Khamenei) seperti dilakukan Ban,” ujar Javedanfar.

Tata kelola baru

Wakil Presiden Boediono kepada wartawan Kompas, C Wahyu Haryo PS, di Teheran, menekankan pentingnya GNB berkontribusi lebih besar pada perdamaian dan keamanan dunia di masa depan. GNB juga harus berupaya mendorong pembangunan politik, keadilan sosial, dan demokratisasi.

Boediono juga menekankan perlunya reformasi tata kelola global, termasuk reformasi Dewan Keamanan PBB. Kepada Kompas di Jakarta, Jumat, Menteri Luar Negeri RI Marty Natalegawa menyebut, upaya reformasi DK PBB ini, terutama soal perubahan komposisi keanggotaan, masih butuh proses lama.

”Saat ini solusi tengah (intermediate solutions) yang diusung bersama adalah bagaimana menyepakati keanggotaan tidak tetap DK PBB bisa diperpanjang, dari dua tahun menjadi lima tahun, untuk kemudian ditinjau kembali setelah lima tahun,” ujar Marty. (REUTERS/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau