Stok Bulog Harus Kuat

Kompas.com - 03/09/2012, 06:51 WIB

Jakarta, Kompas - Tim Revitalisasi Bulog telah selesai melakukan kajian dan menyusun rekomendasi soal revitalisasi peran Bulog dalam stabilisasi pangan yang bersifat strategis. Pengamat meminta agar peran swasta harus dicegah dalam impor komoditas strategis.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso, Sabtu (1/9), di Jakarta, mengatakan, Senin ini rekomendasi Tim Revitalisasi Bulog akan dibahas pada tingkat menteri dalam Rapat Koordinasi Menko Perekonomian untuk membahas pangan. ”Setelah itu disampaikan ke Presiden,” katanya.

Sutarto menolak menjelaskan secara detail apa saja rekomendasi Tim Revitalisasi Bulog. Selain bukan kewenangannya, juga belum masuk pembahasan tingkat menteri.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Juli 2012 menginstruksikan agar fungsi Bulog direvitalisasi sebagai stabilisasi harga komoditas pangan yang bersifat strategis, tidak hanya untuk beras, tetapi juga komoditas pangan lain.

Pengamat pertanian dari UGM, M Maksum, ketika dihubungi, mengatakan, ada keinginan publik agar Bulog tidak boleh memonopoli impor. Namun, untuk komoditas strategis ia meminta agar importir swasta tidak diberi peluang.

”Saya tegaskan jangan beri peluang importir swasta. Sekali swasta dilibatkan dalam komoditas strategis, negara akan bertekuk lutut. Selama ini, kan, sudah cukup bukti kelemahan negara terlihat ketika swasta masuk di wilayah ini. Krisis kedelai dan melonjaknya harga gula cukup jadi bukti kalau pemerintah dimainkan importir,” katanya.

Maksum juga menilai, ide pelibatan swasta dengan kewajiban memproduksi pangan di dalam negeri merupakan langkah akal-akalan saja.

”Mana sanggup importir memproduksi pangan. Contoh dalam kasus gula, importir tetap sebagai pedagang. Mereka malah menahan stok yang mengakibatkan harga melonjak. Pemerintah ditipu. Negara tidak mempunyai kekuatan begitu swasta ikut mengimpor komoditas strategis,” katanya.

Sutarto mengatakan, kalau boleh memilih, Bulog ingin agar kewenangan impor komoditas beras, gula, dan kedelai sepenuhnya dilakukan Bulog. Kalaupun swasta juga masuk, Bulog minimal menguasai kuota impor 50 persen. ”Kalau tidak, Bulog tidak akan mampu mengendalikan harga di pasar saat terjadi fluktuasi,” katanya.

Menurut Sutarto, agar Bulog efektif mengintervensi pasar, Bulog harus punya stok memadai dibandingkan swasta. Untuk impor gula dan kedelai, misalnya, setidaknya Bulog mendapat kuota impor separuhnya.

Khusus gula, untuk pengadaan stok dari dalam negeri seharusnya gula produksi perusahaan gula BUMN diserahkan ke Bulog. Kalau Bulog harus bersaing dengan swasta jelas kalah. Untuk kedelai, Bulog akan menyerap kedelai dalam negeri sebagai syarat impor.

Ketua Tim Revitalisasi Bulog sekaligus Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, tim telah menyelesaikan penyusunan rekomendasi terkait revitalisasi Bulog.

Namun, Bayu belum bersedia memberikan informasi yang lebih konkret. Yang jelas, kata Bayu, untuk stabilisasi pangan strategi utama harus tetap peningkatan produksi dalam negeri yang bertumpu pada petani.

Menurut Bayu, peran BUMN dalam hal logistik dan perdagangan adalah mendukung peningkatan produksi dalam negeri tersebut, yaitu memastikan petani memperoleh pendapatan layak dari kegiatan usaha taninya.

Adapun untuk konsumen, baik konsumen-antara (perajin/industri) maupun konsumen akhir, yang paling membutuhkan, yaitu pengusaha kecil serta kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan di daerah terpencil, dapat memperoleh produk pangan sebagaimana mestinya.

(MAS/GRE/REK/ADH/ SIR/TIF/MAR)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau