Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso, Sabtu (1/9), di Jakarta, mengatakan, Senin ini rekomendasi Tim Revitalisasi Bulog akan dibahas pada tingkat menteri dalam Rapat Koordinasi Menko Perekonomian untuk membahas pangan. ”Setelah itu disampaikan ke Presiden,” katanya.
Sutarto menolak menjelaskan secara detail apa saja rekomendasi Tim Revitalisasi Bulog. Selain bukan kewenangannya, juga belum masuk pembahasan tingkat menteri.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Juli 2012 menginstruksikan agar fungsi Bulog direvitalisasi sebagai stabilisasi harga komoditas pangan yang bersifat strategis, tidak hanya untuk beras, tetapi juga komoditas pangan lain.
Pengamat pertanian dari UGM, M Maksum, ketika dihubungi, mengatakan, ada keinginan publik agar Bulog tidak boleh memonopoli impor. Namun, untuk komoditas strategis ia meminta agar importir swasta tidak diberi peluang.
”Saya tegaskan jangan beri peluang importir swasta. Sekali swasta dilibatkan dalam komoditas strategis, negara akan bertekuk lutut. Selama ini, kan, sudah cukup bukti kelemahan negara terlihat ketika swasta masuk di wilayah ini. Krisis kedelai dan melonjaknya harga gula cukup jadi bukti kalau pemerintah dimainkan importir,” katanya.
Maksum juga menilai, ide pelibatan swasta dengan kewajiban memproduksi pangan di dalam negeri merupakan langkah akal-akalan saja.
”Mana sanggup importir memproduksi pangan. Contoh dalam kasus gula, importir tetap sebagai pedagang. Mereka malah menahan stok yang mengakibatkan harga melonjak. Pemerintah ditipu. Negara tidak mempunyai kekuatan begitu swasta ikut mengimpor komoditas strategis,” katanya.
Sutarto mengatakan, kalau boleh memilih, Bulog ingin agar kewenangan impor komoditas beras, gula, dan kedelai sepenuhnya dilakukan Bulog. Kalaupun swasta juga masuk, Bulog minimal menguasai kuota impor 50 persen. ”Kalau tidak, Bulog tidak akan mampu mengendalikan harga di pasar saat terjadi fluktuasi,” katanya.
Menurut Sutarto, agar Bulog efektif mengintervensi pasar, Bulog harus punya stok memadai dibandingkan swasta. Untuk impor gula dan kedelai, misalnya, setidaknya Bulog mendapat kuota impor separuhnya.
Khusus gula, untuk pengadaan stok dari dalam negeri seharusnya gula produksi perusahaan gula BUMN diserahkan ke Bulog. Kalau Bulog harus bersaing dengan swasta jelas kalah. Untuk kedelai, Bulog akan menyerap kedelai dalam negeri sebagai syarat impor.
Ketua Tim Revitalisasi Bulog sekaligus Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan, tim telah menyelesaikan penyusunan rekomendasi terkait revitalisasi Bulog.
Namun, Bayu belum bersedia memberikan informasi yang lebih konkret. Yang jelas, kata Bayu, untuk stabilisasi pangan strategi utama harus tetap peningkatan produksi dalam negeri yang bertumpu pada petani.
Menurut Bayu, peran BUMN dalam hal logistik dan perdagangan adalah mendukung peningkatan produksi dalam negeri tersebut, yaitu memastikan petani memperoleh pendapatan layak dari kegiatan usaha taninya.
Adapun untuk konsumen, baik konsumen-antara (perajin/industri) maupun konsumen akhir, yang paling membutuhkan, yaitu pengusaha kecil serta kelompok masyarakat berpendapatan rendah dan di daerah terpencil, dapat memperoleh produk pangan sebagaimana mestinya.