Arena PON 2008 di Kalimantan Timur dibangun di lima kabupaten/kota, yaitu Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Bontang, dan Berau. Banyak arena merupakan arena baru dan sebagian kecil arena lama yang direnovasi menjelang PON, dengan dana total Rp 3,5 triliun.
Dari pengamatan Kompas, Sabtu dan Minggu (1-2/9), mayoritas arena tak terpakai dan tidak terawat.
Lapangan tembak di daerah Manggar, Balikpapan, misalnya, dari jauh tampak masih bagus, tetapi sebagian besar ruangannya pengap dan berdebu. Hanya lapangan tembak range 10, 50, dan 25 meter serta ruangan indoor untuk final yang masih sering dikunjungi.
Padahal, arena menembak dengan 100 ruangan itu pernah dianggap sebagai arena terbaik dan terluas di Indonesia. Bahkan, lapangan tembak 300 meter berubah menjadi seperti kebun alang-alang. Tribune penonton yang berisi 400 kursi berdebu dan kotor. Langit-langit berlubang karena rembesan air dan akhirnya jadi sarang burung.
”Terakhir kali lapangan 300 meter ini dipakai, ya, saat PON 2008,” ujar Yanti, salah satu atlet menembak Kaltim, Sabtu, di sela-sela persiapan kontingen menembak asal Kaltim bertolak ke PON 2012 Riau.
Di Samarinda, kompleks olahraga Palaran pun dalam kondisi mengenaskan. Kolam renang di arena akuatik berubah menjadi kolam penadah hujan.
Dari empat kolam, hanya satu yang dipakai untuk latihan rutin TNI. Dua stadion sepak bola di Palaran pun kini menganggur.
Di sekeliling kompleks ini seakan tidak ada denyut kehidupan. Di areal halamannya hanya ada genangan air kotor, rumput yang tumbuh subur di konblok, serta pagar yang berkarat dan rusak.
Arena bulu tangkis dan panjat dinding masih dimanfaatkan sesekali. Sementara arena lain, seperti sepatu roda, bisbol, dan sofbol, sungguh merana. Upaya meramaikan kompleks Palaran sudah dilakukan berkali-kali, tetapi gagal.
Kepala Seksi Unit Pelayanan Teknis Daerah Pengelolaan Stadion Utama Palaran dan Stadion Madya Sempaja, Syahrani, mengatakan, hanya ruang serbaguna yang dikemas menjadi arena futsal yang sering digunakan. ”Kami pernah coba meramaikan Palaran dengan imbauan agar olahraga dilangsungkan di Palaran dan mengupayakan wisata belanja. Namun, tetap sepi peminat karena Palaran terlalu jauh dari Samarinda (sekitar 20 kilometer). Saya tidak bisa bicara lagi bagaimana cara meramaikan Palaran,” katanya.
Dari semua arena PON 2008, hanya Tennis Court Center di Balikpapan yang mulai dimanfaatkan meskipun belum optimal. Terdapat 7 lapangan tenis terbuka dan 2 indoor. Lapangan tenis lebih banyak digunakan pada Sabtu-Minggu bersamaan dengan anak-anak remaja yang bermain skateboard di depan lapangan tenis indoor.
Kepala Bidang Olahraga Dinas Pemuda dan Olahraga Kaltim Ego Arifin mengakui, arena bekas PON tidak terawat baik. Pemeliharaan arena-arena itu kini diserahkan kepada pemerintah kabupaten/kota.
Syahrani menegaskan, pihaknya mendapat alokasi dana pemeliharaan Rp 5 miliar per tahun. Ia mengakui, dana yang juga dipakai untuk membayar gaji pegawai itu tidak cukup untuk pemeliharaan secara optimal dan hanya memadai untuk membersihkan sampah dan ilalang.
Di Sumatera Selatan, arena eks PON 2004 yang rusak dan telantar terdapat di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin. Di sini terdapat arena terbang layang, balap motor, dan pacuan kuda.
Kondisi landasan sirkuit balap motor Sky Land yang digunakan pada PON 2004 sudah pecah-pecah dan tipis. Tidak pernah ada pengerasan dalam tiga tahun terakhir. Selain itu, di sekitar kawasan arena juga ditumbuhi banyak rumput.
Kondisi merana pun terlihat di lapangan terbang untuk terbang layang yang rusak di beberapa bagian bangunannya. ”Dua arena itu tak pernah digunakan lagi sejak sekitar dua tahun terakhir ini,” kata Erlangga (35), aktivis pemuda Sekayu.
Arena pacuan kuda juga tidak pernah lagi digunakan untuk kompetisi berkuda. Arena itu lebih banyak digunakan sebagai gedung pertemuan dan kegiatan masyarakat umum.
Di Palembang, arena eks PON XVI terlihat dalam kondisi lebih baik dan terawat. Ini disebabkan renovasi baru dilakukan menjelang SEA Games 2011.
Beberapa arena bekas PON yang terdapat di Palembang, antara lain Kolam Renang Lumban Tirta, Gedung Olahraga Ranau di Kompleks Jakabaring, lapangan sofbol dan bisbol di Jakabaring, serta Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, dalam kondisi baik.
Anggota Badan Anggaran DPRD Sumsel Agus Sutikno mengatakan, Pemerintah Provinsi Sumsel menganggarkan Rp 7 miliar untuk pemeliharaan arena olahraga, bekas PON dan SEA Games di Palembang.
Di Jawa Timur hanya arena atletik di GOR Delta Sidoarjo yang sedikit rusak. Lintasan atletik di dalam GOR sudah tidak layak digunakan dan hingga kini belum juga diperbaiki. ”Kondisi GOR kalau hanya untuk latihan standar PON masih sangat layak. Namun, jika untuk perhelatan internasional, sudah tidak layak karena bahan sintetis lintasan sudah rusak,” kata Edy Mintarto, Ketua Harian PASI Jatim.
Namun, lapangan sepak bola di arena yang sama terpelihara dengan baik karena digunakan tim Delta Sidoarjo, Deltras Sidoarjo U-21, dan sekolah sepak bola di Sidoarjo.
Arena PON Jatim 2000 lainnya, seperti GOR Kertajaya untuk pertandingan bola basket, kolam renang KONI Jatim, dan GOR Bulu Tangkis Sudirman, masih dalam kondisi baik. Hampir semua arena olahraga ini dikelola oleh yayasan dan tidak boleh dipakai untuk kegiatan non-olahraga.
Pelaksana Tugas KONI Jatim Erlangga Satriagung mengatakan, untuk menyiasati minimnya biaya pemeliharaan arena olahraga dari Pemprov Jatim yang hanya Rp 1 miliar per tahun, KONI menggandeng yayasan yang menjadi pengelola di arena olahraga itu. ”Yayasan itu bertanggung jawab untuk pemeliharaan, tetapi untuk peralatan tetap dibiayai KONI,” katanya.
Lintasan atletik belum dapat diperbaiki karena membutuhkan dana minimal Rp 3,6 miliar.
Anggota Komisi X DPR, Dedi Gumelar, mengatakan, pemerintah daerah harus menyusun rencana penggunaan arena olahraga sebelum membangun untuk penyelenggaraan PON. Tanpa rencana jelas, arena pasti akan telantar seusai PON.