Masih Ada Spanduk Bermuatan SARA yang Dijaga

Kompas.com - 04/09/2012, 18:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Panitia Pengawas Pemilu Provinsi DKI Jakarta diharapkan dapat bersikap tegas dalam membersihkan spanduk-spanduk yang menyinggung suku, agama, ras, dan antargolongan jelang putaran kedua pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Pasalnya, hingga kini sejumlah spanduk serupa masih terlihat di beberapa kawasan.

"Di Jelambar dan Angke, ada sejumlah spanduk bernada intimidatif dengan kata-kata keras bernuansa SARA. Ada simbol pedangnya lagi," kata penggiat hak asasi manusia, Usman Hamid, dalam diskusi Pilkada DKI Jakarta di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (4/9/2012).

Ia menuturkan, lokasi tempat pemasangan spanduk terlihat dijaga kelompok orang tertentu. Saat ia dan istrinya hendak mengambil gambar spanduk yang menyerang pihak tertentu itu, mereka langsung dihardik.

"Waktu mau dipotret, orang-orang itu teriak-teriak. Sepertinya ada yang sengaja ditempatkan untuk mengamankan spanduk supaya tidak dipotret atau dilepasin," kata Usman.

Menurut Usman, munculnya spanduk-spanduk bernada provokatif itu tak lepas dari lemahnya sikap pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam penegakan aturan. Meskipun sudah dipermasalahkan sejak putaran pertama pilkada, hingga kini masih tetap bermunculan perangkat kampanye bermuatan SARA.

"Sejauh ini tidak ada tanggapan bahwa politik SARA adalah masalah serius yang bisa menyebabkan bentrok. Tidak ada niat penyelenggara untuk berikan sanksi tegas," kata mantan Koordinator Komisi untuk Korban Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) tersebut.

Sementara itu, tokoh Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama (AKKBB), Romo Benny Susetyo, mengatakan bahwa pemimpin yang melindungi ataupun membiarkan isu SARA dikembangkan oleh bawahannya adalah tipikal pemimpin yang kerdil dalam nilai kebangsaan. Ia mengatakan, ideologi negara kita adalah Pancasila yang memayungi setiap warga negara dengan latar belakang yang berbeda-beda. Oleh karena itu, bila terjadi pembiaran terhadap penyebaran isu SARA, Benny menilai pemimpin tersebut telah mengkhianati nilai kebangsaan.

"Pemimpin jangan kerdil dengan mengaduk-aduk isu SARA. Itu sama artinya, pemimpin tersebut telah mencederai ideologi negara, mengingkari Pancasila," kata Benny.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau