Semua Pun Latah Membangun Klaster...

Kompas.com - 04/09/2012, 23:42 WIB

BEKASI, KOMPAS.com — Realestate Indonesia Bekasi (REI Bekasi), Jawa Barat, mencatat permintaan rumah tinggal di wilayah setempat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Para pengembang perlu memanfaatkan kondisi ini untuk membangun perumahan nyaman bagi warga Bekasi.

"Sepertinya permintaan rumah akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Karena Jakarta sudah padat, wilayah penyangga seperti Bekasi menjadi alternatif," ujar Pengurus Bidang Komunikasi REI Bekasi, Tuti Mugiastuti, di Cikarang, Selasa (4/9/2012).

Ia mengatakan, keterbatasan lahan di lokasi strategis tidak menghalangi minat masyarakat memiliki rumah. Terlebih lagi, rumah tersebut berada di lokasi yang mudah diakses sehingga sangat berpengaruh pada harga.

"Masyarakat dengan penghasilan pas-pasan tentu akan memilih rumah yang harganya terjangkau, walaupun akses utamanya menuju pusat kota jauh," ujarnya.

Secara terpisah, Arief Maulana, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Dinas Tata Kota Bekasi, mengatakan bahwa permukiman berkonsep klaster di Bekasi meningkat pesat dalam kurun setahun terakhir.

"Setiap bulan selalu ada tren dari pengembang untuk memanfaatkan lahan yang tanggung sebagai perumahan klaster agar meningkatkan harga jual," ujarnya.

Demam klaster

Menurut dia, menjamurnya pembangunan perumahan klaster karena belum ada aturan main yang membatasi batas minimum lahan. Selain itu, kawasan klaster tidak memerlukan modal besar, tetapi bisa dijual dengan harga tinggi yang tergantung pada penataan lingkungannya.

Arief mengatakan, lahan ideal untuk pembangunan klaster minimal 3.000 meter persegi. Namun pada kenyataannya, ada saja masyarakat yang mendirikan klaster walau hanya dengan lima rumah.

Setiap bulannya, kata dia, Dinas Tata Kota menerima ratusan permohonan izin perumahan dengan konsep lahan minim. Menurut dia, konsep ini tengah menjamur di sejumlah kawasan padat penduduk yang memiliki tata kota yang sudah baik, seperti di kawasan Bekasi Timur dan Bekasi Selatan.

"Biasanya para pengembang hanya memanfaatkan lahan-lahan kecil untuk permukiman klaster dan akses strategis minimal dekat dengan tol," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau