BEKASI, KOMPAS.com — Realestate Indonesia Bekasi (REI Bekasi), Jawa Barat, mencatat permintaan rumah tinggal di wilayah setempat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Para pengembang perlu memanfaatkan kondisi ini untuk membangun perumahan nyaman bagi warga Bekasi.
"Sepertinya permintaan rumah akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Karena Jakarta sudah padat, wilayah penyangga seperti Bekasi menjadi alternatif," ujar Pengurus Bidang Komunikasi REI Bekasi, Tuti Mugiastuti, di Cikarang, Selasa (4/9/2012).
Ia mengatakan, keterbatasan lahan di lokasi strategis tidak menghalangi minat masyarakat memiliki rumah. Terlebih lagi, rumah tersebut berada di lokasi yang mudah diakses sehingga sangat berpengaruh pada harga.
"Masyarakat dengan penghasilan pas-pasan tentu akan memilih rumah yang harganya terjangkau, walaupun akses utamanya menuju pusat kota jauh," ujarnya.
Secara terpisah, Arief Maulana, Kepala Bidang Pengendalian dan Pemanfaatan Ruang Dinas Tata Kota Bekasi, mengatakan bahwa permukiman berkonsep klaster di Bekasi meningkat pesat dalam kurun setahun terakhir.
"Setiap bulan selalu ada tren dari pengembang untuk memanfaatkan lahan yang tanggung sebagai perumahan klaster agar meningkatkan harga jual," ujarnya.
Demam klaster
Menurut dia, menjamurnya pembangunan perumahan klaster karena belum ada aturan main yang membatasi batas minimum lahan. Selain itu, kawasan klaster tidak memerlukan modal besar, tetapi bisa dijual dengan harga tinggi yang tergantung pada penataan lingkungannya.
Arief mengatakan, lahan ideal untuk pembangunan klaster minimal 3.000 meter persegi. Namun pada kenyataannya, ada saja masyarakat yang mendirikan klaster walau hanya dengan lima rumah.
Setiap bulannya, kata dia, Dinas Tata Kota menerima ratusan permohonan izin perumahan dengan konsep lahan minim. Menurut dia, konsep ini tengah menjamur di sejumlah kawasan padat penduduk yang memiliki tata kota yang sudah baik, seperti di kawasan Bekasi Timur dan Bekasi Selatan.
"Biasanya para pengembang hanya memanfaatkan lahan-lahan kecil untuk permukiman klaster dan akses strategis minimal dekat dengan tol," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang