Begini "Serunya" Ketika Jokowi dan Foke Bertemu

Kompas.com - 10/09/2012, 13:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sudah hampir sebulan, calon gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Joko Widodo tidak bertemu. Pertemuan terakhir keduanya terjadi pada 4 Agustus 2012 lalu, saat menjenguk Habib Munzir yang terbaring sakit di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Setelah sekitar satu bulan berlalu, Foke dan Jokowi pun dipertemukan kembali dalam sebuah acara silaturahim di Mapolda Metro Jaya, Senin (10/9/2012) pagi.

Pertemuan ini sebenarnya biasa karena sudah pernah dilakukan pada putaran pertama lalu saat kandidat masih enam pasang. Namun, pertemuan itu menjadi tidak biasa karena tensi perseteruan antara kedua kubu yang bersaing ini semakin memanas jelang masa kampanye putaran kedua.

Kubu Jokowi, seperti yang banyak diberitakan, tengah diserbu dengan isu-isu SARA. Sementara kubu Foke selaku calon petahana diserbu dengan isu ketidaknetralan jajaran birokrasi Pemprov DKI Jakarta.

Saat bertemu dalam acara silaturahim di Polda Metro, keduanya pun duduk dalam satu meja bundar bersama dengan unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) lain. Meski berada di satu meja, keduanya tampak tidak berbincang satu sama lain. Foke lebih sering terlihat berbicara dengan Ketua DPRD DKI Jakarta Ferriyal Sofyan yang juga berasal dari Partai Demokrat.

Sementara Jokowi lebih terlihat asyik menyantap makanan ringan yang disajikan, sambil sesekali berbincang dengan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Untung Suharsono Rajab.

Foke ketika itu mengenakan kemeja putih lengan panjang, pakaian favoritnya kini. Sementara Jokowi memakai kemeja lengan panjang batik warna coklat, menanggalkan ciri khasnya, kemeja kotak-kotak.

Di dalam sambutannya, Foke menyorot soal isu keamanan di Jakarta. Ia meminta komitmen masyarakat untuk aktif terlibat dalam mewujudkan Jakarta yang aman. Di akhir kata sambutannya, Foke mengajak hadirin untuk berdoa bagi salah seorang personel kepolisian yang menjadi pengawalnya selama pelaksanaan pilkada.

"Dia biasa mengawal saya selama proses pilkada ini dan baru saja mendapatkan kecelakaan. Mari kita sejenak membaca Al Fatihah agar bisa diberikan kemudahan dalam menjalankan tugasnya kelak," kata Foke.

Sementara Jokowi lebih menyorot soal kebersamaan di dalam sambutannya. Ia berharap agar semua pihak menghargai perbedaan setiap calon gubernur.

"Kami hanya ingin mengimbau bahwa kepentingan warga DKI tetap nomor 1. Jangan sampai kita korbankan karena pemilihan cagub menjadi tidak satu lagi," ujar Jokowi.

Setelah masing-masing pimpinan Muspida memberikan sambutannya, tiba-tiba Kapolda Metro Jaya membuka sesi tanya jawab. Saat itu, Foke mungkin terkejut dan langsung menyahut, "Sebentar saja tanya jawab. Habis ini saya pergi ada agenda," ujarnya dengan nada terburu-buru.

Sesi tanya jawab pun berlangsung singkat. Acara foto bersama pun menjadi agenda paling akhir. Namun, bukannya foto pimpinan Muspida yang menjadi buruan wartawan, melainkan foto Jokowi dan Foke. Dengan banyaknya permintaan wartawan agar keduanya berpose bersama, Foke dan Jokowi pun akhirnya berpose berdua sambil berjabat tangan.

Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir Jokowi. Pria Jawa ini hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala manakala Foke bercanda dengan wartawan.

Sementara saat menjabat tangan Jokowi, Foke tak melihat wajah Jokowi sama sekali. Sang Gubernur DKI Jakarta ini lebih suka bercanda dengan para wartawan.

"Kalian mau ya pose seperti ini? Ayo Pak, kita foto supaya teman-teman dapat insentif," kata Foke sambil menjabat tangan Jokowi tanpa menoleh ke arah saingan kuatnya itu dalam pilkada kali ini.

Pertarungan antara keduanya semakin hangat menjelang kampanye berlangsung. Foke dan Nachrowi yang disokong partai-partai besar sempat berujar optimistis dalam putaran kedua nanti. Sementara Jokowi yang berduet dengan Basuki pun tak kalah optimistisnya.

"Saya siap dipilih," kata Jokowi kepada wartawan seusai acara.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau