Al Qaeda Ingin Berdamai?

Kompas.com - 11/09/2012, 11:07 WIB

KAIRO, KOMPAS.com — Mohamed al Zawahiri, saudara dari pemimpin Al Qaeda, Ayman al Zawahiri, mengusulkan untuk memediasi sebuah kesepakatan damai antara Barat dan Islam.

Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan CNN, sebagaimana dilaporkan CNN.com, Senin (10/9/2012), Mohamed al Zawahiri membeberkan proposalnya untuk pertama kalinya. Ia mengatakan, dirinya tidak mewakili Al Qaeda, tetapi ia berada dalam posisi unik untuk membantu mengakhiri kekerasan dan bahwa kedua belah pihak harus membuat konsesi.

Mohamed mengatakan, ia dan saudaranya secara ideologis tak terpisah. Ia menegaskan, jika ada orang yang bisa bicara kepada saudaranya agar keluar dari kekerasan, itu adalah dirinya.

CNN melaporkan, penampilan Mohamed al Zawahiri seperti para mantan tahanan teroris pada umumnya. Ia tenang, terkontrol, fokus, dan benar-benar yakin dengan pandangannya. Jenggot panjangnya sedang berubah dari abu-abu menjadi putih. Walau Ramadhan sudah berakhir, ia masih terus berpuasa sampai matahari terbenam.

Mohamed pernah menghabiskan waktu 14 tahun di penjara Mesir terkait sejumlah tuduhan, termasuk terorisme dan keterlibatan dalam pembunuhan Presiden Anwar Sadat tahun 1981. Namun, ia menyangkal tuduhan-tuduhan itu. Selama lima tahun ia berada di dalam sel isolasi berukuran 180 cm x 180 cm. Di sana ia terkunci dengan pikirannya sendiri dan punya banyak waktu untuk merencanakan apa yang harus dilakukan ketika akhirnya dibebaskan.

Dan, momen itu datang pada Mei lalu. Ia menginginkan perdamaian antara Muslim dan non-Muslim dan telah menulis sebuah proposal yang mencantumkan hal itu. Ia mengatakan menawarkan diri untuk menjadi perantara antara kaum Islamis dan Amerika Serikat dan Barat.

"Saya tidak mewakili kelompok tertentu. Peran saya adalah mediator antara Barat dan mereka."

Sebuah sumber CNN yang tahu persis tentang pembicaraan Pemerintah Mesir dengan kaum jihad di Sinai mengatakan, Mohamed al Zawahiri sedang membantu negosiasi di sana. Sumber itu mengatakan, Zawahiri dihormati di kalangan kaum Islamis dan dipercayai pemerintah baru Mesir.

Mohamed mengatakan, tawaran perdamaiannya membuat dirinya berada dalam risiko. Ia bisa jadi sasaran kaum Islam radikal. Namun, ia menegaskan, ia tidak bertindak karena kelemahan atau untuk keuntungan pribadi.

Proposal enam halamannya menawarkan gencatan senjata selama 10 tahun jika persyaratan berikut ini dipenuhi. Secara singkat persyaratan itu adalah:

• AS dan Barat stop melakukan intervensi di negeri-negeri Muslim.
• AS berhenti ikut campur dalam pendidikan Islam.
• AS mengakhiri perang terhadap Islam.
• AS membebaskan semua tahanan Islam.

Dokumen itu juga menyerukan kepada kaum Islamis untuk mengubah perilaku mereka juga:

• Hentikan serangan terhadap kepentingan Barat dan AS.
• Lindungi kepentingan sah Barat dan AS di negeri-negeri Muslim.
• Hentikan provokasi terhadap AS dan Barat.

Bagaimana peluang proposal Mohamed al Zawahiri itu? Walau ia sangat bertekad untuk membuat seruannya bergema dan pesannya tersampaikan, sulit untuk mengukur seberapa serius ia dengan inisiatifnya itu. Ia memang pernah berada bersama para kaum radikal, tetapi jangkauan pengaruhnya dewasa ini sulit untuk ditakar.

Mungkinkah ia tengah mencari perhatian? Apakah ia ingin kembali menjadi pusat perhatian di kalangan kaum jihad yang dulu pernah dinikmatinya sebelum penahanannya? Ketika itu ia adalah komandan militer Jihad Islam yang kemudian menjadi sekutu Al Qaeda. Saat itu ia dilaporkan punya perbedaan pendapat dengan saudaranya tentang masa depan kelompok itu. Lalu terjadilah penangkapan atas dirinya, jauh sebelum 9/11. Ia dijemput otoritas Mesir di Uni Emirat Arab.

Dalam wawancara dengan CNN itu ia mengatakan, dirinya dulu telah memberi tahu para interogatornya bahwa ia bisa melakukan gencatan senjata dengan kaum Islamis. Namun, ia bilang, para sipir penjara tidak mau mendengar. "Jika ide itu berhasil, peristiwa 11 September tidak akan terjadi. Saya berharap kesempatan kali ini tidak sia-sia."

Osama bin Laden punya proposal serupa pada 2004. Setahun kemudian terjadi serangan 7/7 di subway London yang menewaskan 52 orang.

Ia tidak menjamin adanya perbaikan cepat. "Ini merupakan misi yang sangat sulit. Anda harus logis. Jika Anda ingin hidup dalam damai maka Anda harus membuat orang lain merasa bahwa mereka akan hidup dalam damai."

Ia mengatakan, saudaranya akan mendengarkannya. Namun, ia mengaku, dirinya sudah tidak berbicara dengan saudaranya itu lebih dari satu dekade.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau