Oleh SULTANI
Persaingan penguasaan pemilih pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta akan cenderung ketat. Di tengah kondisi itu, kepiawaian tiap-tiap pasangan calon gubernur dalam menguasai para pemilih berlatar belakang sosial ekonomi menengah ke atas menjadi penentu. Ironisnya, sebagian kelompok tersebut hingga kini belum jelas menyatakan pilihannya.
Putaran pertama Pemilihan Kepala Daerah DKI Jakarta, yang menempatkan kedua pasangan calon gubernur, Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara), sebagai pemenang, masih dapat dijadikan bekal awal dalam mengalkulasi penguasaan suara mereka pada putaran kedua. Berdasarkan rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum Jakarta, pada putaran pertama Jokowi-Ahok meraih 42,60 persen suara dan Foke-Nara mendapatkan 34,05 persen suara.
Sisanya, 23,35 persen suara, adalah para pendukung kandidat yang gagal melaju ke putaran kedua. Di luar itu, masih ada ceruk suara yang cukup besar, yaitu pemilih yang tidak menggunakan hak pilih mereka (36,38 persen). Dengan komposisi suara itu, kedua pasangan calon gubernur pada hari-hari ini berupaya keras memengaruhi calon pemilih dan berupaya menguasai para pemilih yang tidak mendukung mereka pada pilkada lalu.
Hasil survei pra-Pilkada DKI Jakarta menjelang putaran kedua yang diselenggarakan
Kelompok pertama adalah para pemilih yang pada putaran kedua nanti tetap loyal memilih Foke-Nara atau Jokowi-Ahok. Hasil survei terungkap, dari
Suara yang relatif sama diungkapkan para pendukung Jokowi-Ahok. Mayoritas (85,2 persen) responden, yang memilih pasangan Jokowi-Ahok, pada putaran kedua nanti menyatakan akan tetap memilih pasangan ini.
Kelompok kedua, dengan proporsi total 18 persen dari keseluruhan responden, merupakan pemilih yang pada putaran pertama lalu dukungannya ditujukan kepada calon-calon gubernur selain kedua kandidat pemenang. Namun, pada putaran kedua sudah memastikan sikap mereka untuk memilih Foke-Nara atau Jokowi-Ahok.
Menariknya, dari hasil survei ini terungkap bahwa pemilih tipe ini dukungannya telah terdistribusi kepada setiap calon, dengan porsi yang sama besar (37,8 persen). Sisanya, kelompok pemilih yang hingga kini belum tampak jelas ke mana arah pola dukungannya. Apabila dikalkulasi, tidak kurang dari 11 persen dari keseluruhan responden yang terkategorikan pada kelompok ini.
Kelompok ini di antaranya merupakan kalangan yang sebenarnya pada putaran pertama lalu mendukung salah satu dari kedua kandidat yang kini bertarung (sebelumnya memilih Foke-Nara sebesar 10 persen, Jokowi-Ahok sebesar 7 persen, dan keempat calon lainnya,
Berdasarkan pada pengelompokan di atas, di satu sisi tingginya loyalitas para pemilih terhadap calon gubernur pilihannya, di sisi lain cukup meratanya distribusi suara pemilih dari calon gubernur lain kepada kedua calon yang akan bertarung, maka penentunya adalah kelompok ketiga. Faktor penentu peningkatan suara dukungan tergantung dari keberhasilan menguasai suara kalangan yang hingga kini belum secara jelas menyatakan pilihannya.
Persoalannya kini, siapakah kalangan yang hingga kini belum jelas menyatakan pilihannya itu? Hasil survei menunjukkan, kalangan ini sebenarnya tersebar pada setiap kalangan. Akan tetapi, hasil survei ini juga mengindikasikan kalangan berlatar belakang sosial ekonomi menengah ke atas lebih dominan. Dari sisi pendidikan, misalnya, cenderung berpendidikan menengah hingga berpendidikan sarjana.
Sementara dari sisi ekonomi keluarga, cenderung berlatar belakang ekonomi menengah atas. Selain itu, kalangan ini juga relatif lebih banyak pada kalangan pria dan dari sisi usia tidak lagi berusia muda.
Selain menguak kecenderungan pola dukungan terhadap tiap-tiap kandidat, hasil survei ini juga mengungkap penilaian responden terhadap kemampuan setiap calon gubernur. Selain itu, juga pola penyikapan terhadap tiap-tiap sosok, hingga tingkat keterkenalan calon
Dari sisi keterkenalan, skor pengenalan pemilih terhadap pasangan Foke-Nara lebih tinggi dibandingkan dengan Jokowi-Ahok (
Di sisi lain, tingginya tingkat pengenalan responden terhadap tiap-tiap calon tampaknya tidak sejalan dengan besar-kecilnya penilaian mereka dalam menilai kemampuan ataupun pola
Dalam hal ini, tampak bahwa penilaian yang relatif lebih tinggi ditujukan oleh kalangan berpendidikan ataupun berstatus ekonomi menengah atas kepada pasangan Jokowi-Ahok ketimbang kepada Foke-Nara
***
Metode Survei
Pengumpulan pendapat melalui wawancara tatap muka ini diselenggarakan Litbang Kompas tanggal 31 Agustus-6 September 2012. Sebanyak 600 responden minimal berusia 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) DKI Jakarta 2012 untuk putaran kedua. Responden berdomisili di Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Selatan. Jumlah responden di setiap wilayah ditetapkan secara acak. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian +/- 4,0 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat DKI Jakarta.