Fobia Sosial yang Menghambat Karier

Kompas.com - 13/09/2012, 08:56 WIB

KOMPAS.com - Sudah beberapa tahun ini Anton tidak pernah mengalami kenaikan dalam jenjang kariernya. Walaupun sudah termasuk staf lama di perusahaanya bekerja, kenaikan jabatannya tidak terlalu berarti dari sejak dia mengabdi di perusahaan. Kenaikan jabatan malah lebih sering dialami oleh staf-staf muda yang baru saja menapaki karier di perusahaan tempatnya bekerja.

Usut punya usut hal ini disebabkan karena Anton kesulitan dalam menjalankan tugas-tugas yang mengharuskannya tampil di hadapan umum. Dia seringkali menolak tugas-tugas yang mengharuskannya untuk berada pada posisi diperhatikan orang lain. Dia juga kesulitan jika memimpin rapat untuk staf-staf di bawah manajemennya. Akhirnya Anton lebih banyak bekerja di belakang meja daripada harus presentasi atau bertemu dengan banyak orang. Inilah yang menghambat kariernya untuk bisa maju.

Takut Dinilai

Apa yang dialami Anton cukup banyak terjadi di masyarakat kita. Dunia medis mengenalnya dengan istilah fobia sosial. Fobia sosial termasuk dalam payung diagnosis Gangguan Kecemasan.

Ciri khas yang dialami oleh semua gangguan kecemasan adalah timbulnya gejala-gejala saraf otonom pada pasien yang mengalami kondisi kecemasan itu. Gejala yang timbul misalnya jantung berdebar, sesak napas, keluar keringat dingin, mual, kesemutan, serta perasaan takut yang tidak jelas.

Sedangkan ciri spesifik untuk fobia sosial adalah kecemasan bahwa dirinya akan dinilai atau diperhatikan oleh sekitarnya. Ada kalanya juga ini terkait dengan status sosial di lingkungan tempat dia bekerja, misalnya kecemasan jika harus berbicara dengan pimpinan atau orang yang lebih senior daripada pasien.

Pikiran tidak rasional ini datang tanpa bisa dikendalikan, sehingga membuat orang yang mengalami fobia sosial lebih cenderung menghindari situasi-situasi yang membuatnya mengalami kecemasan seperti itu. Tidak heran biasanya pasien yang mengalami fobia sosial akan takut mennjadi pusat perhatian atau berhadapan dengan orang yang dianggapnya lebih senior.

Terkait trauma masa lalu

Hasil wawancara yang saya lakukan dengan beberapa pasien yang mengalami fobia sosial yang datang berobat menyimpulkan kebanyakan dari mereka pernah mengalami peristiwa traumatik yang memalukan di masa lampau. Salah seorang pasien mengatakan dia pernah dipermalukan di depan kelas saat masih sekolah menengah pertama.

Ada juga yang mengatakan pernah dihukum di depan kelas sehingga membuatnya ditertawakan oleh teman-temannya dan selama beberapa bulan menjadi bulan-bulanan dan bahan ledekan teman-teman sekelas.

Terlihat bahwa ada hubungan antara kondisi di masa lampau dengan apa yang terjadi pada pasien saat ini berkaitan dengan kecemasannya berada pada posisi menjadi pusat perhatian.

Bisa disembuhkan

Salah satu cara yang paling dianggap efektif dalam mengatasi kondisi fobia sosial adalah proses pembiasaan atau habituasi. Proses ini melibatkan kemampuan terapis untuk bisa memberikan dukungan kepada pasien untuk mampu melewati tahap demi tahap kecemasan fobianya terkait dengan suatu peristiwa atau kondisi tertentu.

Awalnya pasien akan diajak oleh terapisnya untuk membayangkan kondisi atau hal-hal yang berkaitan dengan fobia sosialnya. Pada pasien yang sudah parah fobianya, keadaan membayangkan kondisi saja bisa sangat begitu menakutkan sehingga membuat gejala-gejala otonom seperti jantung berdebar, sesak napas dan perasaan tidak enak di perut timbul.

Pembiasaan ini akan berlangsung terus menerus tahap demi tahap baik saat bersama terapis ataupun nantinya dengan upaya pasien sendiri. Setelah dengan proses pembayangan itu maka langkah selanjutnya bisa dengan membuat pasien berada dalam kondisi tersebut secara nyata dengan pendampingan. Pendampingan bisa dilakukan oleh teman atau kerabat yang dipercaya oleh pasien atau dengan terapisnya sendiri jika memungkinkan. Hal ini untuk menghadapkan pasien pada kondisi nyatanya. Tentunya perlu tetap waspada akan serangan kecemasan akut yang bisa timbul saat pasien dihadapkan pada kondisi tersebut.

Dalam banyak kepustakaan, obat-obatan bisa membantu pasien untuk mengurangi kecemasannya saat berhadapan dengan kondisi yang menimbulkan fobia sosialnya. Obat antidepresan golongan sertraline telah terbukti secara penelitian mampu membantu orang-orang dengan fobia sosial. Beberapa dokter juga sering meresepkan obat golongan beta bloker untuk mengurangi denyut jantung yang berlebihan saat pasien berada dalam kondisi yang membuatnya cemas.

Penanganan yang tepat sangat diperlukan dalam mengatatasi masalah fobia sosial karena dampaknya yang berkaitan dengan kualitas hidup pasien. Dengan teknik dan dukungan kedua belah pihak maka fobia sosial bisa disembuhkan dan pasien bisa beraktivitas kembali dengan baik.

Salam Sehat Jiwa!

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau