Libya Tuding Loyalis Khadafy

Kompas.com - 13/09/2012, 09:08 WIB

KAIRO, KOMPAS.com — Wakil Menteri Dalam Negeri Libya Wanis Sharif di Benghazi, dalam konferensi pers yang disiarkan langsung televisi Al Jazeera, Rabu (12/9/2012), menuduh loyalis mantan pemimpin Libya, Moammar Khadafy, membunuh Duta Besar Amerika Serikat untuk Libya J Christopher Stevens dan tiga pegawai konsulat AS di Benghazi.

Dua dari tiga pegawai AS yang tewas itu adalah anggota marinir. Seorang lainnya diidentifikasi Kementerian Luar Negeri AS sebagai Sean Smith, anggota Staf Manajemen Informasi Konsulat AS.

Sedikitnya 18 pegawai AS dan aparat keamanan lokal luka-luka dalam serangan itu. Sebanyak 35 pegawai kantor Konsulat AS diberitakan sudah dievakuasi dari Benghazi ke Tripoli.

Sharif menyebut, pembunuhan Dubes AS itu bisa sebagai reaksi atas diekstradisinya kepala intelijen Libya pada masa Moammar Khadafy, Abdullah Sanusi, dari Mauritania ke Libya, pekan lalu.

Masih simpang siur berita cara tewasnya dubes AS tersebut. Pihak Pemerintah Libya mengatakan, Dubes Libya meninggal dunia akibat sesak napas dari kebakaran kantor Konsulat AS itu menyusul penyerangan massa ke kantor konsulat itu.

Namun, berita lain, seperti dikutip televisi Al Jazeera, Stevens dan tiga warga AS itu tewas dalam baku tembak di suatu tempat dekat Kantor Konsulat AS setelah sekitar dua jam Dubes AS dan para pegawai konsulat dievakuasi dari kantor konsulat, menyusul aksi unjuk rasa di kantor konsulat itu, Selasa malam lalu.

Dalam waktu yang sama, ratusan massa di Mesir juga menyerang gedung Kedubes AS di Distrik Garden City, Kairo. Amukan massa di Kairo dan Benghazi terhadap kantor perwakilan AS itu adalah protes atas pemutaran film di AS saat ini yang dianggap menghujat Nabi Muhammad.

Massa menaiki dinding pagar gedung Kedubes AS di Kairo itu dan menurunkan bendera AS lalu membakarnya. Polisi dan aparat keamanan Mesir dalam jumlah besar yang dilengkapi kendaraan lapis baja bersiaga di sekitar gedung Kedubes AS di Kairo, mengantisipasi serangan massa lagi.

Kedubes AS di Kairo dan Konsulat AS di Alexandria membekukan aktivitas kerja mereka, Rabu, dengan dalih keamanan belum kondusif.

Tak menentu

Situasi di Benghazi hingga Rabu kemarin masih tidak menentu. Situasi keamanan di Libya Timur dan kota Benghazi, khususnya, memang belum bisa dikontrol penuh pemerintah pusat di Tripoli sejak pemilu parlemen bulan Juli lalu.

Wanis Sharif mengungkapkan, situasi di sekitar Kantor Konsulat AS di Benghazi di luar kendali aparat keamanan Libya setelah terjadi baku tembak antara massa dan petugas keamanan di dalam Konsulat AS. Menurut Sharif, massa semakin marah setelah ada tembakan dari dalam konsulat sehingga akhirnya mereka mendobrak masuk.

Sharif mengakui, aparat keamanan Libya yang hanya dilengkapi senjata ringan terpaksa mundur karena tidak mampu menghadapi membeludaknya massa. Sejumlah orang bahkan menggunakan senjata berat

Pemerintah Libya berjanji segera menyelidiki dan menangkap pelaku. Namun, Sharif mengakui, proses penyidikan itu tidak mudah karena menyangkut ribuan orang. (MTH)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau