Oposisi Makin Radikal

Kompas.com - 18/09/2012, 02:07 WIB

Geneva, Senin - Kehadiran elemen kekuatan asing di Suriah, termasuk kelompok militan, kini sudah semakin nyata. Mereka terlibat pertempuran mati-matian bersama pasukan lokal melawan rezim Damaskus, dan oposisi pun terdorong ke arah yang lebih radikal.

Peningkatan jumlah ”elemen asing”, termasuk kelompok militan itu, diungkapkan tim investigasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin (17/9). Dalam laporan pertama, tim menyebutkan, kelompok ”teroris” asing telah bergabung dalam pertempuran yang kian tak terkendali di Suriah.

Tim investigasi yang ditunjuk Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mengatakan, sebagian dari pasukan asing itu bergabung dengan kelompok-kelompok perlawanan bersenjata di Suriah. Namun, beberapa kekuatan asing lain beroperasi atas kehendak mereka sendiri. Persoalan ini membuat situasi makin tak terkendali di Suriah.

”Elemen-elemen tersebut cenderung mendorong pejuang anti- pemerintah ke arah posisi yang lebih radikal,” kata ketua tim dan diplomat Brasil, Profesor Paulo Sergio Pinheiro, di hadapan para diplomat lainnya di Geneva, Swiss. Ia menyebutkan kelompok asing itu sebagai ”teroris” meski kata itu tidak muncul dalam laporan tertulis.

Kalangan aktivis mengatakan, sudah 27.000 orang tewas akibat krisis Suriah yang telah berjalan selama 18 bulan ini. Tim PBB tersebut menuding pasukan Presiden Bashar al-Assad dan milisi propemerintah shabiha telah mengobarkan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Kejahatan terhadap kemanusiaan itu meliputi, antara lain, pembunuhan, pembantaian atau eksekusi, penyiksaan, penangkapan yang sewenang-wenang, kekerasan seksual, dan penyalahgunaan anak. Rezim dan milisi diminta bertanggung jawab atas kejahatannya itu.

Tim investigasi PBB juga menyalahkan pihak Tentara Pembebasan Suriah (FSA) dan kelompok bersenjata antipemerintah lainnya telah melakukan serangkaian kejahatan perang. Mereka juga melakukan pembunuhan, eksekusi tanpa proses hukum, dan penyiksaan keji.

Pinheiro mengatakan, situasi HAM di Suriah telah ”memburuk sedemikian rupa sehingga cukup sulit untuk menggambarkan secara adil dalam kata-kata. Pelanggaran HAM meningkat, baik dalam jumlah, kecepatan, maupun skala”.

Diplomat Brasil ini juga menegaskan, frekuensi ”pelanggaran mengerikan” itu sangat besar sehingga tim investigasi tak bisa menyelidiki semuanya. ”Warga sipil, kebanyakan anak-anak, harus menanggung beban kekerasan yang tak berujung ini,” katanya.

Organisasi HAM Human Rights Watch (HRW) mengusulkan agar Dewan Keamanan PBB melimpahkan kasus Suriah kepada Mahkamah Kriminal Internasional (ICC). Menurut Nadim Houry, Deputi Direktur Timur Tengah HRW, dengan pelimpahan ini, ICC akan memiliki yurisdiksi untuk menyelidiki tindak pidana yang dilakukan pihak pemerintah ataupun oposisi.

Konspirasi asing

Damaskus sudah sejak lama mensinyalir kekuatan asing telah hadir di Suriah, dan ikut berperang bersama oposisi melawan pemerintah. Assad menuding konspirasi negara-negara Teluk dan Barat telah memberikan dana dan pelatihan kepada oposisi.

Duta Besar Suriah untuk PBB Faysal Khabbaz Hamoui mengakui laporan tim PBB itu. Dia setuju dengan Pinheiro tentang kehadiran unsur-unsur asing itu, dan mengatakan, ”pihak internasional telah mendorong peningkatan krisis di Suriah”.

Di pihak lain, Iran, sekutu dekat Assad, mengakui telah mengirim pasukan Quds, pasukan elite Garda Revolusi Iran, ke Suriah untuk pelatihan dan menjadi ”penasihat”. Hal itu disampaikan Panglima Garda Revolusi Brigadir Jenderal Mohammad Ali Jafari, Minggu.

”Sejumlah anggota Pasukan Quds berada di Suriah dan Lebanon, kami memberikan (kepada dua negara ini) bantuan nasihat, saran, dan alih pengalaman kepada mereka,” kata Jafari dalam jumpa pers yang jarang ia lakukan.

Dari hari Minggu hingga Senin, bentrokan bersenjata masih terjadi di sejumlah kota di Suriah. Sebuah helikopter menyerang kota Kafr Aweid di Provinsi Idlib menyebabkan lima anak dan seorang perempuan tewas.

(AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau