Unggul Rasio Berita Positif, Timses JB Berterima Kasih

Kompas.com - 18/09/2012, 06:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Tim Pemenangan Pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama merasa bersyukur karena lebih banyak mendapatkan publikasi positif. Bahkan, menurut hasil media monitoring yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), rasio berita positif Jokowi-Basuki lebih tinggi dibandingkan pasangan pesaing.

"Selain kepada media massa, kami juga mengucapkan rasa terima kasih kepada narasumber, pengamat, maupun opinion leader yang telah memberikan pendapatnya secara jujur dan obyektif kepada Jokowi-Ahok saat diwawancarai oleh teman-teman media," ujar Budi Purnomo Karjodihardjo, Koordinator Bidang Komunikasi dan Media Center Tim Kampanye Jokowi-Basuki, dalam rilis yang disampaikan, Senin (17/9/2012).

Menurut Budi, pandangan positif layak diterima Jokowi dan Basuki karena keduanya memiliki latar belakang kinerja yang lebih positif. Selain itu, keduanya dengan didukung tim pemenangan telah melakukan berbagai bentuk pendekatan kepada sejumlah lapisan masyarakat secara lebih tepat.

Karena itu, tim sukses berharap, gambaran positif tersebut akan berkontribusi dalam pilihan warga Jakarta pada hari pencoblosan nanti. "Semoga fakta yang sama ini juga terjadi pada tanggal 20 September nanti," kata Budi.

Ia menilai hasil tersebut obyektif. Apa yang disalurkan media massa merupakan representasi dari harapan warga Jakarta akan perubahan. Warga Jakarta adalah pemilih yang tergolong cerdas, pintar, serta rasional sehingga diyakini bisa menyaring informasi secara tepat.

"Jika dilihat dari survei tersebut, kami melihat bahwa kebanyakan narasumber, termasuk teman-teman media memiliki harapan besar untuk perubahan. Semoga perubahan nanti bisa lebih menyejahterakan warga Jakarta," sambung Budi.

Dalam menyikapi pemberitaan bertema SARA yang menghiasi kebanyakan media dalam dua bulan terakhir, Budi mengatakan, Jokowi-Basuki memiliki filosofi khusus dalam menanggapi. Filosofi tersebut bersumber dari ilmu tanaman yang bisa dipelajari setiap masyarakat, yaitu ilmu pisang dan ilmu padi.

"Ilmu pohon pisang ini seperti mengajarkan bahwa buah pisangnya akan semakin tumbuh subur, pohon ini semakin besar dan tumbuh berkembang, meskipun dilempari sampah, setiap harinya dilempari aneka kotoran. Sedangkan ilmu padi, ini mengajarkan untuk rendah hati. Karena itu, kami yakin orang yang suka merendahkan diri akan ditinggikan derajatnya," jabar Budi.

AJI melansir hasil riset medianya beberapa hari lalu. Salah satu hasil riset yang dilakukan dalam periode 1 Juni 2012-13 September 2012 menunjukkan, Joko Widodo masih unggul dalam perolehan berita foto dan peliputan kandidat secara tunggal. Hasil riset juga menunjukkan bahwa pemberitaan positif mengenai Jokowi mencapai 810 berita dan yang negatif 172 berita. Sementara Fauzi Bowo mendapatkan 666 berita bernada positif dan 260 berita negatif.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau