Protes Anti-Jepang Memanas

Kompas.com - 19/09/2012, 02:10 WIB

Beijing, Selasa - Ratusan pabrik dan toko milik perusahaan Jepang di China tutup untuk sementara menyusul unjuk rasa besar-besaran anti-Jepang, Selasa (18/9). Pengunjuk rasa mendesak Pemerintah China bersikap tegas dalam mempertahankan Kepulauan Diaoyu dari Jepang.

Ribuan pengunjuk rasa turun ke jalan dengan membawa poster berisi protes terhadap Jepang. Sebagian pengunjuk rasa membawa gambar Mao Zedong, pemimpin besar China.

Pengunjuk rasa memprotes keputusan Jepang membeli tiga pulau di gugus Kepulauan Diaoyu (Senkaku menurut Jepang) di Laut China Timur. Kepulauan tersebut telah lama menjadi obyek sengketa kedua negara.

Unjuk rasa besar-berasan di China ini juga bertepatan dengan peringatan Insiden Mukden yang terjadi pada 18 September 1931. Saat itu pasukan Jepang mengebom rel kereta api di dekat kota Mukden di Manchuria. Peristiwa, yang menjadi awal invasi Jepang atas China ini, menyisakan sakit hati rakyat China

Rakyat China selalu memperingati Insiden Mukden setiap tanggal 18 September. Kali ini peringatan insiden tersebut terasa lebih panas karena hubungan China-Jepang bermasalah sebagai buntut dari sengketa Kepulauan Diaoyu atau Senkaku.

Para pengunjuk rasa mengatakan, Pemerintah China harus bertindak tegas terhadap Jepang sebagaimana yang pernah dilakukan Mao. Menurut pengunjuk rasa, Pemerintah China hanya memprotes dan bicara, tetapi tidak pernah bertindak seberani Mao.

Mereka mendesak Pemerintah China mempertahankan Diaoyu dari tangan Jepang.

Para pengunjuk rasa mengepung Kedutaan Besar Jepang di Beijing. Mereka melemparkan botol, mengibarkan bendera China, menyanyikan slogan-slogan anti-Jepang, dan merusak beberapa jendela bangunan Kedubes Jepang.

Pemerintah China tidak mau mengambil risiko. Polisi bersenjata menjaga ketat gedung kedubes. Mereka mengantisipasi agar pengunjuk rasa tidak merusak atau rusuh.

Untuk rasa serupa juga terjadi di Shanghai dan Shenzen. Beberapa pengunjuk rasa ditangkap polisi karena rusuh. Mereka merusak toko, restoran, dan pabrik- pabrik milik Jepang.

Pabrik tutup

Merespons gelombang unjuk rasa anti-Jepang yang semakin meluas, para pengusaha Jepang menutup pabrik dan toko mereka di China. Produsen mobil Honda Motor Co dan Toyota Motor Corp berhenti beroperasi setelah pengunjuk rasa menghancurkan toko-toko mereka. Langkah serupa dilakukan Nissan, Mazda, dan Mitsubishi.

Beberapa perusahaan bahkan memulangkan pekerjanya ke Jepang. ”Kondisi di China sangat tidak karuan. Warga di China menyarankan agar saya tidak keluar rumah,” kata Hisato Takase, ekspatriat Jepang, saat tiba di Bandar Udara Haneda, Tokyo.

Penghentian operasionalisasi pabrik dan toko itu mengakibatkan harga saham perusahaan- perusahaan asal Jepang itu menurun. Kondisi ini akan memburuk jika pabrik dan toko Jepang di China tidak segera beroperasi kembali.

Sekretaris Kabinet Jepang Osamu Fujimura mengatakan, China harus lebih serius melindungi aset dan pekerja Jepang. Alasannya, Jepang memegang peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi China. ”Kami yakin dapat bersikap tenang dan mengambil keputusan rasional,” ujarnya.

Menteri Pertahanan China Liang Guanglie menjelaskan, China juga berharap upaya damai dan jalan keluar yang baik bagi sengketa pulau tersebut. Oleh karena itu, pihaknya mengharapkan dapat bekerja sama dengan Jepang untuk mencari solusi.

Meski demikian, Liang memperingatkan bahwa pihaknya punya hak untuk mengambil ”langkah-langkah lanjutan” dalam menghadapi sengketa kepulauan ini.

Menteri Pertahanan AS Leon Panetta dalam kunjungannya ke China, Selasa, mengimbau agar kedua belah pihak menahan diri. Sebelumnya, Leon juga mengunjungi Jepang dan menyerukan hal senada.

Pemerintah AS sebelumnya telah menegaskan tidak akan memihak siapa pun dalam sengketa ini meski AS adalah sekutu dekat Jepang.

Tarik pemain

Ketegangan Jepang-China juga merambah ke ranah olahraga. China memutuskan menarik semua pemain bulu tangkisnya dari turnamen Jepang Terbuka yang akan berlangsung pekan ini. China beralasan khawatir kondisi keamanan di Jepang memburuk sebagai dampak ketegangan di antara dua negara bertetangga itu.

Juru bicara penyelenggara turnamen tersebut membenarkan penarikan pemain China itu. Untuk selanjutnya, pihak panitia Jepang akan meminta China membayar biaya akomodasi. Panitia mengaku telah memesan kamar untuk 40 pemain China dan mereka harus membatalkan. Untuk itu, panitia turnamen akan meminta pihak China membayar biaya pembatalan tersebut.

(Reuters/AP/AFP/MHF)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau