Komoditas lokal

Pabrikan Bisa Mengatur Tanaman Tembakau

Kompas.com - 19/09/2012, 15:19 WIB

SEMARANG, KOMPAS.com -- Budidaya tanaman tembakau sebaiknya diatur bersama antara petani dengan pihak pabrik rokok. Pengaturan budidaya itu penting supaya tidak terjadi kelebihan produksi, yang pada akhirnya justru menjatuhkan harga tembakau di pasaran.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah, Ihwan Sudrajat mengatakan, jika pabrikan diajak untuk mengatur budidaya bersama petani, bukan berarti pemerintah daerah hendak lepas tangan dalam soal pengaturan luas areal tanaman tembakau.

"Komoditas tembakau ini kan belum ada pengaturan tata niaganya. Produsen tembakau jumlah sangat banyak, yaitu petani di sejumlah daerah di Jawa Tengah, sedangkan pembeli terbatas karena pabrik rokok juga tidak banyak," kata Ihwan," Rabu (19/9/2012) di Ungaran, Kabupaten Semarang.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Tegoeh Wynarno menyebutkan, jumlah pabrik rokok sebanyak 52 unit. Produksi tembakau di Jawa Tengah hanya 22 persen saja dari produksi tembakau nasional.

Namun sepanjang musim panen, produksi tembakau mengalami kelebihan sehingga banyak yang tidak terserap oleh pabrikan. Idealnya lahan tembakau di Jawa Tengah berkisar 20 hektar hingga 30 hektar saja, namun kenyataannya lahan tembakau mencapai lebih 45.000 hektar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau