Inilah Strategi Pemenangan Jokowi-Basuki

Kompas.com - 21/09/2012, 08:36 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Calon wakil gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, tak memungkiri bahwa salah satu kunci kesuksesan timnya bisa mengungguli Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli adalah dengan berkampanye di kantong-kantong suara Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli (Foke-Nara).

"Kalau soal lokasi kami kampanye itu, memang kami sudah petakan dari hasil putaran pertama lalu kenapa orang-orang ini tidak memilih kami. Ternyata, mereka tidak memilih karena masih meragukan kemampuan kami," ujar Basuki, Kamis (20/9/2012) malam di markas Jokowi-Basuki, Jalan Borobudur 22, Menteng, Jakarta Pusat.

Alhasil, baik Joko Widodo (Jokowi) maupun Basuki mendatangi lokasi yang menjadi kantong-kantong suara Foke-Nara. Di masa kampanye lalu, contohnya, Jokowi berkampanye di kantong suara Foke yang ada di Menteng Dalam, Jakarta Selatan; Kota Bambu Selatan, Jakarta Barat; dan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Selain itu, pria yang akrab dipanggil Ahok itu menyebutkan, timnya sangat memanfaatkan adanya agenda debat publik yang dilaksanakan selama dua kali dalam masa kampanye. Menurutnya, debat publik menjadi saat di mana semua warga Jakarta melihat siapa Jokowi-Basuki.

Oleh karena itu, persiapan debat publik pun dilakukan cukup matang. Jokowi-Basuki menyiapkan lembaran presentasi yang menunjukkan program-program yang akan dilaksanakan. Lembaran itu dimaksudkan agar warga tidak merasa diberi janji kosong.

Pada debat publik lalu, Jokowi menunjukkan lembaran kertas yang menggambarkan program kampung susun dan sistem transportasi yang akan dikembangkannya. "Di debat publik, orang-orang bisa lihat siapa kami. Bagaimana kami coba atasi banjir dan macet dan lainnya. Begini-gini saya juga bantu Bang Yos (Sutiyoso) satu tahun waktu dia turun," kata mantan Bupati Belitung Timur ini.

Hal paling krusial yang membuat warga memilih pasangan nomor tiga, menurut Basuki, adalah tidak ada upaya pemaksaan dalam setiap kampanye yang dilakukannya ataupun Jokowi. Basuki menceritakan, mereka selalu mengimbau warga untuk memilih pemimpin yang profesional dan jujur.

"Kami tidak pernah bilang, pilih kami, ya, nomor 3. Tidak pernah. Kami hanya ajak warga pilih pemimpin yang bersih dan profesional. Kalau sudah begitu, lihat kami, lalu bandingkan dengan kandidat lain. Kalau kandidat lain lebih bersih, pilih dia jangan kami. Ini terus yang kami ajak," kata Basuki.

Perjuangan panjang pasangan Jokowi-Basuki yang sempat diragukan banyak pihak bisa memimpin di Ibu Kota yang serba kompleks pun terbayar dengan kepercayaan warga. Dalam beberapa hasil hitung cepat lembaga survei, pasangan ini berhasil unggul dari kandidat lainnya, Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli.

Euforia kemenangan pun sangat terasa di posko Jokowi-Basuki yang terletak di Jalan Borobudur 22, Menteng, Jakarta Pusat. Sementara itu, Fauzi Bowo juga sudah mengakui kekalahannya dalam pilkada kali ini. Melalui telepon pada Kamis siang, Foke sudah menyampaikan ucapan selamatnya kepada Jokowi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau