Sumbawa, Kompas -
Dalam etape empat ini, tim bergerak sekitar pukul 07.00 dari Hotel Tambora di Sumbawa Besar menuju Kecamatan Pidang di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Jarak tempuh kali ini 119 kilometer (km). Mereka dilepas oleh iring-iringan komunitas MTB Sumbawa.
Di awal perjalanan, tim jelajah sepeda sudah dihadapkan pada tanjakan dan turunan saat menuju perbatasan kota Sumbawa besar sepanjang 4 km. Setelah melewati tanjakan dan turunan, tim pun disambut dengan cuaca panas. Pada pukul 11.00, suhu di jalur Sumbawa Besar Plampang mencapai 41-42 derajat celsius. Di sepanjang jalur pun tidak ada peneduh berupa pohon atapun bangunan. Hanya ada padang sabana di kanan-kiri jalan.
Angin kencang membuat kerja para penjelajah sepeda kian berat. Memasuki Kilometer 19 di Plampang, beberapa anggota tim jelajah mulai tercecer di belakang. Tim Marshal dan motoris harus berkali-kali bolak-balik mengitari barisan untuk mendorong anggota tim yang tertinggal.
Menurut salah seorang peserta, Gunung Aditomo, angin berembus sangat kencang. Anggota tim yang terlepas dari kelompok akan kesulitan menyusul karena akan melawan angin sendirian. Regrouping pun dilakukan di Kilometer 20.
Setelah rehat sekali, tim langsung bergerak lagi menyusuri Plampang dengan kecepatan 20 km per jam atau lebih rendah dari kecepatan rata-rata selama ini yang mencapai 23 km per jam. Di jalur ini, cuaca masih panas ditambah lagi dengan dorongan angin dari samping kiri dan kanan. Seorang anggota tim terpaksa dievakuasi karena cidera, tetapi kembali bergabung setelah makan siang.
Pada pukul 12.00, tim pun beristirahat di Balai Pertemuan warga, Desa Muer, Kecamatan Plampang, untuk makan siang sekaligus shalat Jumat di Masjid Desa Muer. Sekitar pukul 14.00, tim kembali melanjutkan perjalanan ke Pidang. Suhu sudah meningkat menjadi 46 derajat celsius. Embusan angin pun tetap tinggi. Kerja tim jelajah kian berat karena jalur yang dilalui sebagian masih diperbaiki. Di jalur ini, masih terdapat kerikil dan batu-batu sebesar kepalan tangan di tengah jalan.
Tim bergerak dalam kecepatan konstan 20 km per jam, tetapi beberapa anggota tim sebagian tercecer di belakang. Seusai istirahat keempat, peserta kembali menghadapi tanjakan dan turunan. Suhu udara mulai turun menjadi 32 derajat celsius. Rombongan pun akhirnya sampai di Pidang, sekitar pukul 17.00.
Marta Murfreni Road Captain Tim Kompas Jelajah Sepeda Bali-Komodo mengatakan, tim sudah terlihat kelelahan karena itu mereka perlu berhenti sebentar untuk beristirahat. Menurut Marta, jalur Sumbawa merupakan jalur tersulit yang pernah ditempuh tim penjelajah sepeda Kompas selama empat kali ekspedisi tur sepeda.
”Ketinggian tanjakan hanya 170 meter di atas permukaan laut. Namun, cuaca yang panas, angin kencang, dan jalan rusak memberatkan sepeda. Ini jauh lebih berat dibandingkan dengan jalur Surabaya-Jakarta, Anyer- Panarukan, ataupun Jakarta-Palembang,” kata Marta.
Pada Kamis malam lalu, tim jelajah menginap di sebuah lahan di tepi pantai Desa Empang Kecamatan Pidang. Mereka disambut dengan organ tunggal dan ikan bakar yang disiapkan oleh Korem 162 Wira Bhakti dan Kodim 1607 Sumbawa.
Komandan Rayon Militer 1607 021 Empang Kapten Infanteri Mulyanto mengatakan, lapangan dan tenda disiapkan prajurit bersama dengan warga Empang. Selama seminggu penuh mereka bekerja membersihkan lapangan. Peserta menikmati ikan segar panggang yang disajikan.
”Menginap di tenda ini, kami benar-benar menemukan makna jelajah dan petualangan sesungguhnya. Ini sangat menarik,” ujar Djoko Eddy S, peserta asal Tangerang.