JAKARTA, KOMPAS.com -- Ibu Asimah (Jajang C Noer) bingung ketika mendapat kabar bahwa Aini, putrinya yang pergi dari rumah, bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII).
"Apa itu NII?" katanya kepada orang di seberang telepon.
Sementara itu Jabir yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya di pondok pesantren, memutuskan bergabung dengan NII demi memberi "syafaat" bagi ibunya.
Ada juga Rima, yang kehidupannya bersinggungan dengan NII. Rima sempat menjadi perekrut anggota baru NII dan merupakan salah satu anggota terbaik karena mampu mendapat banyak dana dalam waktu yang relatif singkat.
Masalah ekonomi, ketidakharmonisan keluarga, dan pencarian identitas diri menjadi motif bagi masing-masing tokoh dari tiga cerita yang terjalin menjadi satu untuk bergabung dengan NII.
"Aku masuk NII karena kupikir ada negara yang mampu memuliakan perempuan," kata Rima.
Dalam film yang berdasarkan hasil riset Maarif Institute ini, sutradara Garin Nugroho memaparkan bagaimana proses perekrutan anggota baru organisasi tersebut.
Ia memulai film dengan adegan seorang gadis dengan mata tertutup kain hitam, diminta oleh perekrut untuk mengucap "bismillahirrahmanirrahim".
Setelah itu, pada pertengahan film, mereka dibawa ke sebuah ruang pertemuan, pemimpin organisasi menjelaskan tujuan organisasi tersebut. "Kita akan membangun masyarakat madaniah yang berdasarkan syariah Islam," kata si pemimpin dalam salah satu pertemuan.
Para anggota baru juga diminta untuk melaksanakan "baiat", janji untuk taat. Dalam salah satu adegan, terlihat seorang anggota memasukkan seuntai kalung emas untuk diserahkan kepada organisasi.
Film ini juga melukiskan proses perubahan Jabir yang kemudian memutuskan untuk menjadi pelaku pemboman.
Propaganda anti-radikalisme
"Seharusnya film ini ditonton banyak orang karena sangat sulit menerangkan apa yang disebut aspek ruang sosial, psikologis, yang membuat teman-teman itu menjadi teroris," kata Garin saat pemutaran dan diskusi film di Universitas Indonesia, Jumat (21/9/2012).
Ia menargetkan usia sekolah menengah pertama hingga dewasa sebagai penontonnya. "Untuk SMP, ada bimbingan. Untuk SMA berbeda dan untuk universitas lebih kepada dialog terbuka," jelasnya.
"Memang film ini jadi civic education untuk melakukan gerakan anti-radikalisme. Ini propaganda untuk mengatakan anti-radikalisme," jelasnya.
Garin memilih penonton usia tersebut karena menurut dia radikalisme sudah tumbuh di berbagai sekolah dan universitas. "Ini semacam kamikaze bangsa," tuturnya.
Ia mengatakan radikalisme dapat menyusup dari keadaan paling lemah di sekitar kita. Garin mencontohkan saat Rima, yang menjadi perekrut anggota baru NII, bisa merekrut dua orang yang merasa kesal karena diturunkan dari bus meski belum sampai tujuan.
Dalam adegan itu, Rima memertanyakan kepada dua orang calon anggota itu tentang apa yang dilakukan pemerintah sehingga rakyat mengalami keadaan seperti itu.
"Film ini mengajak kita menggali kembali bahwa di ruang publik rentan radikalisme yang menyusup dengan berbagai cara, tidak peduli terdidik atau tidak terdidik, miskin atau kaya," katanya.
Hasil riset
Garin mengatakan film ini merupakan hasil riset Maarif Institute. Tokoh dan skenario ditampilkan berdasarkan hasil riset itu.
"Riset itu kami lihat tokoh A kehidupannya seperti ini. Saya tugasnya merekonstruksi peristiwa-peristiwa itu menjadi sebuah kehidupan," tutur Garin.
Manajer Program Islam dan Media Maarif Institute Khelmy K Pribadi bahkan mengatakan film itu tidak ada skenario. "Jadi kalau ada yang mau buat skripsi tentang film ini, silakan dilihat kemudian ditranskrip," katanya.
Garin juga mengatakan dia memilih bintang yang belum banyak jam terbang demi kesesuaian dengan karakter yang dituntut dalam film berdurasi 90 menit itu. "Kalau yang lain kan terlalu ganteng dan cantik. Nggak cocok dengan film ini," jelasnya.
Garin juga membangun ruang sosial, bahasa tubuh, dan situasi yang sesuai dengan tokoh-tokoh tersebut.
Ia membandingkan pelaku terorisme di film ini dengan versi Hollywood, yang menurutnya berbadan besar dan mengadakan rapat "yang seram".
"Kalau di Indonesia, ya, seperti ini wajahnya culun-culun. Identifikasi tokoh juga disesuaikan dengan pelaku itu sendiri yang bisa kita lihat di koran-koran," jelasnya.
Ia menambahkan dalam membuat film ini, persoalan terletak pada keberanian untuk mengatakan dan menyatakan agama bukan suatu karakter yang pemarah. "Agama seharusnya karakter yang mencintai," katanya.
"Kenapa kita tidak mengatakan 'tidak' pada radikalisme mulai sekarang?" katanya.