Uji kompetensi

Guru Bingung karena Diminta Ujian Lagi

Kompas.com - 26/09/2012, 14:54 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -- Guru-guru merasa bingung karena permintaan uji kompetensi yang tak kunjung selesai. Baru saja usai uji kompetensi guru (UKG) gelombang pertama, guru-guru diminta ikut uji kompetensi soal evaluasi.

"Baru selesai UKG, ada lagi panggilan ujian untuk guru. Kenapa guru-guru sekarang dibebani banyak ujian. Apakah UKG tidak cukup," kata Iwan Hermawan, Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia (FGII), Rabu (26/9/2012) di Jakarta.

Iwan mencontohkan, sejumlah guru-guru SMA di Kota Bandung, Jawa Barat, pada pekan ini menerima panggilan ujian. Para guru diminta ikut ujian pemetaan evaluasi pada Kamis(27/9/2012).

Berdasarkan surat panggilan yang diterima guru, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membutuhkan pemetaan kompetensi guru pendidik tentang kemampuan guru dalam bidang penilaian hasil belajar. Ujian dilaksanakan secara offline.

Dalam suratnya, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji menjelaskan, kegiatan ujian berdasarkan permintaan Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Pengembangan dan Penelitian, Kemendikbud.

"Para guru dibuat bingung, ada ujian ini, ada ujian itu. Padahal yang dipanggil baru ikut UKG. Apakah ini akal-akalan Kemendikbud untuk menghabiskan anggaran? Ini menunjukkan tidak adanya perencanaan yang baik dalam mengevaluasi guru," tutur Iwan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau