Politik

Yudhoyono Diminta Siapkan Calon Presiden

Kompas.com - 03/10/2012, 10:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia angkatan tahun 1970 menyarankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menyiapkan calon pemimpin yang akan menggantikannya pada 2014.

Hal itu disampaikan Jenderal (Purn) Luhut Binsar Panjaitan saat mewakili alumni Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1970 pada peluncuran buku Mengawali Integrasi, Mengusung Reformasi, Selasa (2/10/2012) malam di Jakarta.

”Kalau boleh kami memberi saran, Bapak Presiden menyiapkan pemimpin ke depan,” kata Luhut.

Hadir dalam peluncuran buku itu antara lain mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Sejumlah alumnus Akabri tahun 1970 yang hadir, antara lain, adalah Jenderal (Purn) Subagyo HS, Jenderal (Purn) Fachrul Razi, Jenderal (Purn) Tyasno Sudarto, Jenderal (Purn Pol) Suroyo Bimantoro, Laksamana (Purn) Bernard Kent Sondakh, dan Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo.

”Kami juga memberi saran, Presiden harus mengingatkan pemilih. Pemimpin ke depan harus bersih, punya track record baik. Pemimpin yang merakyat, tetapi mampu berkomunikasi dengan baik kepada rakyat dan tidak sombong,” tutur Luhut.

Di awal sambutannya, Luhut memuji sejumlah prestasi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono.

Tradisi politik yang baik

Dalam sambutannya, Presiden Yudhoyono yang alumnus Akabri 1973 berpesan agar alumni Akabri yang masuk partai politik untuk ikut menyebarkan tradisi politik yang baik, sehat, dan menjauhi kompetisi politik yang tidak sehat. ”Apa pun posisi politiknya, tetap memegang Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.

Presiden juga mengajak alumni Akabri untuk melanjutkan reformasi dan transformasi di Indonesia. ”Reformasi haruslah punya arah jelas, dilaksanakan secara konseptual, proses yang gradual, dan dikelola dengan baik. Banyak negara berhasil menjalankan reformasi. Demikian juga reformasi Tiongkok hingga menjadi Tiongkok seperti sekarang ini. Bagi yang bergerak di bidang bisnis, banyak yang sukses dalam hal ini. Semoga yang nanti memimpin 2014 bisa lebih berhasil,” ujar Yudhoyono.

Agus Widjojo yang menjadi pengarah penyusunan buku tersebut menyatakan, penulisan buku ini bukan dipersiapkan untuk menghadapi Pemilu 2014.

Buku ini memaparkan kiprah sejumlah alumnus Akabri lulusan 1970 mulai dari mereka menjalani penugasan sebagai perwira muda hingga setelah purnawirawan dan menduduki posisi-posisi penting pada era Reformasi.

Di era Reformasi, sejumlah alumnus menduduki posisi penting di TNI dan kepolisian. Mereka, antara lain, adalah Fachrul Razi, Johny Lumintang, Subagyo HS, Agus Widjojo, dan Bimantoro. Setelah purnawirawan, beberapa di antara lulusan itu juga menduduki posisi penting, antara lain Taufiequrachman Ruki dan Bibit Samad Rianto yang menjadi pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sementara itu, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, diselenggarakan silaturahim generasi penerus TNI dengan para tokoh nasional, Senin (1/10/2012).

Sejumlah tokoh nasional yang diundang sebagai pembicara antara lain Jenderal (Purn) TNI Wijoyo Suyono, mantan Menhan Juwono Sudarsono, dan mantan Wapres Try Sutrisno. Hadir Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro yang membuka sekaligus menjadi pembicara utama. (WHY/JL/LOK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau