Pencurian minyak

Pipa Meledak, 5 Tewas

Kompas.com - 04/10/2012, 01:57 WIB

Musi Banyuasin, Kompas - Lima orang tewas dan 20 orang menderita luka bakar serius dalam kebakaran yang terjadi di lahan jalur pipa PT Elnusa, Kilometer 219,300, di Desa Srimaju, Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Rabu (3/10). Ledakan itu terjadi di lahan tempat penampungan minyak mentah yang diduga dicuri dengan cara melubangi pipa atau hot tapping.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 05.30 dan baru padam sekitar pukul 12.00. Kebakaran juga meluas hingga menghanguskan sekitar 1 hektar kebun karet. Hingga Rabu sore, petugas PT Elnusa masih membersihkan sisa minyak mentah yang masih menggenang.

Di tengah lahan yang terbakar itu terlihat sumur-sumur yang diduga sebagai tempat menampung minyak mentah hasil pencurian. Korban ditemukan di sekitar sumur-sumur itu.

Irdawati (35), warga yang tinggal sekitar 50 meter dari lokasi, mengatakan, kebakaran dimulai dengan suara ledakan keras. Api langsung membesar dan menyambar pepohonan. Api membubung setinggi 6 meter.

Empat korban tewas, yang dilaporkan di Musi Banyuasin, diketahui bernama Ahmad (11), Kartini (23), Egi (19), dan Heru (12). Kondisi korban tewas tak bisa dikenali lagi karena hangus. Korban luka dirawat di rumah sakit di Bayung Lencir, di Sekayu, dan di Jambi. Rata-rata korban luka menderita luka bakar parah lebih dari 30 persen.

Dari Jambi dilaporkan, korban ledakan di jalur pipa minyak itu dirawat di RS Bratanata dan Mayang Medical Center (MMC) Jambi, yang lebih dekat dengan lokasi kejadian. Namun, seorang korban yang dilarikan ke MMC Jambi, Agus (25), akhirnya tewas. Jenazah Agus langsung dibawa ke Musi Banyuasin.

Mariani, kakak almarhum Agus, mengetahui adiknya tewas setelah mendapatkan informasi dari tetangga. Mariani mengakui, lokasi kebakaran jalur pipa minyak itu terletak sekitar 2 kilometer dari rumahnya. Korban ikut mengambil minyak mentah di jalur pipa itu untuk dijual kembali.

Warga Desa Srimaju

Menurut Kepala Polres Musi Banyuasin Ajun Komisaris Besar Toto Wibowo, semua korban adalah warga Desa Srimaju. Saat kejadian, korban diduga sedang mengambil minyak mentah di sumur-sumur penampungan. ”Kami menemukan klep yang menjadi bukti adanya hot tapping. Pemicu kebakaran itu masih diselidiki. Bisa jadi rokok atau korek api,” ujarnya.

Menurut Toto, selain asal api, penyelidikan dilakukan untuk menemukan pelaku pelubangan pipa. Pencurian minyak mentah di kawasan itu meningkat selama beberapa waktu terakhir. Pada bulan September ini saja, Polres Musi Banyuasin menangkap 12 pelaku pencurian minyak mentah dari lima jaringan.

Manajer Humas PT Pertamina EP Agus Amperianto mengatakan, akibat kebakaran ini, distribusi minyak mentah dari Tempino di Jambi ke pengilangan di Plaju, Sumsel, terhenti sekitar 12 jam. Jalur itu menyalurkan 10.000-12.000 barrel minyak mentah per hari. Menurut Agus, peristiwa itu belum mengganggu pasokan bahan bakar di Sumsel. Pengolahan minyak jadi telah mempunyai cadangan untuk beberapa hari ke depan.

Lokasi kebakaran telah lama diidentifikasi PT Pertamina EP sebagai salah satu titik pencurian minyak mentah. Jalur pipa Tempino hingga Sungai Lilin sepanjang sekitar 170 kilometer banyak dilubangi dengan jarak sekitar 50 meter. Kerugian akibat pencurian minyak mentah di jalur ini diperkirakan Rp 5 miliar per hari atau sekitar Rp 200 miliar sejak tahun 2011.

Dari Batam, Kepulauan Riau, dilaporkan, empat perusahaan di provinsi itu diduga terlibat mafia penyalur solar ke petambang di Pulau Bintan. Kepala Polda Kepri Brigadir Jenderal (Pol) Yotje Mende mengatakan, polisi masih menyelidiki dugaan itu.

(IRE/ITA/RAZ/EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau