Pemerintah Turki meminta parlemen memberikan izin untuk mengerahkan kekuatan guna menghadapi Suriah setiap saat. Turki sudah mengerahkan pasukan di wilayah perbatasan dengan Suriah sepanjang 900 kilometer.
Pihak Suriah menyatakan penyesalan atas serangan hari Rabu oleh pasukan mereka ke wilayah Turki. Menteri Penerangan Suriah Omran Zoabi mengatakan, negaranya menghormati kedaulatan Turki dan menegaskan tak akan
Serangan mortir dari Suriah ke Akcakale menewaskan seorang ibu beserta tiga anaknya dan satu orang dewasa. Serangan itu juga merusak beberapa bangunan di Akcakale serta mencederai 10 warga Turki lainnya.
Kini warga Akcakale mengungsi ke wilayah yang lebih aman di Turki. ”Kami harus mengungsi ke rumah saudara-saudara di wilayah yang lebih aman,” kata Hadi Celik (42), seorang penjaga toko dan bapak dari seorang anak berusia lima tahun.
Turki membalas dengan membombardir sebuah pos militer di dekat kota Tel Abdyad, Suriah. Kota ini tidak jauh dari Akcakale yang terletak di wilayah perbatasan kedua negara.
Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) mengatakan, sejumlah tentara Suriah meninggal akibat serangan itu. Turki melakukan dua kali serangan pada hari Rabu.
Tidak jelas, mengapa pasukan Suriah menyerang Turki. Namun, dalam 18 bulan terakhir, selama pemberontakan terjadi di Suriah, sekitar 90.000 warga Suriah mengungsi ke wilayah Turki. Selama periode itu lebih dari 30.000 warga Suriah dilaporkan tewas akibat konflik tersebut.
Menteri Penerangan Suriah mengimbau Turki mengontrol ketat perbatasan sehingga tidak dipakai para ”militan” untuk memasuki Suriah. Pemerintah Suriah selama ini selalu menjuluki pasukan oposisi sebagai ”militan”. Suriah curiga bahwa Turki bersikap kondusif terhadap warga yang melawan Pemerintah Suriah.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang sedang berkunjung ke Pakistan, Kamis, menegaskan, ”Saya menjamin Suriah tidak akan melakukan kesalahan serupa.” Lavrov meminta Turki menahan diri seraya meminta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak menjadikan insiden itu sebagai alasan untuk mengeroyok Suriah.
Sebagai anggota NATO, Turki berhak mendapatkan perlindungan. Setiap serangan terhadap wilayah anggota otomatis dianggap sebagai serangan terhadap seluruh NATO. Para petinggi NATO langsung bertemu di markas besar aliansi itu di Brussels, Belgia, Kamis, dan menegaskan dukungan.
Menlu Inggris William Hague menyatakan, tindakan balasan Turki atas serangan Suriah bisa dipahami. Namun, Hague menolak jika ketegangan berkembang menjadi eskalasi yang lebih panas.
Kepala Komisi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton juga meminta Suriah menghargai kedaulatan tetangga.
Kanselir Jerman Angela Merkel, seusai pertemuan dengan Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi di Berlin, mengecam serangan Suriah. Namun, Merkel juga mengingatkan Turki untuk lebih menahan diri.
Turki terkesan sangat geram dengan serangan itu. Pada Juni lalu, Suriah menembak jatuh sebuah pesawat jet Turki dengan alasan melanggar perbatasan. Sejak saat itu, Turki menambah pasukan dan armada militer di sepanjang perbatasan.
Wakil Perdana Menteri Turki Besir Atalay mengatakan, Turki akan menggalang kekuatan internasional untuk membalas serangan. Rusia melihat gelagat ini. Sebab itu, Menlu Rusia meminta Turki serta NATO menahan diri.
Beberapa pihak di Turki memperlihatkan sikap geram. Ada sekitar 30 demonstran yang mendatangi parlemen Turki di Ankara. Mereka menyerukan sikap damai dan menyatakan Suriah adalah saudara Turki. Namun, secara keseluruhan suhu politik menunjukkan sikap berang.
Pemerintah Turki mengatakan, aksi agresi Suriah telah berkembang menjadi ancaman serius. ”Turki tidak berniat berperang dengan Suriah. Namun, Turki mampu melakukan perlindungan terhadap wilayahnya dan bila perlu melakukan pembalasan,” kata Ibrahim Kalin, penasihat senior bagi Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan lewat akun Twitter.
Pada hari Kamis, Turki mendapat mandat dari parlemen untuk melakukan serangan unilateral terhadap Suriah. Dengan demikian, Turki bisa melakukan serangan tanpa harus meminta izin dari sekutunya di Barat dan Timur Tengah. Mandat itu sebelumnya diberikan kepada Pemerintah Turki untuk menyerang wilayah Kurdi. Mandat ini kini diberikan untuk menyerang Suriah.
Meski demikian, para pengamat mengatakan, ketegangan ini tidak akan berkembang menjadi eskalasi yang menakutkan. Setidaknya sekutu NATO juga tidak ingin melihat insiden itu berkembang lebih lanjut.
Nadim Shehadi, dari lembaga pemikir Chatham House, di
Michael Codner, analis dari Royal United Services Institute, di London, juga mengatakan hal serupa. Menurut dia, Turki berhak mendapatkan dukungan
”Akan tetapi, aplikasi pasal itu hanya akan terbatas,” kata