Balasan Turki Lebih Gencar

Kompas.com - 05/10/2012, 01:41 WIB

Akcakale, Kamis - Turki dua kali melakukan serangan militer ke wilayah Suriah, Kamis (4/10). Serangan itu menewaskan sejumlah tentara dan beberapa warga sipil Suriah. Ini merupakan balasan atas serangan mortir Suriah sehari sebelumnya, yang menewaskan lima warga Turki di kota Akcakale.

Pemerintah Turki meminta parlemen memberikan izin untuk mengerahkan kekuatan guna menghadapi Suriah setiap saat. Turki sudah mengerahkan pasukan di wilayah perbatasan dengan Suriah sepanjang 900 kilometer.

Pihak Suriah menyatakan penyesalan atas serangan hari Rabu oleh pasukan mereka ke wilayah Turki. Menteri Penerangan Suriah Omran Zoabi mengatakan, negaranya menghormati kedaulatan Turki dan menegaskan tak akan mengulangi kesalahan serupa.

Serangan mortir dari Suriah ke Akcakale menewaskan seorang ibu beserta tiga anaknya dan satu orang dewasa. Serangan itu juga merusak beberapa bangunan di Akcakale serta mencederai 10 warga Turki lainnya.

Kini warga Akcakale mengungsi ke wilayah yang lebih aman di Turki. ”Kami harus mengungsi ke rumah saudara-saudara di wilayah yang lebih aman,” kata Hadi Celik (42), seorang penjaga toko dan bapak dari seorang anak berusia lima tahun.

Turki membalas dengan membombardir sebuah pos militer di dekat kota Tel Abdyad, Suriah. Kota ini tidak jauh dari Akcakale yang terletak di wilayah perbatasan kedua negara.

Organisasi Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) mengatakan, sejumlah tentara Suriah meninggal akibat serangan itu. Turki melakukan dua kali serangan pada hari Rabu.

Tidak jelas, mengapa pasukan Suriah menyerang Turki. Namun, dalam 18 bulan terakhir, selama pemberontakan terjadi di Suriah, sekitar 90.000 warga Suriah mengungsi ke wilayah Turki. Selama periode itu lebih dari 30.000 warga Suriah dilaporkan tewas akibat konflik tersebut.

Menteri Penerangan Suriah mengimbau Turki mengontrol ketat perbatasan sehingga tidak dipakai para ”militan” untuk memasuki Suriah. Pemerintah Suriah selama ini selalu menjuluki pasukan oposisi sebagai ”militan”. Suriah curiga bahwa Turki bersikap kondusif terhadap warga yang melawan Pemerintah Suriah.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov yang sedang berkunjung ke Pakistan, Kamis, menegaskan, ”Saya menjamin Suriah tidak akan melakukan kesalahan serupa.” Lavrov meminta Turki menahan diri seraya meminta Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tidak menjadikan insiden itu sebagai alasan untuk mengeroyok Suriah.

Sebagai anggota NATO, Turki berhak mendapatkan perlindungan. Setiap serangan terhadap wilayah anggota otomatis dianggap sebagai serangan terhadap seluruh NATO. Para petinggi NATO langsung bertemu di markas besar aliansi itu di Brussels, Belgia, Kamis, dan menegaskan dukungan.

Menlu Inggris William Hague menyatakan, tindakan balasan Turki atas serangan Suriah bisa dipahami. Namun, Hague menolak jika ketegangan berkembang menjadi eskalasi yang lebih panas.

Kepala Komisi Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton juga meminta Suriah menghargai kedaulatan tetangga.

Kanselir Jerman Angela Merkel, seusai pertemuan dengan Presiden Yaman Abdrabuh Mansur Hadi di Berlin, mengecam serangan Suriah. Namun, Merkel juga mengingatkan Turki untuk lebih menahan diri.

Panas

Turki terkesan sangat geram dengan serangan itu. Pada Juni lalu, Suriah menembak jatuh sebuah pesawat jet Turki dengan alasan melanggar perbatasan. Sejak saat itu, Turki menambah pasukan dan armada militer di sepanjang perbatasan.

Wakil Perdana Menteri Turki Besir Atalay mengatakan, Turki akan menggalang kekuatan internasional untuk membalas serangan. Rusia melihat gelagat ini. Sebab itu, Menlu Rusia meminta Turki serta NATO menahan diri.

Beberapa pihak di Turki memperlihatkan sikap geram. Ada sekitar 30 demonstran yang mendatangi parlemen Turki di Ankara. Mereka menyerukan sikap damai dan menyatakan Suriah adalah saudara Turki. Namun, secara keseluruhan suhu politik menunjukkan sikap berang.

Pemerintah Turki mengatakan, aksi agresi Suriah telah berkembang menjadi ancaman serius. ”Turki tidak berniat berperang dengan Suriah. Namun, Turki mampu melakukan perlindungan terhadap wilayahnya dan bila perlu melakukan pembalasan,” kata Ibrahim Kalin, penasihat senior bagi Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan lewat akun Twitter.

Pada hari Kamis, Turki mendapat mandat dari parlemen untuk melakukan serangan unilateral terhadap Suriah. Dengan demikian, Turki bisa melakukan serangan tanpa harus meminta izin dari sekutunya di Barat dan Timur Tengah. Mandat itu sebelumnya diberikan kepada Pemerintah Turki untuk menyerang wilayah Kurdi. Mandat ini kini diberikan untuk menyerang Suriah.

Tak akan berkembang

Meski demikian, para pengamat mengatakan, ketegangan ini tidak akan berkembang menjadi eskalasi yang menakutkan. Setidaknya sekutu NATO juga tidak ingin melihat insiden itu berkembang lebih lanjut.

Nadim Shehadi, dari lembaga pemikir Chatham House, di London, mengatakan, AS dan NATO dipastikan tidak ingin kasus ini berkembang lebih buruk. Dunia masih dihadapkan pada isu Irak, Afganistan, dan Libya yang labil. Pemilu Presiden AS pada 6 November jelas membuat AS tak berniat memperburuk eskalasi.

Michael Codner, analis dari Royal United Services Institute, di London, juga mengatakan hal serupa. Menurut dia, Turki berhak mendapatkan dukungan NATO seperti yang tercantum dalam Pasal Lima Traktat NATO.

”Akan tetapi, aplikasi pasal itu hanya akan terbatas,” kata Codner. Turki paling-paling hanya akan mendapat dukungan pengerahan senjata di kawasan.

(REUTERS/AP/AFP/MON)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau