Itulah sensasi Malaga, klub Liga Spanyol yang awal musim ini sempat limbung, kesulitan membayar gaji pemain hingga beberapa bintangnya memilih hengkang, dan dirumorkan akan dijual pemiliknya, Sheikh Abdullah bin Nassar al-Thani dari Qatar.
Tandang ke Anderlecht di Stadion Constant Vanden Stock, Brussels, Belgia, tim asuhan Manuel Pellegrini itu memetik kemenangan meyakinkan lewat dua gol sensasional Eliseu menjelang turun minum dan menit ke-64 plus gol penalti Joaquín.
Itu kemenangan kedua Malaga dalam musim debut mereka di Liga Champions. Dua pekan lalu di kandang, mereka menghajar juara Liga Rusia, Zenit St Petersburg, dengan skor sama, 3-0.
Malaga memimpin klasemen sementara Grup C dengan skor sempurna, yakni enam poin, dan belum kemasukan gol. Mereka mengungguli juara Eropa tujuh kali, AC Milan, yang menang 3-2 di kandang Zenit berkat gol bunuh diri bek Tomáš Hubocan.
Hingga laga kedua, beberapa tim lain yang mencatat enam poin adalah Porto (Grup A), Arsenal (B), Real Madrid (D), BATE Borisov (F), Barcelona (G), dan Manchester United (H).
Porto memukul Paris St Germain, 1-0, lewat gol James Rodríguez pada menit ke-83. Arsenal melibas Olympiacos, 3-1, berkat Gervinho (42’), Lukas
Podolski (56’), dan Aaron Ramsey (90’+4’). Madrid melindas Ajax lewat hattrick Cristiano Ronaldo (42’, 79’, 81’) dan Karim Benzema (48’). BATE, Barca, dan MU memetik kemenangan kedua, Selasa lalu.
Namun, dibandingkan tim-tim peraih enam poin lain, Malaga paling menawan. Produktivitas mereka dalam mencetak enam gol diimbangi kokohnya lini pertahanan yang belum kebobolan. Porto juga belum kebobolan gol, tetapi baru mengoleksi tiga gol.
”Ini bukan hasil sulap. Ini hasil kerja keras, kompromi, dan didukung suporter kami,” kata Pellegrini. ”Kami mempertahankan pendekatan yang bagus malam ini. Kami berada di level cukup tinggi sebagai tim, bermain kolektif, bukan bermain individual.”
Dari permainan yang mereka perlihatkan saat melibas Anderlecht, pemain Malaga tidak hanya bagus secara kolektif. Skill individu pemain mereka juga mantap. Dua gol Eliseu, gelandang asal Portugal, berbicara tentang kepiawaian tersebut.
Gol pertamanya saat injury time babak pertama dia ceploskan dengan tendangan kaki kiri dari jarak 20 meter. Gol keduanya, menit ke-64, sangat artistik. Begitu mendapat umpan terobosan dan tinggal berhadapan dengan kiper, dia mencungkil bola dengan kaki kiri, menghasilkan bola melengkung dan bergulir perlahan menembus gawang.
”Enam poin dari enam laga itu signifikan, tetapi ini belum pasti karena secepat Anda mengoleksi poin di penyisihan grup, secepat itu pula Anda bisa kehilangan poin,” kata Pellegrini.
Benar, terlalu prematur menyimpulkan dua penampilan sebagai sebuah sukses. Laga kandang lawan AC Milan, 24 Oktober mendatang, bisa jadi tolok ukur sesungguhnya. Namun, dua laga itu plus penampilan impresif dengan menempati urutan ketiga klasemen Liga Spanyol di bawah Barcelona dan Real Madrid menjadi sinyal berakhirnya krisis di Malaga.